Keinginan ini jarang diakui: terlihat berguna, tanpa benar-benar harus
menjadi berguna.
Ia tidak berisik. Tidak datang sebagai ambisi besar atau tekad yang menyala.
Lebih halus dari itu—dorongan kecil untuk tidak terlihat diam terlalu lama di
tengah orang-orang yang sedang bergerak.
Aku mengenalnya dengan cukup baik.
Dari kebiasaan memilih berdiri di tempat yang terasa tepat—cukup dekat untuk
terlihat terlibat, tapi tidak cukup dekat untuk benar-benar diminta melakukan
sesuatu. Dari anggukan-anggukan kecil pada percakapan yang tidak sepenuhnya
kuikuti, seolah-olah aku bagian dari sesuatu yang sedang diputuskan.
Aku tidak tahu kapan mulai belajar itu. Mungkin dari momen-momen canggung
ketika semua orang tampak punya peran, dan aku tidak. Diam terasa seperti
kesalahan yang bisa dilihat orang lain.
Jadi aku bergerak. Bukan karena ada yang harus dikerjakan, tapi karena ada
yang harus ditutupi.
Aku memegang apa saja yang bisa dipegang. Menggeser sesuatu yang sebenarnya
tidak perlu dipindahkan. Berpindah beberapa langkah, lalu berhenti dengan wajah
yang cukup serius supaya terlihat seperti sedang berpikir.
Gerakan kecil, berulang, dan—kalau diperhatikan lebih lama—tidak pernah
benar-benar menghasilkan apa pun.
Dan yang paling memalukan, aku cukup meyakinkan saat melakukannya.
Aku pernah menyadarinya dengan terlalu jelas. Tanganku ikut menempel pada
sesuatu yang tidak membutuhkan bantuanku. Aku menyentuh, menahan, menyesuaikan
posisi dengan ekspresi yang tepat—seolah-olah tanpa aku, semuanya akan sedikit
lebih berat.
Padahal tidak ada yang berubah.
Ada jeda-jeda kecil ketika aku hampir berhenti. Tapi selalu ada dorongan
untuk segera mengisinya—bukan dengan sesuatu yang perlu, hanya sesuatu yang
terlihat cukup perlu. Kekosongan itu terasa terlalu jelas, dan aku tidak pernah
benar-benar tahu harus berbuat apa dengannya.
Beban tetap terangkat. Pekerjaan tetap berjalan. Bahkan tanpa aku, semuanya
tetap sampai di tempatnya.
Aku hanya menambahkan satu sendok gula dalam lautan.
Dan entah bagaimana, itu terasa cukup.
Cukup untuk tidak ditanya. Cukup untuk tidak terlihat diam. Cukup untuk
percaya—sedikit saja—bahwa aku memang sedang melakukan sesuatu.
Sampai kemudian aku menyadari, tiang itu masih kupegangi seolah akan runtuh
jika kulepaskan. Sementara yang lain, sudah lama pergi.

0 Komentar