Sebelum
Cahaya Manusia
Sebelum laut menelan daratan,
sebelum nama Sundaland lenyap dari ingatan bumi, ada masa ketika makhluk
berakal telah berjalan di atas tanah ini. Mereka bukan manusia, namun bentuknya
menyerupai kita — lebih tinggi, kulitnya pucat berkilau di bawah matahari
tropis, dan mata mereka mampu menatap jauh ke dalam cahaya. Mereka menyebut
diri mereka Anu, para Penjaga Cahaya, ciptaan awal yang diberi kekuasaan
atas tanah dan langit rendah.
Ribuan tahun lamanya mereka hidup
dalam harmoni. Mereka membangun menara dari batu kuarsa yang bisa menyimpan
cahaya matahari, dan menulis dengan simbol yang kini tak bisa lagi
diterjemahkan. Namun kedamaian itu berakhir ketika sebagian dari mereka ingin
melampaui batas yang telah digariskan Sang Pencipta. Mereka memecah langit,
berperang dengan api, dan menyalakan senjata dari inti bumi — senjata yang tak
seharusnya ada.
Dalam sekejap, daratan luas yang
kini menjadi Laut Jawa terbelah. Gunung-gunung meletus serentak, langit berubah
merah selama berabad-abad. Yang tersisa hanyalah bayangan dan bisikan di
batu-batu purba, tertimbun di bawah lumpur dan laut yang menelan kota mereka.
Ketika badai debu reda, bumi sunyi.
Hanya hutan yang tumbuh di atas reruntuhan, dan laut yang menutup luka. Lalu,
di suatu masa yang jauh setelahnya, dari rahim tanah yang sama, lahirlah
makhluk baru — kecil, lemah, namun memiliki cahaya lain di dalam pikirannya.
Mereka tidak mengingat Anu, tapi di dalam gen mereka tersisa gema masa
lalu: ketakutan pada langit, hasrat pada pengetahuan, dan naluri untuk
membangun kembali apa yang pernah hilang.
Mereka menamai diri mereka manusia.
Dan bumi, yang telah berkali-kali
menyaksikan kebanggaan lahir dan hancur, berbisik lembut di antara ombak Laut
Jawa:
“Yang baru akan selalu lahir dari
kehancuran yang lama. Tapi apakah mereka akan belajar kali ini?”

0 Komentar