Ketenangan tertentu terasa janggal—seperti ruangan yang terlalu rapi sampai
tidak ada lagi alasan untuk berlama-lama di dalamnya. Tidak berisik, tidak
menyakitkan, tapi juga tidak memberi apa-apa untuk dipegang. Di situ, perbaikan
justru terasa seperti kehilangan kecil yang tidak diminta.
Aku mulai merasa tidak tenang setiap kali keadaan terasa membaik. Bukan
karena tidak bersyukur, tapi karena satu bagian langsung bertanya, “Kalau ini
selesai, lalu apa lagi yang tersisa?” Seolah-olah selama ini sesuatu kupegang
erat, dan sekarang pelan-pelan dilepaskan tanpa pengganti yang jelas.
Kebiasaan aneh itu muncul: kembali mengecek luka yang sebenarnya sudah
mengering. Bukan untuk menyakiti diri, hanya memastikan masih tersisa bekasnya.
Seperti membuka laci lama hanya untuk melihat apakah isinya masih sama. Dan
anehnya, terasa lega setiap kali menemukan bahwa tidak semuanya benar-benar
hilang.
Aku sering tidak sadar sedang mempertahankan sesuatu yang seharusnya bisa
dilepas. Bukan karena itu baik, tapi karena itu familiar. Rasa tidak nyaman
yang sudah dikenal terasa lebih aman dibanding kemungkinan baru yang belum
punya bentuk. Di titik itu, perbaikan mulai terasa seperti ancaman kecil yang
datang dengan wajah ramah.
Kadang muncul keinginan untuk benar-benar selesai—ringan, rapi, tidak lagi
membawa beban yang sama. Tapi keinginan itu tidak pernah berdiri sendirian.
Selalu ada bayangan lain di sampingnya: versi diri yang terlalu bersih, terlalu
tenang, dan entah kenapa terasa asing. Seperti melihat kamar sendiri yang
tiba-tiba tidak lagi terasa milik sendiri.
Aku tidak yakin benar-benar ingin sembuh sepenuhnya. Bukan karena menikmati
rasa tidak enak itu, tapi karena sudah terlalu lama hidup berdampingan
dengannya. Ritme terbentuk, cara berpikir menyesuaikan, bahkan cara menjelaskan
diri ke orang lain ikut terbentuk dari sana. Menghilangkannya terasa seperti
harus belajar ulang menjadi seseorang.
Yang paling mengganggu justru bukan proses sembuhnya, tapi kehilangan
alasan-alasan lama yang selama ini diam-diam membantu menjelaskan banyak hal.
Tanpa itu, tidak ada lagi “cerita” yang bisa dipakai untuk memahami diri
sendiri. Hanya tersisa ruang kosong yang seharusnya diisi, tapi belum jelas
dengan apa.

0 Komentar