TERLIHAT BERGUNA

 

Es Es - Ikon Blog

Keinginan ini jarang diakui: terlihat berguna, tanpa benar-benar harus menjadi berguna.

Ia tidak berisik. Tidak datang sebagai ambisi besar atau tekad yang menyala. Lebih halus dari itu—dorongan kecil untuk tidak terlihat diam terlalu lama di tengah orang-orang yang sedang bergerak.

Aku mengenalnya dengan cukup baik.

Dari kebiasaan memilih berdiri di tempat yang terasa tepat—cukup dekat untuk terlihat terlibat, tapi tidak cukup dekat untuk benar-benar diminta melakukan sesuatu. Dari anggukan-anggukan kecil pada percakapan yang tidak sepenuhnya kuikuti, seolah-olah aku bagian dari sesuatu yang sedang diputuskan.

Aku tidak tahu kapan mulai belajar itu. Mungkin dari momen-momen canggung ketika semua orang tampak punya peran, dan aku tidak. Diam terasa seperti kesalahan yang bisa dilihat orang lain.

Jadi aku bergerak. Bukan karena ada yang harus dikerjakan, tapi karena ada yang harus ditutupi.

Aku memegang apa saja yang bisa dipegang. Menggeser sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipindahkan. Berpindah beberapa langkah, lalu berhenti dengan wajah yang cukup serius supaya terlihat seperti sedang berpikir.

Gerakan kecil, berulang, dan—kalau diperhatikan lebih lama—tidak pernah benar-benar menghasilkan apa pun.

Dan yang paling memalukan, aku cukup meyakinkan saat melakukannya.

Aku pernah menyadarinya dengan terlalu jelas. Tanganku ikut menempel pada sesuatu yang tidak membutuhkan bantuanku. Aku menyentuh, menahan, menyesuaikan posisi dengan ekspresi yang tepat—seolah-olah tanpa aku, semuanya akan sedikit lebih berat.

Padahal tidak ada yang berubah.

Ada jeda-jeda kecil ketika aku hampir berhenti. Tapi selalu ada dorongan untuk segera mengisinya—bukan dengan sesuatu yang perlu, hanya sesuatu yang terlihat cukup perlu. Kekosongan itu terasa terlalu jelas, dan aku tidak pernah benar-benar tahu harus berbuat apa dengannya.

Beban tetap terangkat. Pekerjaan tetap berjalan. Bahkan tanpa aku, semuanya tetap sampai di tempatnya.

Aku hanya menambahkan satu sendok gula dalam lautan.

Dan entah bagaimana, itu terasa cukup.

Cukup untuk tidak ditanya. Cukup untuk tidak terlihat diam. Cukup untuk percaya—sedikit saja—bahwa aku memang sedang melakukan sesuatu.

Sampai kemudian aku menyadari, tiang itu masih kupegangi seolah akan runtuh jika kulepaskan. Sementara yang lain, sudah lama pergi.

 

back ------- next


Posting Komentar

0 Komentar