AKU TERTAWA KARENA AKU TIDAK INGIN MENDENGARNYA

 


Aku tertawa karena aku tidak ingin mendengarnya—katanya itu mekanisme pertahanan, tapi kupikir itu cuma cara paling sopan untuk menutup telinga tanpa harus terlihat tidak beradab. Dunia senang sekali menilai; setidaknya dengan tertawa, aku memberi kesan ramah sebelum akhirnya kabur dari kenyataan yang sedang mengetuk pintu seperti debt collector yang kutolak sejak bulan lalu.

Lucunya, orang sering mengira tawa itu tanda kelegaan. Mereka lupa bahwa manusia lebih sering menertawakan hal yang tidak sanggup dihadapinya. Itu sebabnya komedi dan tragedi punya garis batas setipis kulit bawang: tinggal salah satu sisi sedikit saja, dan air mata berubah jadi punchline. Aku tidak tahu aku sedang ada di sisi yang mana; aku hanya tahu mulutku bergerak, dan suaranya lebih riang daripada isi kepalaku yang sedang sibuk diterjang gempa skala 7,5 batiniah.

Tentu saja aku bisa saja memilih diam. Tapi diam terlalu jujur, dan aku tidak selalu siap dengan kejujuran yang begitu telanjang. Tertawa setidaknya memberiku waktu lima detik untuk menyusun ulang ekspresi, mengikat ulang ego yang meronta, dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja—atau setidaknya cukup tidak kacau sehingga orang tidak perlu bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Jika ada yang lebih mengerikan dari kenyataan, itu adalah pertanyaan tentang kenyataan.

Yang paling menggelikan adalah, semakin aku tertawa, semakin jelas bahwa aku sedang menolak sesuatu. Entah itu nasihat, kenyataan, atau sekadar fakta sederhana bahwa hidup tidak selalu peduli pada kapasitas emosional manusia. Tawa adalah tembok tak kasat mata: terlihat ramah dari luar, tapi keras di dalam. Sejenis pagar pembatas yang kuklaim sebagai dekorasi, padahal fungsinya melindungi hal-hal yang kuhindari sejak lama.

Kadang aku iri pada orang yang bisa mendengar sesuatu dan langsung menanggapinya dengan penuh keberanian. Mereka yang bisa berkata “baiklah, mari hadapi” tanpa perlu menggenggam meja untuk menahan getaran internal. Aku? Tidak. Aku lebih suka menolak tekanan dengan suara ringan, seperti suara gelak kecil yang menguap sebelum sempat ditafsirkan secara serius. Aku menghindar sambil memberi hiburan gratis. Menyedihkan, tapi efisien.

Yang membuatnya lebih lucu: setiap tawa yang kuberikan selalu membuat orang di depanku semakin semangat bicara. Mereka kira aku menikmati, padahal aku sedang mengubur diriku beberapa sentimeter lebih dalam di balik suara itu. Jika tawa bisa menjadi jendela jiwa, jendelaku pasti gelap, kusam, dan ditutup tirai setebal moralitas yang sudah lama tidak kusetrika.

Aku tidak menyalahkan mereka. Dunia ini dibangun dengan asumsi bahwa senyum berarti nyaman dan tawa berarti setuju. Padahal, kalau boleh berterus terang, kadang senyum hanyalah versi sopan dari “tolong hentikan”. Dan tawa adalah versi diplomatis dari “aku tidak mau mendengar ini, tapi aku tidak ingin kau marah”. Kita semua sedang memainkan sandiwara kecil, bedanya: ada yang sadar mereka sedang bermain, ada yang tidak tahu bahwa mereka sedang menjadi penonton yang ditipu oleh ekspresi manusia lain.

Ada yang mengatakan bahwa tawa membuat segalanya terasa lebih ringan. Ya, tentu saja terasa ringan—semua hal terasa ringan kalau sedang ditahan supaya tidak jatuh. Kita menertawakan beban bukan karena ia lucu, tapi karena jatuhnya akan terlalu keras jika tidak diberi shock absorber emosional. Tawa hanyalah bantalan tipis yang membuat kehancuran mental terdengar seperti candaan yang bisa ditoleransi.

Aku juga tahu bahwa suatu hari nanti aku harus berhenti. Tidak ada orang yang bisa seumur hidup menjadikan komedi sebagai perisai. Tapi untuk sekarang, tawa adalah bahasa isyaratku. Bahasa untuk mengatakan: “Stop. Itu terlalu dekat. Jangan buka pintu itu.” Bahasa untuk menipu diri sendiri agar percaya bahwa aku masih mengontrol situasi yang sebenarnya jauh lebih besar dariku. Bahasa untuk menunjukkan bahwa aku masih berfungsi, meskipun kadang rasanya aku tidak lebih dari mesin tua yang dipaksa bekerja lembur.

Dan ketika tawa akhirnya berhenti—dan itu akan berhenti, cepat atau lambat—aku hanya berharap aku sudah siap mendengar hal-hal yang selama ini kuusir dengan humor. Tidak untuk menjadi kuat, tapi setidaknya tidak kabur lagi. Dan jika pun nanti aku kembali tertawa, semoga itu bukan lagi sebagai perisai. Semoga itu hanya tawa biasa, tawa natural, tawa manusia biasa yang sudah berhenti berperang dengan kenyataannya sendiri.

Walaupun, kalau kau tanya sekarang?
Ya… aku masih tertawa.
Karena aku belum ingin mendengarnya.

 

 back ------- next


Posting Komentar

0 Komentar