EMPATI SEBAGAI PELAMPUNG

 

Es Es - Ikon Blog

Beberapa menyebutku orang yang empatik. Mau mendengar keluhan orang lain tanpa memotong, mengangguk di waktu yang tepat, mengirim pesan “kamu nggak sendirian” ketika seseorang tampak hampir runtuh. Kedengarannya hangat. Manusiawi. Hampir heroik. Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana—dan kurang indah. Aku peduli bukan karena hatiku luas, tapi karena aku tahu betul seperti apa rasanya ketika tidak ada yang peduli. Dan itu bukan kondisi yang ingin kuhidupi terlalu lama.

Empatiku bukan kebajikan. Ia mekanisme bertahan hidup. Semacam jaket pelampung emosional yang kupakai karena aku tidak pandai berenang di perairan batin sendiri. Ketika orang lain bicara tentang luka mereka, aku mendengarkan bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk memastikan aku masih terhubung dengan dunia manusia. Kalau aku berhenti peduli, aku takut tenggelam dalam kepalaku sendiri—dan aku tahu, di sana tidak ada penjaga pantai.

Kadang aku iri pada orang yang empatinya terlihat alami. Mereka peduli tanpa kalkulasi, tanpa rasa cemas di baliknya. Sementara aku? Ada suara kecil yang selalu berbisik, “Kalau kamu cuek hari ini, besok kamu bisa jadi orang yang lebih dingin lagi.” Jadi aku mendengarkan. Aku bertanya. Aku hadir. Bukan karena aku paling baik, tapi karena aku tidak ingin menjadi bentuk diriku yang tak bisa merasakan apa pun.

Ada momen-momen ketika aku ingin jujur dan berkata, “Aku capek mendengarkan.” Tapi kalimat itu jarang lolos dari pikiranku. Bukan karena aku begitu pengertian, melainkan karena aku tahu betul konsekuensinya. Hari ini aku menolak mendengar orang lain, besok mungkin aku lupa caranya memahami diri sendiri. Dan kehilangan empati terhadap diri sendiri adalah awal dari kekacauan yang tidak ingin kujelajahi lagi.

Empati, bagiku, seperti rutinitas harian. Bukan ibadah, tapi perawatan. Seperti menyikat gigi agar tidak busuk, bukan untuk senyum indah. Aku peduli agar tidak membusuk dari dalam. Agar dunia tetap punya warna, meski tidak cerah-cerah amat. Orang mungkin melihatku sebagai pendengar yang baik. Padahal sebenarnya aku hanya sedang menjaga agar ruang batinku tidak sepenuhnya kosong.

Aku juga sadar: empati jenis ini tidak selalu murni. Ada kepentingan pribadi di dalamnya. Tapi bukankah sebagian besar hal yang kita sebut “baik” memang begitu? Kita memberi karena ingin merasa berguna. Kita mendengar karena takut diabaikan. Kita peduli karena alternatifnya terlalu sunyi. Dan sunyi, jika dibiarkan terlalu lama, bisa berubah menjadi sesuatu yang ganas.

Jadi ketika aku terlihat peduli, jangan langsung bayangkan aku sedang mempraktikkan kebajikan luhur. Anggap saja aku sedang bertahan. Mengikatkan diriku pada cerita orang lain agar aku tidak hanyut terlalu jauh dari kenyataan. Empatiku bukan cahaya dari dalam; ia lebih mirip senter kecil yang kugunakan agar tidak tersandung dalam gelap.

Kalau ada yang bilang empati seharusnya tulus, tanpa motif—aku mengerti maksudnya. Tapi hidup jarang memberi kita kemewahan itu. Kadang yang kita punya hanyalah pilihan antara peduli dengan alasan yang tidak sempurna, atau tidak peduli sama sekali. Dan dari dua itu, aku memilih yang pertama. Bukan karena lebih suci, tapi karena lebih aman.


back ------- next

Posting Komentar

0 Komentar