Di depan orang lain, aku berdiri dengan postur yang kupelajari dari cermin
dan pengamatan singkat di ruang tunggu. Bahu sedikit ditarik, dagu pada
ketinggian aman, suara dijaga agar tidak pecah di tengah kalimat. Ini bukan
keberanian. Ini tata cara. Seperti mengenakan jaket yang ukurannya pas—cukup
rapi untuk tidak ditanya, cukup hangat untuk menahan gemetar yang datang tanpa
undangan.
Aku tahu betul apa yang terjadi jika aku berhenti sebentar saja. Jika aku
membuka resleting dan membiarkan udara masuk, yang muncul bukan kejujuran,
melainkan kekacauan kecil yang sulit ditutup kembali. Jadi aku bicara dengan
tempo yang kupinjam, tertawa pada momen yang kupilih, dan mengangguk sebelum
diminta. Dari luar, semuanya tampak lancar. Dari dalam, aku menghitung jarak ke
kursi terdekat, berjaga-jaga jika lutut memutuskan untuk tidak bekerja sama.
Ada humor kering di cara ini. Aku tersenyum karena sadar betapa seriusnya
aku mengatur kesan, seperti pelayan yang merapikan meja yang sudah bersih.
Kerapian itu bukan untuk dipuji, hanya untuk menghindari pertanyaan lanjutan.
Aku tidak ingin ditanya “kenapa,” karena jawaban-jawaban itu cenderung
berantakan, dan aku tidak membawa kantong cadangan untuk menampungnya.
Ketika aku tampak mantap, itu karena aku tahu betul bentuk rapuhku.
Pengetahuan itu praktis. Ia memberiku peta area rawan, tanda peringatan, dan
rute evakuasi. Aku tidak berjalan sembarangan; aku mengikuti garis yang
kupelajari dari pengalaman tersandung. Setiap langkah terlihat mantap karena
aku ingat persis di mana lantai pernah licin.
Baru di titik ini kata-kata yang dihindari tadi mulai masuk pelan-pelan.
Rasa yakin yang kutampilkan bukan kebanggaan, melainkan strategi. Aku
menyalakannya seperti lampu lorong—cukup terang agar orang lain lewat tanpa
menabrak, cukup redup agar tidak menyorot sudut-sudut yang belum rapi. Di balik
cahaya itu, ada bagian diriku yang memilih diam, menunggu giliran, atau mungkin
tidak ingin keluar sama sekali.
Aku pernah mencoba tampil apa adanya. Hasilnya bukan pembebasan, melainkan
keheningan yang canggung. Orang-orang tidak menjadi lebih dekat; mereka menjadi
lebih berhati-hati. Dari situ aku belajar: jika aku tidak menyamarkan, yang
terlihat bukan kejujuran yang hangat, melainkan kegamangan yang dingin. Jadi
aku kembali merapikan jaket, menutup resleting, dan berjalan seperti biasa.
Ada getir kecil ketika menyadari betapa efektifnya peran ini. Ia bekerja
karena sederhana: menutup kekusaman dengan cat tipis. Aku tidak perlu menipu
siapa pun; aku hanya perlu tidak membuka pintu terlalu lebar. Dengan begitu,
yang tampak adalah seseorang yang siap, bukan seseorang yang sedang menimbang
apakah ia pantas berada di sebuah ruang pameran.

0 Komentar