Sisa Cahaya
Mereka yang selamat dari perang di lembah batu berjalan tanpa arah selama empat puluh musim. Langit seolah menutup diri; bintang-bintang tampak redup, seakan ikut berduka atas apa yang telah terjadi. Hujan turun jarang, dan tanah menjadi keras seperti ingin menolak pijakan manusia.
Tana masih hidup, meski matanya kehilangan cahaya. Api perang telah mengambil banyak hal darinya, termasuk keyakinan bahwa manusia bisa belajar dari kesalahan. Namun, setiap kali ia menatap matahari terbit di balik kabut, ia merasakan sesuatu yang lembut—seolah bumi masih mau memaafkan.
Suatu hari, dalam perjalanannya ke arah barat bersama tujuh pengikut terakhirnya, mereka menemukan lembah luas yang subur, diapit pegunungan berwarna keemasan. Di tengah lembah itu ada batu besar menyerupai telur, retak di satu sisi, memancarkan cahaya samar.
“Batu Jiwa?” tanya salah satu dari mereka.
Tana menggeleng pelan.
“Bukan. Tapi mungkin, ini adalah sisa cahayanya.”
Ia menamai tempat itu Tanah Sinar, dan di sanalah mereka mulai membangun kehidupan baru—bukan dengan meniru masa lalu, tetapi dengan mengingatnya. Mereka mengajarkan anak-anak mereka untuk menghormati bumi, menulis dengan simbol yang lebih sederhana, dan menyalakan api hanya untuk kehangatan, bukan untuk perang.
Tana menua di sana. Sebelum meninggal, ia berpesan,
“Jika suatu hari ada yang datang membawa cahaya lebih terang dari ini, jangan menolaknya. Tapi jangan pula membiarkan cahaya itu membakar kalian.”
Setelah kematiannya, pengikutnya membuat batu peringatan di tengah desa. Di atasnya diukir simbol matahari yang separuh tertutup awan—lambang bahwa pengetahuan harus disertai kesadaran.
Waktu berlalu. Tanah Sinar berkembang menjadi permukiman besar, tempat perdagangan, cerita, dan keajaiban.
Namun di antara para pengelana yang datang, mulai terdengar kabar tentang suku dari utara yang mencari “cahaya lama yang hilang”—suku yang mengaku keturunan Rohag.
Dan sekali lagi, sejarah berputar pelan, seperti bara yang menunggu tiupan angin.

0 Komentar