Warisan yang Tak Terlihat
Ribuan tahun telah berlalu sejak cahaya terakhir meninggalkan langit lama. Bumi kini tenang, tapi sunyi yang tersisa bukan kedamaian sejati — melainkan jeda antara masa lalu yang belum sepenuhnya mati dan masa depan yang masih mencari bentuknya.
Di bawah gunung yang pernah menjadi tempat roh-roh pertama bernafas, ada gua batu berlapis kristal. Di sanalah para Penjaga Sunyi — keturunan dari garis samar antara manusia baru dan roh lama — hidup tanpa banyak diketahui. Mereka tidak memiliki kota, tidak pula tulisan, namun dalam darah mereka tersimpan kenangan dunia yang hilang.
Salah satu dari mereka bernama Anaru, anak muda yang sering bermimpi tentang sesuatu yang tak bisa ia mengerti: cahaya berbentuk lingkaran yang memutar di langit, suara ribuan langkah menuju samudra, dan dua bayangan — satu membawa tongkat, satu membawa batu bercahaya.
Suatu malam, ia mendengar bisikan dari dalam gua:
"Kau adalah gema yang tersisa, Anaru. Dunia belum selesai menulis namanya."
Bisikan itu menuntunnya menuju batu tertua di dalam gua — batu yang berdenyut pelan seolah memiliki jantung. Saat tangannya menyentuhnya, sekejap semua kenangan yang tersembunyi mengalir: kisah Tana dan Rohag, banjir besar, runtuhnya kota langit, dan kelahiran manusia baru.
Tapi Anaru juga melihat sesuatu yang belum pernah dicatat oleh penjaga mana pun — seberkas cahaya kecil, melesat ke langit dan lenyap ke bintang-bintang. Seolah sebagian jiwa purba tak ikut tenggelam, tapi menunggu waktu untuk kembali.
Sejak saat itu, Anaru tak lagi sama. Ia mulai menggambar simbol di batu, menirukan bentuk cahaya dan gelombang air. Simbol itu menjadi bahasa pertama umatnya, lambang awal dari kebangkitan kesadaran baru.
Tak ada yang tahu bahwa lewat tangannya, roh dunia lama kembali berbicara — bukan untuk menguasai, tapi untuk mengingatkan.
Dan di langit malam yang pekat, dua bintang tampak menyala lebih terang dari lainnya. Sebagian orang menyebutnya Tana dan Rohag — sepasang nama yang perlahan menjadi mitos, tapi sesungguhnya, mereka hanyalah cahaya yang menunggu manusia kembali belajar mengenali dirinya sendiri.

0 Komentar