DUNIA SEBELUM KITA (XI)



Bahasa yang Bangkit dari Debu

Angin pagi bergerak pelan di atas dataran yang mulai hijau kembali. Di kejauhan, pepohonan baru tumbuh seperti anak-anak yang belajar berdiri. Kabut tipis menari di antara bebatuan; tanah ini masih menyimpan gema masa lalu — gema perang langit, banjir besar, dan sumpah yang terucap dalam diam.

Anaru berjalan sendirian di tepi sungai panjang yang dulu menjadi batas air penghancur dunia. Di tangannya, ia membawa potongan batu pipih. Sejak hari itu di bawah batu tinggi, ia merasa ada sesuatu yang tak bisa diam dalam dirinya — sesuatu yang ingin mengikat waktu sebelum ia pergi. Sebuah dorongan, seakan bisikan cahaya lama: ingat, simpan, wujudkan.

Ia duduk di atas batu besar, menatap arus yang jernih. Air selalu bergerak; ingatan tidak. Maka ia mulai mengetuk batu pipih itu dengan batu lain, perlahan, hati-hati. Jejak pertama muncul — garis patah, belum pasti. Tapi tangannya tak berhenti. Ketukan itu seperti irama napas bumi.

“Untuk apa kau lakukan itu?” suara seseorang memecah sunyi.

Tana muncul dari balik semak, rambutnya kini lebih panjang, wajahnya lebih matang. Ada kekuatan baru dalam tatapannya — bukan hanya dari leluhur yang pernah bersatu dengan jiwanya, tetapi juga dari manusia yang tumbuh dengan beban sejarah di pundak.

Anaru tersenyum samar. “Agar yang datang setelah kita tidak berjalan dalam gelap.”

Tana mendekat, melihat bebatuan itu. “Tapi mereka punya ingatan. Dan cerita.”

“Cerita mudah hilang,” jawab Anaru. “Hujan menghapus jejak, angin menghapus suara. Tapi batu… bertahan.”

Ia mengetuk lagi. Tek. Tek. Tek. Lambat, tapi pasti, bentuk muncul: lingkaran, garis yang menghubungkan, titik yang berdiri sendiri. Simbol tentang dunia dulu dan dunia kini. Tentang pecahnya satu menjadi dua, lalu menyatu kembali dalam damai.

Tana duduk di sampingnya. “Rohag akan suka melihat ini.”

Anaru terdiam sebentar. “Dia sudah pergi ke jalan yang tidak kembali. Tapi ini… juga untuknya.”

Mereka diam beberapa saat, hanya ditemani arus sungai dan burung-burung yang mulai berani bernyanyi lagi.

“Aku kadang merasa,” kata Tana perlahan, “bahwa dunia lama belum sepenuhnya mati. Ada sesuatu yang mengintai di balik daun, di dalam batu, di titik cahaya di malam hari.”

“Itu bukan rasa,” jawab Anaru pelan. “Itu ingatan zaman.”

Tana menoleh. “Apakah kamu takut mereka akan kembali?”

Anaru menatap sungai, jauh, seolah melihat masa depan yang belum bernama. “Bukan takut. Tapi manusia mudah lupa. Dan ketika lupa, mereka mengulang.”

Tana menggenggam tanah, merasakannya. “Kalau begitu, kita tulis semuanya. Kita jadi awal. Agar mereka mampu jadi lebih baik.”

Anaru mengangguk. “Bahasa adalah jembatan.”

Tana tersenyum lembut. “Dan siapa yang akan membacanya kelak?”

“Siapa pun yang mendengar bisikan bumi,” jawab Anaru.

Hari berjalan, matahari naik, dan bayang-bayang memanjang. Mereka mengukir bersama — tidak mengukir kisah seorang pahlawan atau dewa, tapi kisah kesadaran: tentang keserakahan yang menghancurkan, air yang menelan, dan jiwa yang memilih bangkit. Tentang manusia yang bukan pertama, dan bukan terakhir.

Saat senja datang, Anaru berdiri, membersihkan tangannya. “Hari ini kita memberi dunia kata pertama,” katanya.

“Apa namanya?” tanya Tana.

Anaru menatap guratan pada batu: sebuah simbol yang berarti ingat cahaya awal. “Kita sebut ia… bahasa bumi.”

Tana menghela napas puas. “Mereka akan mengerti?”

“Tidak sekarang. Tapi suatu hari, ketika langit berubah lagi dan manusia bertanya dari mana mereka datang… mereka akan menemukan ini.”

Angin malam mulai turun. Dan di lereng bukit, dalam cahaya terakhir, terlihat dua bayangan duduk di depan batu-batu bertanda. Bukan raja, bukan nabi, bukan penguasa — hanya saksi pertama yang memilih menulis, bukan menghancurkan.

Dunia belum ramai. Peradaban belum lahir. Tapi di tempat sunyi itu, masa depan sudah mulai berbicara.

Mereka bangkit bersama, langkah perlahan menuju pemukiman. Di belakang mereka, dalam gelap yang lembut, batu-batu bersinar samar, seolah roh cahaya lama menyentuhnya — bukan sebagai tuan, tapi sebagai penjaga.

Dan di udara, seperti bisikan hampir hilang:
Ingat. Manusia tumbuh bukan karena kekuatan, tetapi karena ingatan.


back ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar