Beberapa menyebutku orang yang empatik. Mau mendengar keluhan orang lain
tanpa memotong, mengangguk di waktu yang tepat, mengirim pesan “kamu nggak
sendirian” ketika seseorang tampak hampir runtuh. Kedengarannya hangat.
Manusiawi. Hampir heroik. Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana—dan kurang
indah. Aku peduli bukan karena hatiku luas, tapi karena aku tahu betul seperti
apa rasanya ketika tidak ada yang peduli. Dan itu bukan kondisi yang ingin
kuhidupi terlalu lama.
Empatiku bukan kebajikan. Ia mekanisme bertahan hidup. Semacam jaket
pelampung emosional yang kupakai karena aku tidak pandai berenang di perairan
batin sendiri. Ketika orang lain bicara tentang luka mereka, aku mendengarkan
bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk memastikan aku masih terhubung dengan
dunia manusia. Kalau aku berhenti peduli, aku takut tenggelam dalam kepalaku
sendiri—dan aku tahu, di sana tidak ada penjaga pantai.
Kadang aku iri pada orang yang empatinya terlihat alami. Mereka peduli tanpa
kalkulasi, tanpa rasa cemas di baliknya. Sementara aku? Ada suara kecil yang
selalu berbisik, “Kalau kamu cuek hari ini, besok kamu bisa jadi orang yang
lebih dingin lagi.” Jadi aku mendengarkan. Aku bertanya. Aku hadir. Bukan
karena aku paling baik, tapi karena aku tidak ingin menjadi bentuk diriku yang
tak bisa merasakan apa pun.
Ada momen-momen ketika aku ingin jujur dan berkata, “Aku capek
mendengarkan.” Tapi kalimat itu jarang lolos dari pikiranku. Bukan karena aku
begitu pengertian, melainkan karena aku tahu betul konsekuensinya. Hari ini aku
menolak mendengar orang lain, besok mungkin aku lupa caranya memahami diri
sendiri. Dan kehilangan empati terhadap diri sendiri adalah awal dari kekacauan
yang tidak ingin kujelajahi lagi.
Empati, bagiku, seperti rutinitas harian. Bukan ibadah, tapi perawatan.
Seperti menyikat gigi agar tidak busuk, bukan untuk senyum indah. Aku peduli
agar tidak membusuk dari dalam. Agar dunia tetap punya warna, meski tidak
cerah-cerah amat. Orang mungkin melihatku sebagai pendengar yang baik. Padahal
sebenarnya aku hanya sedang menjaga agar ruang batinku tidak sepenuhnya kosong.
Aku juga sadar: empati jenis ini tidak selalu murni. Ada kepentingan pribadi
di dalamnya. Tapi bukankah sebagian besar hal yang kita sebut “baik” memang
begitu? Kita memberi karena ingin merasa berguna. Kita mendengar karena takut
diabaikan. Kita peduli karena alternatifnya terlalu sunyi. Dan sunyi, jika
dibiarkan terlalu lama, bisa berubah menjadi sesuatu yang ganas.
Jadi ketika aku terlihat peduli, jangan langsung bayangkan aku sedang
mempraktikkan kebajikan luhur. Anggap saja aku sedang bertahan. Mengikatkan
diriku pada cerita orang lain agar aku tidak hanyut terlalu jauh dari
kenyataan. Empatiku bukan cahaya dari dalam; ia lebih mirip senter kecil yang
kugunakan agar tidak tersandung dalam gelap.
Kalau ada yang bilang empati seharusnya tulus, tanpa motif—aku mengerti
maksudnya. Tapi hidup jarang memberi kita kemewahan itu. Kadang yang kita punya
hanyalah pilihan antara peduli dengan alasan yang tidak sempurna, atau tidak
peduli sama sekali. Dan dari dua itu, aku memilih yang pertama. Bukan karena
lebih suci, tapi karena lebih aman.
back ------- next
0 Komentar