BIARLAH MISKIN YANG PENTING BAHAGIA

Es Es - Ikon Blog

 

Aku pernah tertawa terbahak—sendirian—saat mengucapkan pernyataan paling klise yang sering dipakai orang kalah debat dengan hidup: biarlah miskin yang penting bahagia. Lucunya, aku mengucapkannya dengan penuh keyakinan, seperti orang yang sudah menamatkan dua jilid kehidupan: edisi miskin dan edisi kaya. Padahal aku baru baca sampulnya saja.

Sejatinya pernyataanku itu seperti payung bocor. Tidak benar-benar melindungi, tapi cukup untuk membuatku merasa sedang berusaha. Aku belum pernah hidup dalam versi “kaya”, tapi sudah berani menyimpulkan bahwa kebahagiaan tidak ada di sana. Ini seperti menolak makanan mahal sambil tetap berdiri di luar restoran—belum pernah duduk, apalagi mencicipi. Tapi sudah berani komentar, dan itu rasanya konyol.

Yang membuatku terpingkal justru keberanianku sendiri. Aku menolak sesuatu yang belum pernah kutemui, lalu menyebutnya pilihan hidup. Padahal lebih mirip pembelaan darurat. Kalimat yang penting bahagia terdengar dewasa, padahal sering kali hanya versi halus dari “aku capek”. Ia muncul bukan setelah pencerahan, tapi setelah kelelahan. Dan aku menepuk dada sendiri, seolah sudah menang sparing dengan dunia—padahal dunia tidak peduli.

Aku menggunakannya seperti stiker di retakan tembok. Dari jauh terlihat baik-baik saja. Dari dekat, tetap retak. Tapi aku tersenyum sambil menatap retakan itu, seolah mengerti semuanya, padahal hanya menunda dan menunggu retakan berikutnya.

Lalu pikiranku iseng. Bagaimana jika ada orang yang dengan ikhlas mendoakanku tetap miskin? Bukan karena benci, tapi karena peduli. Karena ia ingin aku bahagia dengan cara yang membahagiakanku. Bisa jadi doa itu terdengar manis, tapi rasanya seperti hadiah yang dibungkus rapi—isinya batu. Aku tidak tahu harus berterima kasih atau merasa sedang disumpahi dengan sopan.

Doa itu pun terdengar aneh. Seperti mendoakan seseorang agar tetap demam supaya ia lebih menghargai sehat. Logikanya tampak luhur, tapi dampaknya tetap menggigil. Di baliknya seperti ada keyakinan sunyi: bahwa bahagia harus ditemani kekurangan supaya sah. Bahwa kalau hidup terlalu nyaman, nanti jadi mencurigakan.

Di situ aku berhenti menyalahkan siapa pun. Karena aku sadar, aku sendiri yang pertama kali memeluk logika itu. Aku berlindung di balik kata “bahagia” agar tidak perlu berurusan dengan kata “kurang”. Agar tidak perlu jujur bahwa aku juga ingin tenang. Ingin cukup. Ingin tidak cemas tanpa harus pura-pura bijak.

Akhirnya aku mengakui sesuatu yang agak memalukan. Selama ini aku mungkin tidak sedang bersyukur, tapi sedang bersembunyi. Kalimat itu bukan prinsip hidup, melainkan selimut tipis yang kutarik sampai dagu agar dingin realitas tidak terlalu terasa. Hangat sesaat, tapi tetap saja menggigil.


back ------- next

Posting Komentar

0 Komentar