DUNIA SEBELUM KITA (XII)



Di Antara Hening dan Tanda

Waktu berjalan seperti sungai yang kehilangan nama — tidak tergesa, tidak pula menunggu. Hari-hari berlalu di dunia yang masih belajar bernapas kembali. Rumput memanjang, pohon-pohon baru menguat, dan sungai yang dahulu menjadi batas kehancuran kini menjadi jalan kehidupan.

Anaru semakin sering duduk di tepi bukit batu, meneliti guratan-guratan yang telah ia dan Tana buat. Tanda-tanda itu belum menjadi bahasa; mereka hanya bayangan makna, seperti doa yang belum selesai diucapkan.

Namun sunyi tidak selamanya ramah. Ada hening yang damai, dan ada hening yang menyembunyikan sesuatu.

Suatu pagi, Anaru merasakan udara berbeda — bukan dingin, bukan panas, tetapi seperti ruang yang menahan napas. Ia menatap langit. Burung-burung tidak terbang terlalu tinggi, seolah takut menyentuh awan. Angin berputar, membawa aroma batu basah dan… ingatan yang bukan miliknya.

Langkah pelan terdengar di belakangnya. Tana datang, membawa daun dan akar untuk makanan hari itu. “Anaru,” panggilnya pelan, “bukit ini semakin ramai saat malam.”

“Ramai oleh apa?” Anaru menoleh.

“Bukan manusia,” jawab Tana lirih. “Bukan juga hewan. Cahaya kecil-kecil kadang muncul di antara batu. Aku kira bintang jatuh, tapi tidak. Mereka bergerak pelan, seperti mencari sesuatu.”

Anaru tidak terkejut. “Dunia lama belum padam sepenuhnya.”

Tana menunduk, membolak-balik tanah dengan jarinya. “Aku pikir setelah banjir, setelah kita bangkit… semuanya akan bersih. Tenang.” Ia terdiam sejenak. “Tapi diam-diam, aku merasa ada yang mengawasi.”

Anaru mendekap lutut, memandangi cakrawala. “Yang diam tidak selalu mati. Yang tenggelam tidak selalu hilang.” Ia menatap simbol di batu — lingkaran dan garis-garis yang belum bercerita sepenuhnya. “Mungkin mereka tidak datang untuk mengganggu. Mungkin mereka hanya memastikan kita tidak melupakan.”

Tana menghembus pelan. “Tapi aku takut salah. Jika manusia suatu hari mengira mereka adalah tuan atas dunia, bukan penjaga…”

“Itu sebabnya kita menulis,” kata Anaru lembut. “Bukan untuk menyombongkan masa lalu, tapi mengikat kebijaksanaan agar tidak hilang.”

Mendadak, suara keras terdengar dari lembah depan: retak— seperti batu besar yang dipisah oleh kekuatan tak terlihat. Keduanya sontak berdiri, menatap ke arah suara.

Dari kejauhan, kabut tipis bergerak, dan angin membawa suara samar, hampir seperti bisikan berjuta jiwa dalam sekali hembus.

Tana menggenggam lengan Anaru. “Itu bukan suara bumi biasa.”

Anaru mengangguk pelan. “Itu suara pintu. Dunia lain mengetuk.”

Senja turun. Cahaya jingga merayap di antara batu. Dan ketika malam datang, bintang-bintang bersinar tidak seperti biasanya — lebih rapat, lebih dalam, seakan langit mendekat untuk melihat.

Di antara bayang-bayang, kilatan cahaya kecil melintas pelan, menari di udara, turun sebentar di dekat batu bertanda, lalu menghilang dalam denting halus yang nyaris tak terdengar.

Anaru meletakkan tangan di atas guratan batu. “Kita belum selesai,” bisiknya.

Tana berdiri tegap di sebelahnya, wajahnya campur antara kesiapan dan keraguan. “Kalau mereka datang kembali?”

“Kalau mereka datang,” jawab Anaru, “kita tidak akan melawan dengan api seperti dulu. Kita akan menjawab dengan ingatan.”

Lalu ia menoleh ke langit yang dipenuhi bintang:
“Karena cahaya tidak selalu untuk membakar. Kadang ia datang untuk mengingatkan.”

Malam itu, bukit tersebut tidak hanya menjadi tempat manusia menulis dunia — tetapi menjadi tempat dunia membalas tatapan manusia kembali.

Dan di antara hening itu, lahirlah satu perasaan baru yang akan menentukan perjalanan bangsa-bangsa kelak:

ketika manusia mulai sadar bahwa dunia bukan hanya tempat untuk dihuni, tetapi juga untuk diingat.


back ---------- next 

Posting Komentar

0 Komentar