Aku selalu mengaku ingin kebebasan. Itu kalimat yang sering kuucapkan saat
lelah, bosan, atau ingin terdengar pintar tanpa perlu berbuat banyak. Aku
benar-benar percaya bahwa kebebasan itu akan membuatku tenang. Aku yakin bahwa
semakin luas ruang gerakku, semakin ringan hidupku. Keyakinan polos yang
kukemas dengan gaya sok dewasa—dan aku sering tersenyum kecil sendiri saat
sadar betapa naifnya itu, seperti anak kecil yang yakin dunia akan lebih baik
kalau semua orang tidur siang.
Ketika akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk memilih, aku menyambutnya
seperti seseorang yang baru saja diberi kunci ke dunia yang selama ini hanya
kulihat dari jauh. Aku melangkah keluar, merasa hidupku baru dimulai. Tidak ada
lagi pagar, tidak ada lagi batasan tinggi menjulang. Hanya ada kemungkinan,
kemungkinan, dan kemungkinan—begitu banyak sampai aku mulai tercekik olehnya.
Aku tersenyum lagi, kali ini getir: ternyata bebas itu seperti ruang kosong
yang terlalu besar—dingin dan bergema, membuat setiap langkah terdengar dua
kali lebih keras.
Bebas, ternyata, tidak sesederhana yang kubayangkan. Aku bangun dengan
pikiran yang bercabang ke segala arah, mencoba memutuskan ke mana harus
bergerak, apa yang harus diperjuangkan, siapa yang harus kudengarkan, dan apa
yang harus kuprioritaskan. Setiap pilihan terasa seperti pintu yang menutup
pintu lain, dan aku mulai sadar bahwa kebebasan yang kuinginkan hanya mengganti
satu jenis batasan dengan batasan lain yang lebih licin—dan aku sendiri yang
licin karena takut memilih salah, lalu menunda lagi dengan alasan “masih
menimbang-nimbang”.
Aku terhimpit oleh semua pilihan yang kukira akan membebaskanku. Aku punya
ruang, tapi tidak punya arah. Aku punya kehendak, tapi tidak punya kejelasan.
Aku merdeka, tapi tidak punya alasan untuk bergerak. Itu bukan kemajuan—itu
hanya kekosongan yang kubungkus rapi dengan kata-kata manis, sambil
berpura-pura itu bagian dari proses.
Jadi aku mulai mencari pegangan. Sesuatu untuk membuat hidupku berhenti
berputar seperti kompas yang kehilangan kutub. Aku butuh titik, sekecil apa
pun, untuk menghentikan semua keributan dalam kepalaku. Dan ketika akhirnya aku
menemukannya—entah itu seseorang, prinsip tertentu, rutinitas baru, atau ilusi
stabilitas—aku merasa lebih tenang. Tidak bahagia, tentu saja, tapi paling
tidak hidupku berhenti memukul-mukul dinding di dalam kepala. Aku tersenyum
kecil lagi, karena tahu “tenang” ini cuma versi sementara dari “lelah memilih”.
Aku menyebut pegangan itu sebagai “pilihan sadar”, padahal itu sekadar
kebutuhan untuk bertahan dari kebisingan hidup yang terlalu luas. Aku
menggantungkan diri pada sesuatu dan menyebutnya kedewasaan. Aku mulai
mengikuti alur tertentu dan menyebutnya arah. Aku menyesuaikan diri dan
menyebutnya kenyamanan—meski aku tahu, kenyamanan ini sering datang dengan
harga yang aku bayar pelan-pelan.
Dan perlahan-lahan, aku kembali terikat. Terikat yang membebaskan sekaligus
bebas yang mengikatkan.

0 Komentar