Aku mulai menulis
catatan-catatan ini tanpa rencana besar. Hanya karena lelah dengan kata-kata
yang terlalu rapi, terlalu yakin, terlalu berharap mengubah sesuatu. Aku lelah
dengan nasihat yang datang seperti resep dokter—harus diikuti agar sembuh. Maka
aku memilih cara yang lebih sederhana: menulis apa yang ada di kepala, tanpa
obat, tanpa janji kesembuhan. Hanya catatan kecil, sering aneh, sering tidak
penting.
Aku tidak menulis untuk memberi
pelajaran. Aku menulis karena aku sendiri yang butuh diingatkan. Bahwa rapuh
itu biasa—bukan kegagalan. Hanya cara bertahan yang aku temukan setelah
berkali-kali tersandung di tempat yang sama. Aku tersenyum kecil setiap kali
sadar betapa konyolnya aku mengulang pola itu, tapi aku biarkan saja. Karena
pola itu membuatku tetap berjalan.
Buku ini bukan kumpulan
kebijaksanaan. Ia hanya kumpulan gelas-gelas kecil yang kutaruh di meja. Kadang
dingin, kadang sudah agak hangat. Kadang manis, kadang pahit. Kamu boleh minum
satu teguk, boleh habiskan satu gelas, boleh juga lewat saja. Tidak ada kewajiban.
Tidak ada tes di akhir. Yang ada hanya catatan-catatan yang lahir dari
hari-hari biasa—hari ketika aku terlalu banyak mikir, terlalu sedikit bicara,
atau terlalu sering tersenyum atas kekonyolan diriku sendiri.
Jika ada satu hal yang ingin
kukatakan di awal, itu ini: kamu tidak perlu setuju dengan apa yang kutulis.
Kamu tidak perlu merasa lebih baik setelah membaca. Cukup tahu bahwa ada orang
lain yang juga pernah merasa begitu—rapuh, lucu, dan tetap memilih melangkah
meski tahu langkahnya sering goyah. Itu sudah cukup.

0 Komentar