Berjuang Jahat
Orang-orang mengenalmu sebagai sosok baik yang berbudi. Tinggi simpati serta empati. Disiplin, berani, dan setia. Rela menolong dan tabah. Singkatnya, takkan bisa tidur nyenyak selama belum bisa menolong tetangga yang perlu ditolong. Tidak dapat makan enak sebelum mampu membantu kawan yang mesti dibantu. Begitu terus sampai bertahun-tahun. Berulang dan terus berulang. Hingga datang di satu masa. Tiba-tiba saja engkau merasa bosan. Ya, betul! Bosan. Engkau bosan menjadi orang baik.
Aneh memang. Tatkala berjibun lainnya sedang berlomba-lomba mengejar kebaikan, hijrah dari jahiliah ke jalan bercahaya, tapi engkau malah berlaku sebaliknya. Mengubah kemudi ke arah 360 derajat. Memulai dari nol lagi. Menapaki jalan terjal penuh rintangan. Tujuannya satu, menjadi jahiliah.
Menginginkan hidup lebih berwarna, kamu pun merasa semakin bersemangat. Sedemikian bernafsunya engkau untuk selekasnya berjuang habis-habisan mengabaikan hati nurani, mati-matian membuang rasa simpati dan empati, mengisi diri dengan iri dan dengki, menutup rapat-rapat ruang hati dari kebaikan, ketulusan, dan keikhlasan. Lalu, pada saat yang sama, kamu mengguratdalamkan tulisan di hatimu berupa ucapan selamat datang pada keburukan, kelicikan, dan ketamakan.
Memulainya dari suatu malam menjelang mata terpejam, engkau pun berdoa, “Nyenyakkan tidurku, pulaskan aku, keraskan dengkurku, dan bangunkan aku dalam keadaan bugar. Ubah aku menjadi pribadi beda di esok hari. Akhirnya, semoga semesta mendengar, mendukung, dan mengaminkannya. Amiiinn!”
===============
Sudah jam tujuh pagi. Engkau bangun dengan perasaan segar dan bugar. Ingatan pada doa semalam semakin membuatmu bergairah untuk mengawali perjuangan beratmu. Dan... dari sinilah sebenarnya kisahmu baru akan dimulai.
===============
Di sebuah keramaian pasar. Tengok kanan kiri dirimu. Clingak-clinguk cari tempat yang paling tepat untuk melancarkan aksi perdanamu. Mengawalinya dari aksi kecil yang akan engkau jadikan sebagai batu pijakan untuk memuluskan perjuanganmu. Di pasar inilah engkau berencana mengumumkan kepada orang-orang yang sebelumnya mengenalmu sebagai makhluk baik, sejak hari ini telah berevolusi menjadi bajingan tengik. Tukang pencari gara-gara.
Selanjutnya, berbekalkan sabuk hitam dari bela diri yang pernah dipelajari, dengan penuh rasa percaya diri dan tanpa ragu-ragu, kau hantamkan tinjumu pada rahang seorang pemuda yang kebetulan lewat tergesa di depanmu. Buuukkk... Pemuda apes yang jadi uji cobamu itu tumbang dalam kebingungan. Belum hilang rasa kagetnya, sebuah kepalan lain menyasar bibirnya hingga jontor dan pecah. Darah mengucur. Orang-orang berteriak ngeri. Terkesima.
Dan sewaktu pemuda itu berusaha bangkit berdiri, bogem mentah tepat bersarang di pelipis kirinya. Darah mengucur lagi. Orang-orang pun kembali berteriak ngeri. Mereka terkesima sekali lagi. Saat kaki kirimu bersiap melancarkan tendangan, pemuda itu tiba-tiba berteriak, “Ampun, Bang. Ampun! Cukup, Bang. Aku berjanji tak akan mencopet lagi. Ini dompetnya, Bang. Abang bisa lihat, semua masih utuh.”
Engkau melongo. Diterima olehmu sebuah dompet lusuh yang bentuk dan modelnya sering dibawa ibu-ibu ketika berbelanja. Sebelum kesadaranmu terisi penuh, seorang ibu setengah baya mendekat ke arahmu. “Terima kasih, Nak, atas pertolonganmu. Uang ini aku dapatkan dari menjual perhiasan pemberian mendiang suamiku untuk mengobati anak kami yang sedang sakit,” kata ibu setengah baya itu sembari memelukmu penuh haru. Engkau terbengong-bengong.
“Alam belum merestuiku, ternyata!”
---------- next

0 Komentar