DUNIA SEBELUM KITA (VIII)



Bayang di Hutan

Ketika Tanah Sinar tumbuh menjadi pemukiman ramai, suara logam mulai terdengar di lembah-lembahnya. Orang-orang menebang pohon, menambang batu, menukar hasil bumi dengan perhiasan dan alat perang. Cahaya yang dulu lembut kini berkilau menyilaukan.

Di antara mereka, ada sekelompok kecil yang merasa resah. Mereka adalah murid terakhir dari ajaran Tana, yang masih mengingat pesan: “Jangan biarkan cahaya membakar kalian.”
Mereka melihat api keserakahan mulai menyala di mata manusia, sama seperti dulu di lembah batu.

Suatu malam, mereka berkumpul di tepi sungai yang mengalir dari gunung timur. Pemimpin mereka, seorang perempuan bernama Nara, berkata pelan,

“Kita harus meninggalkan tempat ini sebelum cahaya menjadi api lagi.”

Dengan membawa api kecil dan sedikit benih, mereka berjalan menuju utara, menembus hutan yang belum dijamah. Di sanalah mereka menemukan dunia lain—sunyi, dipenuhi kabut dan suara burung yang tak dikenal.

Mereka mulai hidup dengan sederhana. Memburu, menanam, dan memuja bumi sebagai ibu. Tidak ada batu suci, tidak ada menara, tidak ada perang. Hanya cerita.
Setiap malam, mereka duduk di sekeliling api dan menceritakan kembali kisah tentang Batu Jiwa, tentang Tana, tentang banjir besar, dan tentang manusia yang lupa siapa dirinya. Tapi semakin lama, kata-kata itu berubah. Nama-nama disederhanakan, peristiwa menjadi legenda.
Dalam seribu musim, yang tersisa hanya dongeng tentang “manusia langit” dan “batu yang bernyanyi.”

Namun di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang tidak hilang: rasa menyatu dengan bumi.
Mereka bisa membaca arah angin, tahu kapan hujan akan datang, tahu kapan sungai akan marah.
Nara berkata kepada anak-anaknya,

“Kita bukan sisa peradaban, kita akar dari yang akan datang.”

Dan benar—suku-suku itu bertahan ribuan tahun, menurunkan kebijaksanaan tanpa tulisan, menyimpan ingatan yang tak bisa dijarah oleh perang atau waktu.

Ketika kelak manusia dari Tanah Sinar dan bangsa-bangsa baru mulai berlayar dan membangun kerajaan, mereka akan menemukan suku-suku ini di tengah hutan.
Mereka menyebutnya primitif.
Tapi sebenarnya, suku-suku itulah penjaga terakhir dari keseimbangan dunia lama.


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar