Sambal selalu datang dengan reputasi yang jelas. Tidak pernah pura-pura.
Warnanya sudah memberi peringatan, aromanya juga tidak berusaha menenangkan.
Semua tanda itu cukup untuk menyimpulkan satu hal sederhana: ini akan pedas,
dan kemungkinan besar tidak cocok dengan perut yang sensitif.
Aku tahu itu. Pengalaman sudah cukup banyak
untuk dijadikan arsip kecil yang seharusnya bisa dijadikan referensi. Tapi
anehnya, setiap kali sambal hadir, ada bagian kecil di kepala yang berkata,
“Mungkin kali ini beda.” Entah beda dari mana, padahal sambalnya juga tidak
pernah ikut rapat untuk berubah.
Suapan pertama selalu terasa seperti keputusan
yang cukup masuk akal. Tidak terlalu banyak, masih bisa dikendalikan. Bahkan
kadang muncul rasa percaya diri yang berlebihan, seolah-olah tubuh ini sudah
naik level dan siap menghadapi sesuatu yang selama ini dihindari. Sampai
akhirnya rasa pedas itu benar-benar datang, tidak terburu-buru, tapi pasti.
Di titik itu, logika mulai mundur pelan-pelan.
Bukan keputusan yang disalahkan, tapi sambalnya. Terlalu pedas. Tidak
kira-kira. Tidak tahu diri. Seolah-olah masalahnya ada di sana, bukan di
keputusan yang dengan sadar memilih mencolek sesuatu yang dari awal sudah jelas
sifatnya.
Aku tetap makan.
Bukan karena kuat, tapi karena berhenti di
tengah serasa berdosa. Ada semacam komitmen aneh untuk menyelesaikan apa yang
sudah dimulai, meskipun sejak awal sebenarnya tidak perlu dimulai. Setiap
suapan berikutnya terasa seperti negosiasi yang gagal: mencoba mengurangi
pedas, tapi tetap menambah sambal sedikit lagi, seolah-olah solusi dari
kepedasan adalah menambah sumbernya.
Tubuh mulai protes dengan cara yang cukup
jelas. Tapi anehnya, protes itu tidak langsung diterjemahkan sebagai kesalahan
pilihan. Lebih mudah menyalahkan sambalnya yang “berlebihan” daripada mengakui
bahwa keputusan awalnya memang tidak terlalu cerdas.
Aku sempat berhenti sejenak, minum air,
menarik napas, lalu kembali lagi. Seperti lupa bahwa yang membuat berhenti
barusan adalah hal yang sama yang sekarang disentuh lagi.
Aku tahu ini tidak akan berakhir dengan baik,
tapi tetap saja dilanjutkan. Lagi pula, dari awal yang bermasalah memang
sambalnya.

0 Komentar