Aku hidup tanpa ambisi, setidaknya begitu yang sering kukatakan dengan wajah
tenang dan bahu sedikit diturunkan, seolah ambisi itu barang berat yang sengaja
kutinggalkan di rumah. Aku menyebutnya pilihan sadar. Aku mengklaim diriku
bebas dari kejar-kejaran. Aku duduk di bangku penonton sambil mengatakan bahwa
pertandingan tidak penting. Anehnya, aku tetap mencuri-curi pandang ke papan
skor.
Aku tidak memasang target. Target membuatku gelisah, membuat pagi terasa
seperti daftar utang. Jadi aku membiarkan hari datang apa adanya. Bangun,
bekerja secukupnya, menunda secukupnya, lalu menyebutnya keseimbangan. Aku
merasa cerdas karena tidak memberi tekanan pada diri sendiri. Padahal, jauh di
dalam, ada bisikan kecil yang rajin menghitung: kalau saja ini berhasil,
sedikit saja, tidak usah besar-besar.
Aku sering menertawakan orang yang terlalu berambisi. Terlihat capek,
kataku. Terlihat haus, kataku lagi. Aku menonton mereka berlari sambil berjalan
santai di pinggir lintasan. Aku merasa unggul karena tidak ikut berkeringat.
Tapi ketika salah satu dari mereka tersenyum di garis akhir, aku berpaling
sambil mengunyah perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan iri, tentu saja. Hanya
rasa ingin tahu yang terlalu lama dipelihara.
Aku menyebut diriku tidak peduli pada hasil. Proses adalah segalanya,
kataku, dengan nada orang yang pernah membaca satu-dua kutipan motivasi lalu
menyimpannya sebagai tameng. Aku menikmati proses dengan cara paling aman:
tidak terlalu serius, tidak terlalu jauh. Aku berjalan setengah langkah, agar
jika gagal, aku bisa berkata, “Memang dari awal tidak berniat ke sana.” Kalimat
itu terasa empuk saat dijadikan alas jatuh.
Di kepalaku, aku sering berdialog dengan versi diriku yang lebih berani.
Versi itu bertanya kenapa aku tidak mencoba sedikit lebih keras. Aku menjawab
dengan santai, bahwa hidup bukan lomba. Ia mengangguk, tapi aku tahu ia tidak
sepenuhnya setuju. Ia melihat harapanku yang kusembunyikan di laci paling
bawah, dibungkus kain tipis bernama ketidaksengajaan.
Aku ini ahli dalam berpura-pura tidak menginginkan apa-apa. Keahlian yang
kulatih lama. Aku mengasahnya setiap kali berkata, “Kalau dapat ya syukur,
kalau tidak juga tidak apa-apa,” sambil berharap semesta mendengar bagian
pertamanya saja. Aku tidak memasang bendera, tapi aku berdiri cukup dekat
dengan garis finish, sekadar untuk merasakan sensasinya.
Ada kesenangan aneh dalam hidup tanpa ambisi. Rasanya ringan, seperti tas
kosong yang bisa kubanggakan. Tapi tas kosong juga mudah terasa berat ketika
aku mulai mengisinya dengan harapan-harapan kecil yang pura-pura tidak penting.
Aku bilang pada diriku bahwa aku santai. Padahal aku hanya takut kecewa jika
mengakui keinginan secara utuh.
Aku sering memuji diriku sebagai orang yang realistis. Tidak berharap
terlalu tinggi, tidak jatuh terlalu dalam. Aku lupa bahwa harapan yang ditekan
tidak benar-benar hilang; ia hanya belajar bersembunyi. Ia muncul dalam doa
yang setengah serius, dalam candaan yang terlalu sering diulang, dalam kalimat,
“Seandainya saja.”
Yang paling lucu—atau mungkin paling memalukan—adalah saat aku membayangkan
keberhasilan datang sendiri, seperti tamu tak diundang yang sopan. Aku
membayangkan ia mengetuk pelan, lalu berkata, “Aku tahu kamu tidak menungguku,
tapi aku mampir sebentar.” Aku menyiapkan kursi darurat di kepalaku untuk
kemungkinan itu. Kursi itu tidak pernah kulipat, hanya kusimpan di sudut,
berjaga.
Aku mengaku tidak mengejar apa-apa, tapi aku tetap menoleh saat namaku
dipanggil. Aku tidak mengincar pengakuan, tapi aku cepat-cepat mengecek apakah
namaku disebut. Aku hidup datar di permukaan, tapi berdoa dalam-dalam agar
suatu hari ada riak kecil yang bisa kusebut keberuntungan.
Pelan-pelan aku mengerti, hidup tanpa ambisi bukan berarti bebas dari
harapan. Ia hanya cara halus untuk tidak bertanggung jawab penuh pada keinginan
sendiri. Aku ingin berhasil tanpa terlihat ingin. Aku ingin sampai tanpa harus
mengaku sedang berjalan. Aku ingin menang tanpa harus mendaftar pertandingan.
Sekarang aku bisa menertawakan diriku sendiri. Bukan dengan keras, hanya
senyum tipis yang agak perih. Aku tahu aku tidak benar-benar tanpa ambisi. Aku
hanya ingin selamat dari kemungkinan gagal. Dan itu, ironisnya, adalah ambisi
yang paling setia: ingin berhasil tanpa harus menanggung risiko mengakuinya.

0 Komentar