DUNIA SEBELUM KITA (I)

Es Es - Ikon Blog

Sebelum Cahaya Manusia

Sebelum laut menelan daratan, sebelum nama Sundaland lenyap dari ingatan bumi, ada masa ketika makhluk berakal telah berjalan di atas tanah ini. Mereka bukan manusia, namun bentuknya menyerupai kita — lebih tinggi, kulitnya pucat berkilau di bawah matahari tropis, dan mata mereka mampu menatap jauh ke dalam cahaya. Mereka menyebut diri mereka Anu, para Penjaga Cahaya, ciptaan awal yang diberi kekuasaan atas tanah dan langit rendah.

Ribuan tahun lamanya mereka hidup dalam harmoni. Mereka membangun menara dari batu kuarsa yang bisa menyimpan cahaya matahari, dan menulis dengan simbol yang kini tak bisa lagi diterjemahkan. Namun kedamaian itu berakhir ketika sebagian dari mereka ingin melampaui batas yang telah digariskan Sang Pencipta. Mereka memecah langit, berperang dengan api, dan menyalakan senjata dari inti bumi — senjata yang tak seharusnya ada.

Dalam sekejap, daratan luas yang kini menjadi Laut Jawa terbelah. Gunung-gunung meletus serentak, langit berubah merah selama berabad-abad. Yang tersisa hanyalah bayangan dan bisikan di batu-batu purba, tertimbun di bawah lumpur dan laut yang menelan kota mereka.

Ketika badai debu reda, bumi sunyi. Hanya hutan yang tumbuh di atas reruntuhan, dan laut yang menutup luka. Lalu, di suatu masa yang jauh setelahnya, dari rahim tanah yang sama, lahirlah makhluk baru — kecil, lemah, namun memiliki cahaya lain di dalam pikirannya. Mereka tidak mengingat Anu, tapi di dalam gen mereka tersisa gema masa lalu: ketakutan pada langit, hasrat pada pengetahuan, dan naluri untuk membangun kembali apa yang pernah hilang.

Mereka menamai diri mereka manusia.

Dan bumi, yang telah berkali-kali menyaksikan kebanggaan lahir dan hancur, berbisik lembut di antara ombak Laut Jawa:

“Yang baru akan selalu lahir dari kehancuran yang lama. Tapi apakah mereka akan belajar kali ini?”

 

                                                                                            next


Posting Komentar

0 Komentar