Kejujuran sering dipajang seperti barang pecah belah: terlihat bening, tapi
sebenarnya dipilih yang tidak terlalu berisiko jatuh dan memecah suasana. Ada
bagian-bagian yang aman untuk diakui—kesalahan kecil, kebiasaan buruk yang
sudah umum, atau penyesalan yang terdengar cukup manusiawi tanpa membuat orang
lain mundur perlahan. Sisanya? Disimpan rapi, bukan karena tidak ada, tapi
karena terlalu berisik kalau dikeluarkan.
Aku cukup terampil dalam permainan ini. Mengaku jujur dengan penuh keyakinan,
sambil diam-diam memastikan yang keluar hanya versi yang sudah disaring.
Seperti menyajikan makanan rumahan tapi yang gosongnya sudah dipotong dulu.
Yang tersaji tetap terlihat utuh, bahkan kadang dipuji. Dan anehnya, pujian itu
tetap terasa enak, meskipun tahu ada bagian yang sengaja disembunyikan di
dapur.
Kadang aku merasa sedang melakukan sulap kecil-kecilan: memperlihatkan
transparansi tanpa benar-benar transparan. Ada kebanggaan tipis saat bisa
berkata jujur tanpa membuat situasi jadi canggung. Seolah-olah menemukan
formula aman—cukup terbuka untuk dipercaya, tapi tidak cukup terbuka untuk
dipertanyakan lebih jauh. Sebuah keseimbangan yang tampak elegan, padahal lebih
mirip trik bertahan hidup.
Yang lebih memalukan, aku sering mengemas pengakuan itu supaya terdengar
reflektif. Sedikit penyesalan, sedikit humor, sedikit nada “aku sedang belajar
jadi lebih baik.” Padahal di dalamnya ada agenda kecil: terlihat manusiawi,
tapi tetap layak disukai. Rasanya seperti membersihkan jendela hanya di bagian
yang bisa terlihat dari luar, lalu berdiri santai seolah seluruh rumah sudah
rapi.
Semakin sering melakukan ini, semakin sulit membedakan mana kejujuran dan
mana versi presentasi. Aku bisa benar-benar merasa tulus, sambil tetap
menghindari bagian yang paling jujur. Dan setiap kali itu terjadi, ada suara
kecil yang nyeletuk, “Bagus, aman.” Bukan “bagus, jujur.” Aman. Kata yang
ternyata lebih sering kupilih.
Mungkin memang tidak semua hal perlu diumbar. Dunia tidak kekurangan beban
untuk ikut menanggung isi kepala orang lain. Tapi tetap saja, ada rasa geli
setiap kali menyadari bahwa keberanian yang dibanggakan itu ternyata sudah
diatur kadarnya. Cukup untuk terlihat, tidak cukup untuk mengguncang.
Pada akhirnya, kejujuran jenis ini terasa seperti latihan setengah hati.
Tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak benar-benar memuaskan. Ada usaha untuk
mendekat ke versi diri yang lebih utuh, meski langkahnya masih sambil melihat
ke belakang, memastikan tidak ada yang terlalu banyak terbuka.

0 Komentar