KEJUJURAN YANG MENYAKITKAN DAN KEBOHONGAN YANG BERSALAH

 

Es Es - Ikon Blog

Aku selalu mengatakan bahwa aku ingin jujur. Bukan jujur setengah-setengah, bukan jujur ala narasi drama yang sudah siap dicetak ulang. Aku ingin jujur sampai tulang, sampai kata-kata yang keluar dari mulutku tidak meninggalkan lapisan licin untuk menutupi kebenaran. Sungguh, itu terdengar mulia, bukan? Tapi seperti halnya semua hal yang terdengar mulia, kenyataan selalu menemukan cara untuk mengejeknya.

Masalahnya, kejujuran itu menyakitkan. Tidak pernah hanya menyakiti orang lain, tapi terkadang juga menyakiti diri sendiri. Aku bilang kepada seseorang hal yang seharusnya diungkapkan, dan pandangan mereka berubah—seperti kaca pecah di tangan yang salah. Aku melihat retakan itu, aku mendengar suara yang tidak bisa diperbaiki lagi, dan aku menyadari: kejujuran ini, sekeras-kerasnya aku ingin, tak pernah bersahabat. Bahkan jika aku berpikir aku sedang melakukan hal yang benar, dunia menanggapi dengan rasa sakit yang tak bisa diukur.

Maka aku berbohong. Tidak berbohong dengan niat jahat, tentu saja. Aku berbohong untuk melindungi, untuk menenangkan, untuk menjaga agar tidak ada yang terluka—bahkan jika itu berarti aku harus menyembunyikan diri di balik tirai kata-kata yang lembut. Lucunya, kebohongan itu tidak pernah membebaskan. Bahkan ketika kata-kata itu keluar, aku mendengar suara halus di kepala: “Kau tahu ini salah. Kau tahu ini akan kembali mengusikmu.” Dan memang, itu selalu kembali. Kebohongan membuatku merasa jahat, meski niatnya murni.

Jadi aku ingin jujur lagi. Dan di sini lingkaran itu muncul—entah bagaimana hidupku sering diatur oleh lingkaran yang menyiksa ini. Aku ingin jujur, tapi kejujuran menyakiti. Aku tidak ingin menyakiti, jadi aku berbohong. Aku berbohong, tapi kebohongan itu membuatku merasa bersalah, dan rasa bersalah itu mendorongku kembali ke kejujuran. Aku mencoba bergerak, tapi setiap pilihan selalu menuntunku kembali ke titik yang sama—tempat di mana niat baik berubah menjadi tekanan yang tidak pernah selesai.

Kadang aku bertanya-tanya apakah orang lain juga merasakan hal yang sama, atau apakah aku terlalu dramatis. Tetapi setiap kali aku mencoba mengabaikannya, pola itu tetap muncul. Ini bukan soal moral yang sederhana; ini adalah kompetisi antara niat dan dampak, dan aku selalu kalah di babak pertama. Bahkan jika aku menang, aku menang dengan rasa pahit yang menempel di lidah.

Kejujuran, pada akhirnya, bukanlah hal netral. Ia seperti pedang bermata dua: memotong kebohongan, tapi juga merobek hati yang lembut. Sedangkan kebohongan itu seperti pelindung rapuh: menutupi luka, tapi menimbulkan tekanan di bawah permukaan yang sama sekali tidak terlihat. Aku berjalan di antara keduanya, menyeimbangkan niat yang bertentangan sambil mencoba tetap berdiri tegak—padahal setiap langkah seperti menari di atas kaca pecah.

Yang membuatnya semakin menyenangkan—atau menyebalkan, tergantung perspektif—adalah kesadaran bahwa ini tak ada habisnya. Aku bisa menulis catatan panjang tentang bagaimana aku mencoba jujur, bagaimana aku mencoba berbohong, bagaimana aku menilai diri sendiri di cermin, dan setiap percobaan itu akan menimbulkan versi baru dari lingkaran yang sama. Aku bisa tersenyum getir terhadap semua keruwetan logis ini, sambil sadar bahwa ini adalah bagian dari absurditasnya.

 

back ------- next

Posting Komentar

0 Komentar