DUNIA SEBELUM KITA (V)

 



Ketika Batu Bicara

Seribu musim berlalu. Hujan tak lagi membawa ketakutan, hanya kenangan samar tentang laut yang pernah menelan langit. Manusia baru telah menyebar — di lembah, di tepi sungai, di bukit-bukit muda yang masih mengeluarkan uap bumi. Mereka telah belajar menanam, membangun, dan menunggu.
Namun di antara mereka, ada yang mulai bermimpi lebih jauh.

Suatu malam, seorang anak gembala bernama Tana menemukan batu yang berbeda dari yang lain. Batu itu bergetar lembut saat disentuh, seolah memiliki denyut nadi. Ia tidak tahu mengapa, tapi sejak malam itu, mimpinya berubah: ia melihat kota yang bercahaya di bawah air, menara kristal yang retak, dan suara ribuan jiwa yang berbisik,

“Bangkitkan yang hilang… tapi jangan ulangi yang sama.”

Tana mencoba menceritakan mimpinya, namun orang-orang desa menganggapnya gila. Hanya seorang tua, penjaga api suci di lembah timur, yang percaya. Ia berkata pelan,

“Itu bukan sekadar batu. Itu ingatan dunia.”

Seiring waktu, batu itu menarik perhatian banyak orang. Saat mereka membawanya ke tengah desa, cahaya lembut muncul, menari di udara — membentuk simbol-simbol asing, menyerupai tulisan yang tak lagi dikenal.
Beberapa mulai menggambar ulang simbol itu di kulit pohon, di dinding gua, dan di tanah. Mereka tidak paham artinya, tapi saat melakukannya, mereka merasa damai. Seolah dunia ikut bernafas bersama mereka.

Dari situlah benih peradaban pertama tumbuh: bahasa, simbol, dan keyakinan. Mereka menyebut diri mereka Anak Bumi, dan menganggap batu itu sebagai perantara antara dunia lama dan dunia baru.
Namun di antara mereka juga muncul rasa haus akan kekuasaan — keinginan untuk memahami rahasia di balik cahaya batu itu. Sebagian ingin melindunginya, sebagian ingin memilikinya.
Dan seperti gema masa lalu yang berulang, perpecahan mulai muncul.

Malam itu, saat petir membelah langit, Tana menatap batu yang kini dikelilingi api unggun dan manusia yang berselisih. Dalam bisikan lembut, batu itu berkata padanya,

“Kita akan mulai lagi. Tapi tidak semua harus ikut.”


back ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar