AKU BERANI KARENA AKU TAKUT

Es Es - Ikon Blog

 Ada orang yang ditakdirkan menjadi pemberani. Mereka lahir dengan nyali yang sudah diasah sejak dalam kandungan, melangkah ke depan karena memang itu tempat mereka. Mereka melihat jurang dan melompat karena ingin tahu apa yang ada di bawah. Sementara aku tidak seperti itu. Aku melangkah karena tahu persis apa yang terjadi jika aku tetap berdiri di tepi—seperti batu yang diikat di kaki dan ditenggelamkan pelan-pelan.

Mengejutkannya, aku sering disebut berani setelahnya. Kata itu datang dengan nada kagum, seperti pujian untuk orang yang baru saja memotong tali parasut sendiri. Padahal aku tahu rahasianya: aku melakukannya karena takut. Takut yang bukan jeritan malam atau keringat dingin, tapi takut yang terlatih—takut akan versi diriku yang lebih kecil jika aku mundur. Takut yang datang dengan sepatu bersih dan suara rendah, menyuruhku maju karena diam akan lebih mahal biayanya.

Orang melihat hasilnya: aku berhasil. Aku melewati. Aku sampai. Mereka mengangguk, tersenyum, lalu memasang medali “pemberani” di dadaku seperti stiker hadiah yang tidak kuminta. Aku menerimanya dengan senyum pasrah, karena membantah terasa lebih melelahkan daripada berpura-pura. Satu hal pasti yang aku mengerti, aku yang menghabiskan malam memetakan semua kemungkinan gagal malah dipuji atas keberanian yang sebenarnya cuma strategi bertahan.

Aku tidak pernah meloncat dengan alasan yakin mendarat selamat. Aku meloncat karena takut terjebak di tepi terlalu lama, takut penyesalan itu tumbuh jadi pohon yang akarnya menjerat kakiku sendiri. Aku berjalan dengan tempo yang sudah kuperhitungkan, menghitung langkah seperti menghitung napas di ruang sempit. Setiap keputusan seperti memilih gelas di rak tinggi—aku tahu kalau jatuh akan pecah, jadi aku pakai kursi kecil yang goyah tapi cukup untuk menjangkau. Orang melihat aku mengambil gelas itu dengan mantap. Padahal aku tahu kursinya hampir roboh.

Ada kelucuan kering ketika aku sadar betapa rajinnya aku mempersiapkan “keberanian” ini. Menghitung jeda serta memilih kata yang tidak akan membuatku tersandung. Aku tahu persis di mana aku bisa jatuh, jadi aku pasang bantalan kecil di sana—bantalan yang orang lain anggap sebagai keyakinan. Aku tersenyum sendiri setiap kali ingat: takutku ini ternyata produktif. Ia membuatku lebih teliti daripada orang yang benar-benar pemberani. Mereka berlari tanpa melihat ke bawah. Aku berjalan pelan karena tahu persis lubang yang aku gali sendiri dari malam sebelumnya.

Aku tidak memusuhi takutku. Kami sudah lama berteman. Ia sudah jadi teman serumah yang terlalu sering datang tanpa diundang. Kadang aku menggodanya dengan tawa kecil. Ia tidak menanggapinya. Ia memang tidak senang bercanda. Hanya mengingatkanku untuk memeriksa kunci tiga kali sebelum keluar. Dan aku patuh, karena tahu tanpanya, aku mungkin sudah terlalu percaya diri untuk terjerembab dengan gaya yang lebih memalukan.

Jadi jika orang menyebutku pemberani, aku tidak membantah. Aku hanya tersenyum—senyum yang tahu rahasia kecil: keberanianku bukan karena tidak takut, tapi karena takut yang tahu cara menyamar jadi langkah yang terlihat mantap.


back ------- next

Posting Komentar

0 Komentar