Aku memilih diam dengan alasan yang terdengar masuk akal di kepalaku
sendiri. Alasannya rapi, berurutan, seperti catatan kecil yang kutempel di
dahi: agar tidak salah ucap, agar tidak perlu meralat, agar tidak membuat
pekerjaan tambahan bernama penjelasan. Aku mengira diam adalah bentuk
efisiensi. Hemat energi, hemat emosi, hemat kemungkinan. Ternyata aku lupa satu
hal kecil: aku sering salah membaca situasi, terutama saat terlalu yakin dengan
niat baikku sendiri.
Diamku bukan karena bijak. Lebih sering karena malas berhadapan dengan versi
diriku yang gagap. Aku tidak pandai memilih kata secara spontan. Kalimatku
sering datang terlambat, seperti bus yang berhenti di halte setelah
penumpangnya pulang. Maka aku berdiri saja, berpura-pura sedang menunggu,
padahal sebenarnya takut naik. Aku menyebutnya tenang, padahal lebih mirip
menunda.
Aku berharap diam bisa bekerja seperti tombol jeda. Semua berhenti, semua
menunggu, lalu berjalan lagi dengan tempo yang sama. Kenyataannya, jeda itu
diisi dengan tafsir. Dan anehnya, aku merasa berhak kecewa ketika tafsir itu
tidak sesuai harapanku. Padahal aku sendiri yang menolak memberi keterangan.
Seperti mengirim paket tanpa alamat lalu heran kenapa ia berputar-putar.
Sering kali aku menganggap kepalaku pusat kendali. Aku lupa bahwa orang lain
tidak diberi buku petunjuk tentang cara membaca wajahku. Aku menaruh maksud di
saku, berharap orang lain cukup peka untuk menemukannya. Ketika maksud itu tak
ditemukan, aku menghela napas panjang—seolah napas bisa menggantikan kalimat
yang tidak pernah kukirim.
Aku ini tipe orang yang menutup pintu perlahan lalu kaget mendengar bunyi
kunci. Kupikir keheningan itu sopan. Kupikir ia cukup menjelaskan bahwa aku
sedang berhati-hati. Nyatanya, kehati-hatian tanpa penanda mudah terbaca
sebagai jarak. Dan jarak, tanpa jembatan, sering diisi asumsi. Aku kesal, lalu
sadar: kesal pun adalah reaksi yang tak kukomunikasikan dengan baik.
Aku pernah berlatih menjelaskan di kepala, tapi lupa memindahkannya ke
mulut. Di kepala, semuanya lancar. Di luar, aku hanya mengangguk. Anggukan yang
ambigu, terlalu lentur untuk ditafsirkan satu arah. Aku kecewa ketika anggukan
itu diartikan macam-macam, padahal akulah yang membiarkannya longgar.
Yang membuatku tersenyum miring adalah kesetiaanku pada diam, seolah ia
sahabat lama yang selalu membelaku. Padahal ia sering meninggalkanku sendirian
di tengah percakapan yang sudah berganti topik. Aku berdiri di sana, membawa
maksud yang sudah basi, lalu menyimpannya lagi untuk lain waktu. Waktu itu
jarang datang.
Aku juga gemar memberi nilai tinggi pada ketenangan. Aku memujinya sebagai
kedewasaan. Aku menaruhnya di rak paling atas, lalu lupa bahwa rak tinggi sulit
dijangkau tanpa tangga. Aku ingin dihargai karena menahan diri, tapi lupa
memberi tahu apa yang kutahan. Harapan tanpa pemberitahuan adalah undangan yang
tidak pernah terkirim.
Kadang aku berpikir, mungkin aku terlalu menikmati posisi aman: tidak salah
bicara karena tidak bicara. Tidak disanggah karena tidak menyatakan. Aman, tapi
kosong. Seperti kursi yang selalu tersedia karena tidak ada yang tahu ia boleh
diduduki. Aku duduk sendiri, lalu bertanya kenapa ruangan terasa sepi.
Aku mulai belajar bahwa diam bukan janji. Ia hanya pilihan, dengan
konsekuensinya sendiri. Aku tidak perlu membenarkannya dengan alasan besar.
Cukup mengakui bahwa aku sering bersembunyi di baliknya. Mengakui bahwa
sebagian kebingungan yang muncul adalah hasil keputusanku sendiri. Bukan
kesalahan siapa pun, hanya rangkaian pilihan kecil yang terasa nyaman saat diambil.
Sekarang, ketika aku diam, aku mencoba jujur pada diriku: apakah ini perlu,
atau hanya kebiasaan lama yang kuberi nama baru. Kadang aku tetap memilih diam.
Kadang aku bicara terbata. Keduanya tidak istimewa. Keduanya hanya cara
berjalan. Dan jika langkahku masih sering melenceng, setidaknya aku tahu: aku
yang memegang peta, meski sering membacanya terbalik.

0 Komentar