DUNIA SEBELUM KITA (II)

 

Es Es - Ikon Blog

Jejak dari Dalam Tanah

Ribuan tahun telah berlalu sejak laut menelan kota-kota cahaya. Daratan Sundaland telah pecah menjadi kepulauan — yang kini disebut Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Di antara hutan lebat dan gunung yang tidur, manusia baru mulai membangun peradabannya. Mereka belum mengenal besi, belum mengenal bintang. Tapi naluri mereka menuntun untuk menggali, mencari, dan bertanya.

Suatu ketika, di sebuah lembah yang kini menjadi kaki Gunung Tangkuban Parahu, sekelompok manusia menemukan batu aneh yang bercahaya samar di malam hari. Batu itu tidak seperti batu biasa — halus, berkilau kebiruan, dan terasa hangat bila disentuh. Mereka mengira itu hadiah dari para dewa. Tapi seorang tua di antara mereka, yang sering bermimpi tentang kota di bawah laut, berbisik lirih,

“Ini bukan dari langit. Ini dari masa yang telah dilupakan bumi.”

Sejak saat itu, manusia mulai menemukan lebih banyak — reruntuhan batu yang tersusun rapi, potongan logam hitam yang tak berkarat, dan ukiran bergambar mata yang menyala. Mereka tak mengerti artinya, namun hati mereka bergetar, seolah sesuatu di dalam darah mereka mengingat bentuk-bentuk itu.

Dalam mimpi, beberapa di antara mereka melihat sosok tinggi berkulit pucat berjalan di antara cahaya. Suara tanpa bahasa berkata,

“Kami datang sebelum kalian. Kami jatuh karena kesombongan. Jangan ulangi.”

Namun waktu berjalan seperti sungai yang menghapus jejak. Batu bercahaya itu akhirnya dijadikan jimat, reruntuhan dijadikan fondasi rumah, dan logam hitam dilebur menjadi alat. Ingatan tentang Anu perlahan berubah menjadi legenda — tentang bangsa langit, para penjaga masa lalu.

Dan bumi, yang mengubur sejarahnya sendiri, kembali berputar.
Namun di bawah permukaan Laut Jawa, jauh di dasar yang sunyi, cahaya biru itu masih berdenyut pelan — seolah menunggu manusia menemukan dirinya sendiri, dan mengulangi kisah yang sama untuk kesekian kalinya.


back ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar