Setelah Air Surut
Air tidak surut dalam sehari. Ia menunggu, menatap sunyi, lalu perlahan menyingkir dari daratan yang dulu menjadi kerajaan cahaya. Di antara puing dan karang yang membatu, lahirlah daratan-daratan baru — pulau-pulau kecil yang masih hangat oleh napas bumi. Dari sisa peradaban itu, hanya sedikit yang bertahan. Sebagian menjadi bayangan yang terombang-ambing di lautan, sebagian lain berubah menjadi kisah yang hanya diingat oleh angin.
Di sebuah lembah yang baru terbuka setelah laut mundur, muncul kelompok makhluk yang berbeda. Mereka bukan lagi penjaga energi, bukan pula penguasa mesin cahaya seperti pendahulu mereka. Mereka berjalan dengan kaki yang goyah, tangan yang gemetar, dan mata yang baru mengenal rasa takut. Namun di balik ketakutan itu, ada sesuatu yang baru — kesadaran akan kehilangan.
Kesadaran itu yang perlahan membentuk bahasa, doa, dan api. Mereka menamai bintang, memberi arti pada hujan, dan menyimpan kisah di batu. Tak ada lagi menara kristal atau kapal cahaya; yang tersisa hanya api di tengah malam dan suara nyanyian lirih tentang dunia yang tenggelam.
Batu Jiwa — entah nyata, entah simbol — tidak hilang sepenuhnya. Ia berdiam dalam darah dan nadi makhluk baru itu. Kadang muncul dalam mimpi seorang anak, kadang membisik di hati seorang ibu yang menatap langit malam. Ia menanamkan satu hal: hasrat untuk membangun kembali.
Maka, dari tangan-tangan yang gemetar itu, mulailah batu pertama diletakkan, kayu pertama disusun, kata pertama diucap. Dunia baru terbentuk, dengan manusia yang kini memanggil dirinya pengingat masa lalu. Mereka tidak tahu siapa yang menciptakan mereka, atau apa yang tenggelam sebelumnya — tapi di dada mereka, Bara Lama tetap berdenyut, menunggu waktu untuk bangkit lagi.

0 Komentar