Ada orang yang ditakdirkan menjadi pemberani. Mereka lahir dengan nyali yang sudah diasah sejak dalam kandungan, melangkah ke depan karena memang itu tempat mereka. Mereka melihat jurang dan melompat karena ingin tahu apa yang ada di bawah. Sementara aku tidak seperti itu. Aku melangkah karena tahu persis apa yang terjadi jika aku tetap berdiri di tepi—seperti batu yang diikat di kaki dan ditenggelamkan pelan-pelan.
Mengejutkannya, aku sering disebut
berani setelahnya. Kata itu datang dengan nada kagum, seperti pujian untuk
orang yang baru saja memotong tali parasut sendiri. Padahal aku tahu
rahasianya: aku melakukannya karena takut. Takut yang bukan jeritan malam atau
keringat dingin, tapi takut yang terlatih—takut akan versi diriku yang lebih
kecil jika aku mundur. Takut yang datang dengan sepatu bersih dan suara rendah,
menyuruhku maju karena diam akan lebih mahal biayanya.
Orang melihat hasilnya: aku
berhasil. Aku melewati. Aku sampai. Mereka mengangguk, tersenyum, lalu memasang
medali “pemberani” di dadaku seperti stiker hadiah yang tidak kuminta. Aku
menerimanya dengan senyum pasrah, karena membantah terasa lebih melelahkan
daripada berpura-pura. Satu hal pasti yang aku mengerti, aku yang menghabiskan
malam memetakan semua kemungkinan gagal malah dipuji atas keberanian yang
sebenarnya cuma strategi bertahan.
Aku tidak pernah meloncat dengan
alasan yakin mendarat selamat. Aku meloncat karena takut terjebak di tepi
terlalu lama, takut penyesalan itu tumbuh jadi pohon yang akarnya menjerat
kakiku sendiri. Aku berjalan dengan tempo yang sudah kuperhitungkan, menghitung
langkah seperti menghitung napas di ruang sempit. Setiap keputusan seperti
memilih gelas di rak tinggi—aku tahu kalau jatuh akan pecah, jadi aku pakai
kursi kecil yang goyah tapi cukup untuk menjangkau. Orang melihat aku mengambil
gelas itu dengan mantap. Padahal aku tahu kursinya hampir roboh.
Ada kelucuan kering ketika aku sadar
betapa rajinnya aku mempersiapkan “keberanian” ini. Menghitung jeda serta memilih
kata yang tidak akan membuatku tersandung. Aku tahu persis di mana aku bisa
jatuh, jadi aku pasang bantalan kecil di sana—bantalan yang orang lain anggap
sebagai keyakinan. Aku tersenyum sendiri setiap kali ingat: takutku ini
ternyata produktif. Ia membuatku lebih teliti daripada orang yang benar-benar
pemberani. Mereka berlari tanpa melihat ke bawah. Aku berjalan pelan karena
tahu persis lubang yang aku gali sendiri dari malam sebelumnya.
Aku tidak memusuhi takutku. Kami
sudah lama berteman. Ia sudah jadi teman serumah yang terlalu sering datang
tanpa diundang. Kadang aku menggodanya dengan tawa kecil. Ia tidak menanggapinya.
Ia memang tidak senang bercanda. Hanya mengingatkanku untuk memeriksa kunci
tiga kali sebelum keluar. Dan aku patuh, karena tahu tanpanya, aku mungkin
sudah terlalu percaya diri untuk terjerembab dengan gaya yang lebih memalukan.
Jadi jika orang menyebutku
pemberani, aku tidak membantah. Aku hanya tersenyum—senyum yang tahu rahasia
kecil: keberanianku bukan karena tidak takut, tapi karena takut yang tahu cara
menyamar jadi langkah yang terlihat mantap.

0 Komentar