Undangan dari Orang Terlalu Baik
Sudah beberapa hari sejak
“Pertunjukan yang Gagal”, dan kau—Dru—merasa semesta sedang mempermainkanmu
dengan cara yang terlalu halus untuk tidak membuatmu kesal. Kau bangun lebih
pagi dari biasanya, bukan karena semangat, tapi karena mimpi buruk: mimpi
tentang orang-orang yang memujimu dengan air mata. Tentu saja itu lebih buruk
dari mimpi dikejar hantu.
Kau duduk di teras, memandangi jalan
kampung yang sepi. Semesta terlalu tenang hari itu, dan ketenangan bagimu
adalah tanda bahaya. Kau ingin membuat sesuatu pecah, sesuatu yang mengguncang,
sesuatu yang tidak bisa diperbaiki dengan “doa bersama” seperti minggu lalu.
Saat itulah langkah berat seseorang
terdengar.
Kau hanya mengangguk. Kau tidak suka
basa-basi. Basa-basi adalah tanda seseorang menyembunyikan sesuatu, tapi hari
ini kau cukup lelah untuk tidak peduli.
“Aku perhatikan kamu akhir-akhir ini
sering terlibat kegiatan warga,” kata Raka sambil menyandarkan diri pada tiang
teras. “Acara amal kemarin itu… menyentuh sekali.”
Ia berhenti sejenak, melihat wajahmu
dengan agak terlalu fokus.
“Kau mau ikut? Aku pikir kau cocok
jadi bagian dari tim.”
Tempat yang sempurna untuk
menghancurkan reputasi “kebaikan” yang semesta terus paksa padamu.
Kau menegakkan punggung, menatap
Raka dengan senyum yang terlalu cepat muncul untuk tampak wajar.
“Tentu. Aku ikut.”
Raka terkejut sepersekian detik. Kau
melihatnya. Ia mencoba menutupinya, tapi refleks kecil itu tidak bisa bohong.
Raka tidak menyangka kau akan menyetujui secepat itu—seolah ia mengujimu.
“Kita mulai rapat besok pagi,” ujar
Raka. “Aku jemput kamu.”
“Siap,” balasmu, hampir terlalu
mantap.
Raka pergi dengan langkah mantap,
sementara kau menatap punggungnya seperti menatap pintu surga yang baru saja
terbuka—surga bagi orang yang ingin membakar segalanya.
Dan ketika Raka menghilang di
tikungan, kaulah yang mulai berjalan bolak-balik di teras seperti orang yang
baru mendapat inspirasi jahat.
Selanjutnya, sembari menatap langit sore yang pucat engkau berucap lirih,

0 Komentar