Amal yang Tidak Sengaja
Sejak pagi itu di pasar, hidupmu terasa seperti lelucon yang kelewatan batas. Kau ingin menjadi bajingan, tapi semesta malah menjadikanmu pahlawan. Betapa ironis. Betapa memalukan. Orang-orang yang dulu mengenalmu sebagai si baik hati kini justru memujimu dua kali lipat. Mereka bercerita tentang keberanianmu menolong ibu setengah baya dari copet keji, bahkan beberapa mulai menyebutmu 'pahlawan tanpa tanda jasa'. Emang guru! Kau muak mendengarnya, tapi di dalam hati kecilmu, ada getar yang kau benci — semacam rasa bangga yang cepat-cepat kau bunuh dengan sumpah serapah.
Hari-hari setelah kejadian itu, kau banyak termenung. Duduk di teras rumah, menatap kosong ke langit yang tidak memberi jawaban. “Apa mungkin,” katamu pada diri sendiri, “kejahatan juga butuh latihan?” Barangkali kau memang belum cukup terampil. Menjadi baik butuh waktu bertahun-tahun, tentu menjadi jahat pun butuh proses yang sama panjangnya. Maka kau bertekad, mulai besok, tidak akan menyerah. Dunia harus tahu bahwa kau sudah berubah — menjadi sosok gelap yang mereka takutkan.
Kau mulai membuat daftar di buku catatan tua:
-
Mengacau di warung, menumpahkan kopi orang.
-
Menyebar gosip.
-
Menipu dengan gaya santai.Kau tersenyum puas. Rencana sederhana, tidak perlu terlalu jahat, tapi cukup untuk memberi reputasi buruk.
Keesokan paginya, kau berangkat ke warung langganan, tempat orang-orang tua biasanya nongkrong sambil menyesap kopi hitam. Targetmu jelas: membuat kekacauan kecil. Kau pesan segelas kopi, duduk agak di pinggir, pura-pura membaca koran. Saat pemilik warung lengah, kau geser sedikit meja di sebelahmu hingga gelas orang lain jatuh dan pecah. Suara “prang!” membuyarkan suasana. Semua mata memandang. Kau pura-pura kaget, tapi dalam hati girang — inilah momen debut barumu sebagai pembuat onar.
Namun, sebelum sempat bersikap bengis, seorang bapak tua di meja sebelah berucap, “Ah, tidak apa-apa, Nak. Memang gelas itu sudah retak. Kalau tidak jatuh hari ini, mungkin besok juga pecah.” Ia tersenyum, lalu menepuk bahumu pelan. “Terima kasih sudah duduk di situ. Jadi aku tahu kalau kursi ini goyah. Akan kubenerin nanti.”
Kau membeku. Dunia seakan mengejekmu dengan caranya yang lembut. Bahkan kekacauan sekecil itu pun berubah jadi pelajaran hidup bagi orang lain. Kau ingin marah, tapi wajah tenang bapak tua itu justru membuatmu merasa kecil.
Masih belum menyerah, kau lanjut ke rencana berikutnya: menipu dengan gaya santai. Di jalan, kau melihat seorang pemulung yang sedang memungut botol plastik. “Inilah saatnya,” batinmu. Kau pura-pura menjadi petugas kebersihan yang ditugaskan mengumpulkan barang bekas untuk “pajak lingkungan.” Kau berkata dengan suara serius, “Botol itu harus saya ambil, Pak. Ini aturan baru dari kelurahan.” Pemulung itu menatapmu lama. Lalu, tanpa banyak bicara, ia mengangguk dan menyerahkan karung kecil berisi botol.
Kau segera pergi dengan langkah cepat. Jantung berdegup kencang. Akhirnya! Kejahatan pertamamu berhasil tanpa gangguan. Tapi belum jauh dari situ, terdengar suara perempuan menjerit, “Tolong! Tolong! Anak saya jatuh ke selokan!” Kau menoleh sekilas, dan entah kenapa, refleksmu bekerja lebih cepat dari niat jahatmu. Kau menaruh karung botol di pinggir jalan, melompat ke arah suara itu, dan menarik bocah kecil yang terjebak di selokan berlumpur. Semua terjadi begitu cepat.
Beberapa orang berlari mendekat, menolongmu mengangkat bocah itu. Ibunya menangis, memelukmu sambil berucap terima kasih berulang-ulang. Kau ingin menjelaskan bahwa kau bukan siapa-siapa, bahkan seharusnya sedang berbuat jahat, tapi lidahmu kelu. Seseorang berteriak dari kejauhan, “Hei, itu karung pemulung! Dia kembalikan, tidak diambil!” Orang-orang bersorak kagum.
Kau hampir pingsan oleh kebingungan. Dunia ini sungguh keterlaluan. Kau mencuri, tapi malah dianggap malaikat. Kau ingin menciptakan dosa, malah mendapat pahala. Entah sistem moral macam apa yang sedang mengurungmu.
Sore itu kau berjalan pulang dengan pakaian berlumpur. Di rumah, kau memandangi wajahmu di cermin. Ada noda tanah di pipi dan sedikit senyum di bibir — senyum pahit yang tak tahu lagi harus jadi apa. “Mungkin aku dikutuk,” gumammu lirih. “Dikutuk menjadi orang baik selamanya.” Tapi kata selamanya terdengar berat, menyesakkan. Maka kau berusaha menenangkan diri. Mungkin, pikirmu, ada kejahatan yang lebih besar, lebih sistematis, yang tidak bisa digagalkan oleh nasib konyol semesta.
Kau duduk lagi di teras malam itu, mengguratkan ide baru di buku catatan. Ide besar kali ini. Kau akan memanipulasi orang banyak. Bukan lagi satu dua orang, tapi seluruh lingkungan. Kau akan pura-pura membuat “penggalangan dana” palsu, niatnya mencuri uang donasi. Kau akan mencetak pamflet, menulis cerita sedih palsu tentang anak yatim yang butuh biaya operasi. Orang-orang pasti tergugah. Uang akan mengalir, dan kali ini, takkan ada yang bisa menghentikanmu.
Menjelang malam, kau berdoa lagi — bukan untuk kebaikan, tentu saja, tapi semacam doa terbalik: “Wahai semesta, biarkan aku salah arah. Biarkan aku berdosa dengan sukses.”

0 Komentar