Jejak dari Dalam Tanah
Ribuan tahun telah berlalu sejak
laut menelan kota-kota cahaya. Daratan Sundaland telah pecah menjadi kepulauan
— yang kini disebut Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Di antara hutan lebat dan
gunung yang tidur, manusia baru mulai membangun peradabannya. Mereka belum
mengenal besi, belum mengenal bintang. Tapi naluri mereka menuntun untuk menggali,
mencari, dan bertanya.
Suatu ketika, di sebuah lembah yang
kini menjadi kaki Gunung Tangkuban Parahu, sekelompok manusia menemukan batu
aneh yang bercahaya samar di malam hari. Batu itu tidak seperti batu biasa —
halus, berkilau kebiruan, dan terasa hangat bila disentuh. Mereka mengira itu
hadiah dari para dewa. Tapi seorang tua di antara mereka, yang sering bermimpi
tentang kota di bawah laut, berbisik lirih,
“Ini bukan dari langit. Ini dari
masa yang telah dilupakan bumi.”
Sejak saat itu, manusia mulai
menemukan lebih banyak — reruntuhan batu yang tersusun rapi, potongan logam
hitam yang tak berkarat, dan ukiran bergambar mata yang menyala. Mereka tak
mengerti artinya, namun hati mereka bergetar, seolah sesuatu di dalam darah
mereka mengingat bentuk-bentuk itu.
Dalam mimpi, beberapa di antara
mereka melihat sosok tinggi berkulit pucat berjalan di antara cahaya. Suara
tanpa bahasa berkata,
“Kami datang sebelum kalian. Kami
jatuh karena kesombongan. Jangan ulangi.”
Namun waktu berjalan seperti sungai
yang menghapus jejak. Batu bercahaya itu akhirnya dijadikan jimat, reruntuhan
dijadikan fondasi rumah, dan logam hitam dilebur menjadi alat. Ingatan tentang Anu
perlahan berubah menjadi legenda — tentang bangsa langit, para penjaga masa
lalu.

0 Komentar