Aku selalu mengatakan bahwa aku
ingin jujur. Bukan jujur setengah-setengah, bukan jujur ala narasi drama yang
sudah siap dicetak ulang. Aku ingin jujur sampai tulang, sampai kata-kata yang
keluar dari mulutku tidak meninggalkan lapisan licin untuk menutupi kebenaran.
Sungguh, itu terdengar mulia, bukan? Tapi seperti halnya semua hal yang
terdengar mulia, kenyataan selalu menemukan cara untuk mengejeknya.
Masalahnya, kejujuran itu
menyakitkan. Tidak pernah hanya menyakiti orang lain, tapi terkadang juga
menyakiti diri sendiri. Aku bilang kepada seseorang hal yang seharusnya
diungkapkan, dan pandangan mereka berubah—seperti kaca pecah di tangan yang
salah. Aku melihat retakan itu, aku mendengar suara yang tidak bisa diperbaiki
lagi, dan aku menyadari: kejujuran ini, sekeras-kerasnya aku ingin, tak pernah
bersahabat. Bahkan jika aku berpikir aku sedang melakukan hal yang benar, dunia
menanggapi dengan rasa sakit yang tak bisa diukur.
Maka aku berbohong. Tidak berbohong
dengan niat jahat, tentu saja. Aku berbohong untuk melindungi, untuk
menenangkan, untuk menjaga agar tidak ada yang terluka—bahkan jika itu berarti
aku harus menyembunyikan diri di balik tirai kata-kata yang lembut. Lucunya,
kebohongan itu tidak pernah membebaskan. Bahkan ketika kata-kata itu keluar,
aku mendengar suara halus di kepala: “Kau tahu ini salah. Kau tahu ini akan
kembali mengusikmu.” Dan memang, itu selalu kembali. Kebohongan membuatku
merasa jahat, meski niatnya murni.
Jadi aku ingin jujur lagi. Dan di
sini lingkaran itu muncul—entah bagaimana hidupku sering diatur oleh lingkaran
yang menyiksa ini. Aku ingin jujur, tapi kejujuran menyakiti. Aku tidak ingin
menyakiti, jadi aku berbohong. Aku berbohong, tapi kebohongan itu membuatku
merasa bersalah, dan rasa bersalah itu mendorongku kembali ke kejujuran. Aku
mencoba bergerak, tapi setiap pilihan selalu menuntunku kembali ke titik yang
sama—tempat di mana niat baik berubah menjadi tekanan yang tidak pernah
selesai.
Kadang aku bertanya-tanya apakah
orang lain juga merasakan hal yang sama, atau apakah aku terlalu dramatis.
Tetapi setiap kali aku mencoba mengabaikannya, pola itu tetap muncul. Ini bukan
soal moral yang sederhana; ini adalah kompetisi antara niat dan dampak, dan aku
selalu kalah di babak pertama. Bahkan jika aku menang, aku menang dengan rasa
pahit yang menempel di lidah.
Kejujuran, pada akhirnya, bukanlah
hal netral. Ia seperti pedang bermata dua: memotong kebohongan, tapi juga
merobek hati yang lembut. Sedangkan kebohongan itu seperti pelindung rapuh:
menutupi luka, tapi menimbulkan tekanan di bawah permukaan yang sama sekali
tidak terlihat. Aku berjalan di antara keduanya, menyeimbangkan niat yang
bertentangan sambil mencoba tetap berdiri tegak—padahal setiap langkah seperti
menari di atas kaca pecah.
Yang membuatnya semakin
menyenangkan—atau menyebalkan, tergantung perspektif—adalah kesadaran bahwa ini
tak ada habisnya. Aku bisa menulis catatan panjang tentang bagaimana aku
mencoba jujur, bagaimana aku mencoba berbohong, bagaimana aku menilai diri
sendiri di cermin, dan setiap percobaan itu akan menimbulkan versi baru dari
lingkaran yang sama. Aku bisa tersenyum getir terhadap semua keruwetan logis
ini, sambil sadar bahwa ini adalah bagian dari absurditasnya.

0 Komentar