Api Pertama
Pada awalnya, perbedaan hanyalah bisik kecil di antara mereka yang berkumpul di lembah batu. Ada yang percaya bahwa Batu Jiwa hanyalah penanda masa lalu—sesuatu untuk diingat, bukan untuk dikuasai. Namun sebagian lain yakin batu itu adalah kunci menuju kekuatan yang hilang, warisan para dewa laut yang dulu menenggelamkan dunia.
Dua keyakinan itu tumbuh seperti akar di tanah yang sama, saling lilit dan saling cekik.
Tana, sang anak gembala yang pertama kali menemukan batu itu, masih menjaga batu di dalam gua suci di bawah bukit. Ia ingin melindunginya, bukan memanfaatkannya. Tapi di malam ke-77 setelah batu dibawa ke desa, datanglah seorang lelaki yang menamakan dirinya Rohag, keturunan dari penjaga timur. Ia berbicara dengan suara bergetar, seolah membawa nubuat.
“Batu itu bukan untuk disembunyikan. Ia adalah jantung dunia. Siapa yang mampu mendengarnya, akan menguasai segalanya.”
Rohag mendirikan api unggun besar di tengah lembah, memanggil pengikutnya, dan mulai menulis simbol-simbol cahaya di tanah. Malam itu langit tampak berbeda—bintang-bintang bergetar seperti sedang mendengarkan.
Tana mencoba menghentikannya, tapi kata-katanya kalah oleh rasa ingin tahu manusia.
Keesokan harinya, dua kelompok terbentuk.
Yang satu menyebut diri mereka Penjaga Batu, yang lain Penyala Cahaya.
Awalnya mereka hanya berdebat, lalu berteriak, lalu saling lempar batu.
Dan ketika darah pertama menetes di atas tanah yang baru kering dari laut purba, dunia bergetar halus. Api pertama lahir.
Malam itu, langit seakan bernyanyi dalam bahasa yang tidak dimengerti siapa pun. Batu Jiwa memancarkan cahaya merah yang belum pernah terlihat.
Dalam bisikan samar, ia berkata kepada Tana:
“Mereka memilih jalan yang sama seperti pendahulunya. Tapi dari abu, akan lahir pemahaman baru.”
Ketika fajar tiba, lembah batu telah menjadi padang arang. Orang-orang berserakan, sebagian hilang, sebagian pergi membawa ingatan samar tentang batu itu.
Perang pertama usai, tapi bekasnya menempel di dalam darah semua manusia yang selamat. Dari generasi ke generasi, kenangan tentang “api suci” itu berubah menjadi mitos, lagu, dan doa.
Dan jauh di dalam bumi, Batu Jiwa kembali berdiam diri—menunggu manusia berikutnya yang cukup tenang untuk mendengarnya tanpa rasa ingin menguasai.

0 Komentar