Batu yang Tertidur
Waktu menelan segalanya.
Tanah Sinar perlahan berubah menjadi kerajaan-kerajaan. Dari lembah itu, manusia menyebar ke seluruh arah, membawa bahasa yang bercabang, cerita yang terpotong, dan simbol yang kehilangan maknanya.
Nama Tana menjadi legenda. Nara menjadi dewi bumi. Rohag menjadi dewa api dan perang.
Batu Jiwa? Ia hilang.
Sebagian berkata batu itu pecah menjadi tujuh serpihan yang tersebar di bawah lautan. Sebagian lagi percaya, batu itu menenggelamkan dirinya sendiri agar manusia tidak lagi mencarinya.
Namun sesungguhnya, ia hanya tidur — jauh di bawah tanah, di dalam rongga bumi yang masih hangat oleh ingatan masa lalu.
Manusia terus berjalan tanpa tahu arah asalnya.
Mereka membangun kota-kota dari batu, menulis kitab suci tentang langit dan bumi, menciptakan logam, senjata, dan aturan.
Setiap peradaban tumbuh seperti ombak, lalu runtuh seperti pasir.
Mesir, Mesopotamia, Lembah Indus, hingga pulau-pulau di selatan yang kini disebut Nusantara — semuanya menyimpan bayangan samar tentang cahaya yang pernah ada.
Kadang, saat gunung meletus atau bumi berguncang, seberkas cahaya aneh muncul di celah bebatuan.
Para tetua suku yang hidup di hutan menyebutnya “napas bumi”, tanda bahwa dunia masih menyimpan roh lamanya.
Sementara para ilmuwan kerajaan menyebutnya fenomena langka, dan para pendeta menganggapnya kutukan dewa lama.
Tak ada yang benar-benar tahu. Tapi setiap kali cahaya itu muncul, sebagian manusia merasa gelisah.
Mereka bermimpi tentang kota di bawah laut, tentang langit yang menyala seperti kaca, dan tentang suara lembut yang berkata:
“Aku tidak hilang. Aku hanya menunggu kalian berhenti berperang.”
Batu Jiwa masih di sana — tidak lagi berbentuk batu, mungkin telah menjadi sesuatu yang lain: energi, ingatan, atau getaran dalam nadi manusia sendiri.
Dan dunia terus berputar.
Zaman berganti.
Manusia menatap bintang dan berkata: “Kita makhluk pertama.”
Sementara bumi, diam, hanya tersenyum. Ia tahu, semuanya pernah terjadi sebelumnya.

0 Komentar