DUNIA SEBELUM KITA (XIII)



Mereka yang Muncul Tanpa Nama

Pagi berikutnya, kabut turun lebih tebal dari biasanya. Tanah terasa dingin, seperti baru melewati malam yang tidak sepenuhnya milik dunia manusia. Anaru bangun paling awal. Sesuatu memanggilnya — bukan suara, bukan bayangan, tetapi rasa yang menuntun langkahnya menuju lembah.

Di sana, di antara pepohonan muda, ia melihat jejak. Bukan jejak hewan. Bukan telapak manusia modern yang hidup bersamanya. Jejak itu lebih sempit, namun langkahnya panjang. Telapak itu seolah menyatu dengan tanah, tidak meninggalkan tekanan berat, namun jelas — seperti makhluk yang berjalan ringan, atau… tidak sepenuhnya terikat pada tanah.

Anaru menyentuh jejak itu. Hangat.

Tana menyusul dengan cepat, napasnya sedikit memburu. “Aku juga merasakannya,” katanya lirih. “Ada sesuatu yang bergerak di sekitar pemukiman.”

“Bukan hewan,” bisik Anaru.

“Bukan angin,” tambah Tana.

Keduanya bergerak perlahan menyusuri jejak, hingga berhenti ketika mendengar suara dari balik semak — seperti gemerisik lembut, disusul denting halus, mirip suara logam tipis yang disentuh bintang.

Lalu mereka muncul.

Bukan rombongan. Hanya dua sosok. Wujud mereka samar, seolah tubuh mereka terbentuk dari kabut dan cahaya tipis. Mata mereka bukan hitam atau putih; lebih mirip pantulan air saat menampung matahari pertama.

Mereka tidak berjalan. Mereka muncul, dan ketika bergerak, tanah tidak bergetar sama sekali.

Tana menarik napas dalam. “Apakah ini… sisa dari mereka?”

Anaru tidak menjawab. Ia memandang sosok-sosok itu dengan sesuatu antara hormat dan kewaspadaan.

Makhluk itu tidak mengucapkan kata. Tapi di dalam kepala mereka, suara lembut terdengar — bukan kata-kata, tapi makna:

Mengapa kalian menulis?

Anaru berdiri tegak. “Agar ingatan tidak hilang.”

Makhluk itu bergerak sedikit — tidak mendekat, tidak menjauh. Cahaya tubuhnya berdenyut pelan.

Ingat untuk siapa? Untuk kalian? Atau untuk bumi?

Tana ingin menjawab, tapi suaranya hilang di tenggorokan. Anaru menatap mereka, tidak mundur.

“Untuk keduanya.”

Keheningan panjang. Hanya dedaunan yang bergerak tanpa angin.

Makhluk itu kemudian memancarkan cahaya lebih lembut, seperti persetujuan tanpa kata. Lalu perlahan memudar, kembali menjadi kabut yang jatuh ke tanah, hingga hilang seperti embun pagi yang disentuh matahari.

Tana menelan kaku. “Mereka… tidak mengancam.”

“Tidak hari ini,” jawab Anaru pelan. “Mereka datang untuk melihat. Dunia ingin tahu apa yang akan manusia lakukan dengan ingatan yang diberi.”

Tana menatap jejak yang perlahan memudar. “Dan jika kita salah?”

Anaru memejamkan mata. “Maka mereka akan kembali — bukan sebagai saksi.”

Hari itu, mereka pulang ke pemukiman dengan langkah berat. Bukan karena takut, tetapi karena sadar:

Masa depan bukan hanya milik manusia — tetapi juga milik mereka yang mengawasi diam-diam, dari pinggir cahaya.


back ---------- next 

Posting Komentar

0 Komentar