Sepeda jarang memberi kejutan yang benar-benar baru. Kalau bannya bocor,
tandanya cukup jelas. Kayuhan terasa lebih berat, arah sedikit tidak stabil,
dan ada sensasi aneh seperti menginjak sesuatu yang tidak sepenuhnya ada. Tidak
nyaman, tapi juga tidak langsung membuat berhenti.
Aku biasanya tetap melanjutkan beberapa meter lagi, sekadar memastikan.
Seolah-olah dengan terus mengayuh, keadaan bisa berubah.
Begitu berhenti, ada satu kebiasaan kecil yang selalu dilakukan: menekan ban
dengan jari. Tidak sekali, kadang dua atau tiga kali. Tekan, lepas, tekan lagi.
Seperti berharap ada kemungkinan lain selain kempes. Padahal tidak ada skenario
di mana ban yang bocor tiba-tiba mengeras karena dipencet dengan keyakinan.
Aku tahu itu. Tapi tetap dilakukan.
Kadang dilanjutkan dengan memutar roda pelan-pelan, melihat bagian ban yang
sama berulang kali, seolah-olah lubangnya akan muncul kalau diperhatikan cukup
lama. Mata menyusuri permukaan ban dengan serius, berhenti di titik-titik yang
terasa mencurigakan, lalu lanjut lagi tanpa benar-benar menemukan apa-apa.
Seperti sedang mencari alasan tambahan, bukan solusi.
Entah kenapa, rasanya tetap perlu memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah
jelas. Seolah-olah tanpa ritual kecil itu, kejadian ini belum sah. Ban belum
resmi kempes sebelum disentuh langsung, sebelum ditekan, sebelum dibuktikan
ulang dengan cara yang sama sekali tidak mengubah apa pun.
Kadang aku berpikir, mungkin ini bukan soal ban. Mungkin ini soal kebiasaan.
Tekanan kecil di jari itu terasa seperti negosiasi terakhir. Bukan untuk
memperbaiki, tapi untuk memberi waktu. Waktu untuk sedikit tidak percaya,
meskipun semua tanda sudah cukup.
Dan setelah itu, barulah keputusan diambil. Menuntun sepeda, mencari tambal,
atau sekadar berdiri sebentar sambil mengatur ulang rencana yang tadinya
sederhana.
Tapi tetap saja, sebelum semua itu, ban dipencet dulu.

0 Komentar