PERCAYALAH, AKU JAHAT (8)

 



Undangan dari Orang Terlalu Baik

Sudah beberapa hari sejak “Pertunjukan yang Gagal”, dan kau—Dru—merasa semesta sedang mempermainkanmu dengan cara yang terlalu halus untuk tidak membuatmu kesal. Kau bangun lebih pagi dari biasanya, bukan karena semangat, tapi karena mimpi buruk: mimpi tentang orang-orang yang memujimu dengan air mata. Tentu saja itu lebih buruk dari mimpi dikejar hantu.

Kau duduk di teras, memandangi jalan kampung yang sepi. Semesta terlalu tenang hari itu, dan ketenangan bagimu adalah tanda bahaya. Kau ingin membuat sesuatu pecah, sesuatu yang mengguncang, sesuatu yang tidak bisa diperbaiki dengan “doa bersama” seperti minggu lalu.

Saat itulah langkah berat seseorang terdengar.

Raka muncul di gerbang.
Ketua karang taruna. Terlalu lurus. Terlalu rapi. Terlalu yakin bahwa dunia bisa diperbaiki dengan aturan dan kerja bakti. Orang seperti dia biasanya kau hindari—bukan karena takut, tapi karena mereka suka memintamu melakukan hal-hal membosankan seperti “peduli”.

“Pagi, Dru,” ucapnya dengan senyum tipis.
Senyum orang yang sedang mengamati eksperimen laboratorium, dan kebetulan objek eksperimennya adalah kau.

Kau hanya mengangguk. Kau tidak suka basa-basi. Basa-basi adalah tanda seseorang menyembunyikan sesuatu, tapi hari ini kau cukup lelah untuk tidak peduli.

“Aku perhatikan kamu akhir-akhir ini sering terlibat kegiatan warga,” kata Raka sambil menyandarkan diri pada tiang teras. “Acara amal kemarin itu… menyentuh sekali.”

Kau hampir tersedak udara.
Menyentuh?
Kalau saja ia tahu niat aslimu, mungkin ia sudah memanggil polisi.

Raka melanjutkan,
“Kami dari karang taruna mau bikin Dapur Umum Mingguan. Untuk warga yang sedang susah, apalagi beberapa daerah sebelah baru kena PHK massal.”

Ia berhenti sejenak, melihat wajahmu dengan agak terlalu fokus.

“Kau mau ikut? Aku pikir kau cocok jadi bagian dari tim.”

Kalimat itu berhenti di udara seperti undangan resmi menuju penderitaan.
Tapi bukan penderitaan bagi warga—itu urusan mereka.
Bagi mu, ini kesempatan emas.
Dapur umum berarti orang-orang yang lapar. Orang-orang yang berharap. Tempat yang penuh kepercayaan.

Tempat yang sempurna untuk menghancurkan reputasi “kebaikan” yang semesta terus paksa padamu.

Kau menegakkan punggung, menatap Raka dengan senyum yang terlalu cepat muncul untuk tampak wajar.

“Tentu. Aku ikut.”

Raka terkejut sepersekian detik. Kau melihatnya. Ia mencoba menutupinya, tapi refleks kecil itu tidak bisa bohong. Raka tidak menyangka kau akan menyetujui secepat itu—seolah ia mengujimu.

Tapi kau tak peduli.
Jika ia sedang menguji, biarlah.
Kau punya rencana lebih penting daripada permainan psikologi murahannya.

“Kita mulai rapat besok pagi,” ujar Raka. “Aku jemput kamu.”

“Siap,” balasmu, hampir terlalu mantap.

Raka pergi dengan langkah mantap, sementara kau menatap punggungnya seperti menatap pintu surga yang baru saja terbuka—surga bagi orang yang ingin membakar segalanya.

Dan ketika Raka menghilang di tikungan, kaulah yang mulai berjalan bolak-balik di teras seperti orang yang baru mendapat inspirasi jahat.

Dapur Umum Mingguan…
Denger namanya saja sudah memancing ratusan ide jahat di kepalamu:

Bagaimana kalau bahan makanan hilang dengan misterius?
Bagaimana kalau bumbunya tertukar dengan bumbu lain?
Bagaimana kalau laporan keuangannya rusak?
Atau…
Bagaimana jika semua orang mengira kau pahlawan lagi sementara kau sebenarnya dalangnya?

Kau mengusap wajah.
Ide-ide itu tumpah seperti air dari ember yang jatuh.

Semesta mungkin berpikir kau akan berubah karena “keajaiban kecil” di acara amal.
Tapi kau tidak merasa tercerahkan.
Kau merasa ditantang.

Selanjutnya, sembari menatap langit sore yang pucat engkau berucap lirih,

“Baiklah. Kalau mereka ingin memasak kebaikan…
aku akan menjadi bumbu terburuknya.”


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar