Cermin dari Langit Lama
Zaman berganti. Generasi demi generasi berlalu. Dari suku-suku pemburu di hutan Sundaland, lahir kerajaan-kerajaan kecil di tepi sungai dan pantai. Manusia mulai menulis, membangun candi, menatap bintang, dan menamai segala sesuatu dengan kebanggaan. Mereka menyalakan api dan mengira telah menemukan rahasia langit.
Namun setiap kali mereka mengangkat batu untuk mendirikan kuil, setiap kali mereka menyalakan logam untuk menempa senjata, sesuatu dalam diri mereka berbisik — lirih tapi nyata:
“Kita pernah melakukan ini sebelumnya.”
Namun bersamaan dengan kemajuan itu, keserakahan bangkit kembali. Raja-raja berperang untuk menguasai batu tersebut. Mereka memecah bumi, membakar langit, dan menyulut perang yang tidak lagi dimenangkan dengan pedang, melainkan dengan cahaya yang melumat gunung dalam sekejap.
Para pendeta memperingatkan:
“Kalian memegang napas para dewa yang jatuh.”Tapi suara mereka tenggelam oleh gemuruh ambisi.
Langit mulai berubah merah, seperti dulu. Bumi retak. Gunung yang tidur kembali bergolak. Laut yang tenang naik dan menelan daratan. Dalam kekacauan itu, seorang perempuan muda menyelamatkan bayi di tepi sungai dan berbisik,
“Jika dunia ini harus berakhir, semoga anak ini menjadi awal yang baru.”
Ketika ombak besar datang, kota-kota runtuh. Peradaban manusia pertama pun sirna — hanya menyisakan mitos tentang “banjir besar” yang kelak dituturkan di berbagai bahasa dan agama.

0 Komentar