DUNIA SEBELUM KITA (III)

 


Cermin dari Langit Lama

Zaman berganti. Generasi demi generasi berlalu. Dari suku-suku pemburu di hutan Sundaland, lahir kerajaan-kerajaan kecil di tepi sungai dan pantai. Manusia mulai menulis, membangun candi, menatap bintang, dan menamai segala sesuatu dengan kebanggaan. Mereka menyalakan api dan mengira telah menemukan rahasia langit.

Namun setiap kali mereka mengangkat batu untuk mendirikan kuil, setiap kali mereka menyalakan logam untuk menempa senjata, sesuatu dalam diri mereka berbisik — lirih tapi nyata:

“Kita pernah melakukan ini sebelumnya.”

Di bawah kota mereka yang tumbuh, para peneliti dan tabib menemukan logam hitam aneh yang tidak meleleh di dalam api. Mereka menamainya batu jiwa, karena terasa hidup di tangan. Tak seorang pun tahu, itu adalah sisa dari teknologi Anu, yang telah lama dikubur laut.
Ketika mereka mulai meneliti batu itu, kejayaan mereka bertambah cepat: menara lebih tinggi, mesin lebih kuat, senjata lebih dahsyat.

Namun bersamaan dengan kemajuan itu, keserakahan bangkit kembali. Raja-raja berperang untuk menguasai batu tersebut. Mereka memecah bumi, membakar langit, dan menyulut perang yang tidak lagi dimenangkan dengan pedang, melainkan dengan cahaya yang melumat gunung dalam sekejap.

Para pendeta memperingatkan:

“Kalian memegang napas para dewa yang jatuh.”
Tapi suara mereka tenggelam oleh gemuruh ambisi.

Langit mulai berubah merah, seperti dulu. Bumi retak. Gunung yang tidur kembali bergolak. Laut yang tenang naik dan menelan daratan. Dalam kekacauan itu, seorang perempuan muda menyelamatkan bayi di tepi sungai dan berbisik,

“Jika dunia ini harus berakhir, semoga anak ini menjadi awal yang baru.”

Ketika ombak besar datang, kota-kota runtuh. Peradaban manusia pertama pun sirna — hanya menyisakan mitos tentang “banjir besar” yang kelak dituturkan di berbagai bahasa dan agama.

Namun laut, seperti ibu yang sabar, kembali menutup luka bumi dengan tenang.
Dan di bawah pusaran gelap samudra, batu jiwa kembali berkilau pelan, menunggu manusia lain menemukan dan mengulang kisahnya lagi.


back ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar