MERASA BAIK-BAIK SAJA, TAPI SELALU INGIN DIJELASKAN

 

Es Es - Ikon Blog

Aku sering bilang aku baik-baik saja. Dan sering kali itu benar. Masalahnya, setelah bilang begitu, aku merasa perlu menambahkan penjelasan. Padahal kalau memang baik-baik saja, seharusnya kalimat itu bisa berdiri sendiri. Titik. Selesai. Tapi nyatanya, aku jarang berhenti di situ. Kalimat “baik-baik saja” sepertinya tidak cukup dipercaya, bahkan oleh yang mengucapkannya.

Aku menyadari satu hal: keinginanku untuk menjelaskan bukan karena ada yang meminta, tapi karena ada bagian dalam diriku yang takut disalahpahami. Seolah-olah tanpa penjelasan tambahan, status “baik-baik saja” bisa dianggap palsu, kurang valid, atau terlalu sederhana untuk dunia yang gemar mencurigai.

Padahal aku memang baik-baik saja. Tidak bahagia luar biasa, tidak juga runtuh. Posisi tengah yang membosankan tapi stabil. Namun posisi ini sering dianggap mencurigakan. Terlalu tenang untuk dipercaya. Terlalu normal untuk dibiarkan tanpa klarifikasi.

Lucunya, semakin aku menjelaskan, semakin terlihat seperti tidak baik-baik saja.

Aku pernah memperhatikan diriku sendiri saat ditanya, “Kamu kenapa?”
Jawaban jujur seharusnya singkat. Tapi yang keluar justru penjabaran panjang, seperti laporan pertanggungjawaban yang tidak diminta. Aku menyebutkan alasan, konteks, latar belakang, dan catatan kaki emosional. Bukan karena masalahnya besar, tapi karena aku takut dianggap mengada-ada jika tidak dijelaskan.

Di titik itu aku sadar, keinginanku menjelaskan bukan untuk orang lain. Itu untukku sendiri. Aku ingin diyakinkan bahwa kondisiku masuk akal. Bahwa rasaku sah. Bahwa aku tidak reaktif, tapi juga tidak dingin. Bahwa aku masih manusia yang berfungsi dengan gangguan kecil yang wajar.

Ironisnya, keinginan menjelaskan sering kali muncul justru saat tidak ada yang salah. Saat semuanya relatif baik, aku malah sibuk mencari kata-kata pembenaran. Seolah-olah ketenangan itu hutang yang harus dilaporkan asal-usulnya.

Ada ketakutan halus di sana: bagaimana kalau “baik-baik saja” dianggap tidak cukup serius? Bagaimana kalau orang mengira aku menghindar? Maka aku jelaskan. Sedikit. Lalu sedikit lagi. Sampai akhirnya aku sendiri lelah mendengarnya.

Di sisi lain, ada juga kesenangan aneh dalam menjelaskan. Dengan menjelaskan, aku merasa menguasai narasi. Aku bisa mengatur bagaimana kondisiku dipahami. Aku bisa terlihat jujur tanpa harus terlalu terbuka. Aku bisa tampak sadar diri tanpa benar-benar menyerahkan diriku sepenuhnya.

Ini semacam seni bertahan sosial: terlihat stabil, tapi tetap memberi celah bahwa aku manusia yang kompleks. Tidak terlalu kuat, tapi juga tidak rapuh. Sebuah keseimbangan yang melelahkan.

Kadang aku bertanya-tanya, apa aku benar-benar ingin dipahami, atau hanya ingin diyakini bahwa aku pantas dipahami?

Karena jika dipikir-pikir, tidak semua hal perlu penjelasan. Tidak semua kondisi harus diberi konteks. Ada hari-hari yang memang datar. Ada perasaan yang tidak dramatis. Ada momen ketika hidup berjalan tanpa perlu narasi tambahan. Tapi aku sering menolak kesederhanaan itu, lalu menambahinya dengan kata-kata agar terasa lebih masuk akal.

Dan di situlah sisi lucunya. Aku merasa baik-baik saja, tapi tidak cukup percaya diri untuk membiarkannya begitu saja. Aku ingin terlihat tenang, tapi juga ingin dimengerti. Aku ingin tidak diganggu, tapi tetap ingin diperhatikan secukupnya.

Seolah-olah aku berkata:
“Aku tidak butuh apa-apa… tapi tolong pahami kenapa aku tidak butuh apa-apa.”

Mungkin ini bukan masalah besar. Mungkin ini hanya kebiasaan kecil orang-orang yang hidup di dunia yang terlalu sering meminta klarifikasi. Dunia yang curiga pada keheningan dan alergi pada jawaban singkat.


back ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar