Menerima kekurangan sering terdengar seperti langkah yang selesai lebih
cepat dari seharusnya. Seperti merapikan meja yang berantakan dengan
memindahkan semuanya ke satu sisi, lalu menyebutnya tertata. Tidak ada yang
benar-benar hilang, hanya dipindahkan ke tempat yang tidak terlalu terlihat.
Awalnya terasa ringan. Tidak perlu lagi memaksa
diri jadi versi yang lebih rapi. Tidak perlu terus membandingkan dengan bentuk
ideal yang selalu terasa sedikit di luar jangkauan. Seperti memakai baju yang
sedikit longgar: tidak pas, tapi cukup nyaman untuk tidak dipermasalahkan.
Aku pun mulai terbiasa dengan kalimat-kalimat
yang menenangkan. Bahwa tidak semua hal harus diperbaiki. Bahwa tidak semua
sisi perlu diasah. Kalimat-kalimat itu bekerja dengan baik, seperti obat yang
tidak menyembuhkan tapi cukup meredakan. Pelan-pelan, dorongan untuk mengubah
sesuatu mulai berkurang, bukan karena sudah selesai, tapi karena sudah tidak
terasa mendesak.
Di beberapa kesempatan, keputusan untuk
berhenti mencoba terasa masuk akal. Seperti berhenti memperbaiki kursi yang
sudah lama goyah, lalu menyesuaikan cara duduk agar tidak terlalu terasa
miring. Masalahnya tidak hilang, hanya dipelajari cara menghindarinya. Dan
selama tidak terlalu mengganggu, itu dianggap cukup.
Aku mulai mengenali pola kecil itu.
Bagian-bagian yang dulu ingin disentuh, diperbaiki, atau setidaknya dipahami,
perlahan dibiarkan begitu saja. Bukan karena sudah selesai, tapi karena sudah
diterima. Ada rasa tenang yang datang, tapi tenang yang tidak benar-benar
bertanya apakah semuanya memang sudah pada tempatnya.
Pelan-pelan, arah mulai bergeser tanpa terasa.
Bukan perubahan yang besar, hanya selisih kecil yang dibiarkan berulang.
Seperti berjalan sedikit miring dari garis lurus, lalu terus melangkah tanpa
merasa perlu kembali. Selama langkahnya masih terasa stabil, arah tidak terlalu
dipikirkan.
Aku sempat berhenti sebentar, bukan untuk
memperbaiki arah, hanya untuk memastikan semuanya masih terasa wajar.
Langkahnya masih sama, ritmenya tidak berubah, dan tidak ada yang benar-benar
mengganggu.
Lalu entah bagaimana, datang jeda kecil yang
tidak direncanakan. Bukan karena sesuatu terjadi, tapi karena tiba-tiba terasa
ada yang tidak bisa dijelaskan. Seperti sedang berdiri di tempat yang
seharusnya dikenal, tapi tidak benar-benar terasa akrab.
Sebentar!
Ini
sebenarnya sedang di mana?

0 Komentar