TERIKAT UNTUK BEBAS, BEBAS UNTUK TERIKAT

 

Es Es - Ikon Blog

Aku selalu mengaku ingin kebebasan. Itu kalimat yang sering kuucapkan saat lelah, bosan, atau ingin terdengar pintar tanpa perlu berbuat banyak. Aku benar-benar percaya bahwa kebebasan itu akan membuatku tenang. Aku yakin bahwa semakin luas ruang gerakku, semakin ringan hidupku. Keyakinan polos yang kukemas dengan gaya sok dewasa—dan aku sering tersenyum kecil sendiri saat sadar betapa naifnya itu, seperti anak kecil yang yakin dunia akan lebih baik kalau semua orang tidur siang.

Ketika akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk memilih, aku menyambutnya seperti seseorang yang baru saja diberi kunci ke dunia yang selama ini hanya kulihat dari jauh. Aku melangkah keluar, merasa hidupku baru dimulai. Tidak ada lagi pagar, tidak ada lagi batasan tinggi menjulang. Hanya ada kemungkinan, kemungkinan, dan kemungkinan—begitu banyak sampai aku mulai tercekik olehnya. Aku tersenyum lagi, kali ini getir: ternyata bebas itu seperti ruang kosong yang terlalu besar—dingin dan bergema, membuat setiap langkah terdengar dua kali lebih keras.

Bebas, ternyata, tidak sesederhana yang kubayangkan. Aku bangun dengan pikiran yang bercabang ke segala arah, mencoba memutuskan ke mana harus bergerak, apa yang harus diperjuangkan, siapa yang harus kudengarkan, dan apa yang harus kuprioritaskan. Setiap pilihan terasa seperti pintu yang menutup pintu lain, dan aku mulai sadar bahwa kebebasan yang kuinginkan hanya mengganti satu jenis batasan dengan batasan lain yang lebih licin—dan aku sendiri yang licin karena takut memilih salah, lalu menunda lagi dengan alasan “masih menimbang-nimbang”.

Aku terhimpit oleh semua pilihan yang kukira akan membebaskanku. Aku punya ruang, tapi tidak punya arah. Aku punya kehendak, tapi tidak punya kejelasan. Aku merdeka, tapi tidak punya alasan untuk bergerak. Itu bukan kemajuan—itu hanya kekosongan yang kubungkus rapi dengan kata-kata manis, sambil berpura-pura itu bagian dari proses.

Jadi aku mulai mencari pegangan. Sesuatu untuk membuat hidupku berhenti berputar seperti kompas yang kehilangan kutub. Aku butuh titik, sekecil apa pun, untuk menghentikan semua keributan dalam kepalaku. Dan ketika akhirnya aku menemukannya—entah itu seseorang, prinsip tertentu, rutinitas baru, atau ilusi stabilitas—aku merasa lebih tenang. Tidak bahagia, tentu saja, tapi paling tidak hidupku berhenti memukul-mukul dinding di dalam kepala. Aku tersenyum kecil lagi, karena tahu “tenang” ini cuma versi sementara dari “lelah memilih”.

Aku menyebut pegangan itu sebagai “pilihan sadar”, padahal itu sekadar kebutuhan untuk bertahan dari kebisingan hidup yang terlalu luas. Aku menggantungkan diri pada sesuatu dan menyebutnya kedewasaan. Aku mulai mengikuti alur tertentu dan menyebutnya arah. Aku menyesuaikan diri dan menyebutnya kenyamanan—meski aku tahu, kenyamanan ini sering datang dengan harga yang aku bayar pelan-pelan.

Dan perlahan-lahan, aku kembali terikat. Terikat yang membebaskan sekaligus bebas yang mengikatkan.


back ------- Next

Posting Komentar

0 Komentar