Bumbu
yang Tak Mau Takur
Pertemuan pertama dapur umum dimulai
pada hari Minggu pagi, tepat ketika matahari belum memutuskan apakah hari ini
akan panas atau hanya setengah serius. Balai RW sudah ramai: ibu-ibu membawa
buku catatan, bapak-bapak menyeret meja lipat, dan anak-anak kecil berlarian
sambil memainkan tutup panci. Suasananya seperti pesta kecil yang belum sadar
bahwa seharusnya mereka sedang membicarakan rencana kerja.
Kau berjalan masuk dengan langkah
yang dianggap penuh kepercayaan diri, padahal yang sebenarnya terjadi adalah
kau sedang sibuk memikirkan skenario kekacauan yang paling efektif. Bau awal
kemenangan, menurutmu, selalu muncul dari ruangan yang terlihat teratur.
Raka langsung menyambutmu dengan
anggukan. “Dru. Pas banget. Kita baru mau mulai.”
Ia menyodorkan map biru tebal berisi
rancangan dapur umum — pembagian tugas, jadwal masak, daftar belanja, hingga
estimasi anggaran. Kau menatap map itu dengan rasa geli. Begitu banyak hal yang
bisa disabotase dari dalamnya.
Rapat dimulai.
Ibu Dewi dari PKK mengambil alih
pembahasan peralatan masak. “Kita butuh kompor besar dua unit. Gas empat
tabung. Dan bumbu dasar harus banyak, terutama bawang putih dan kemiri.”
Kau mengangkat tangan. “Bagaimana
kalau bumbunya dikurangi? Hemat anggaran. Lagipula kan… yang penting kenyang.”
Kau tercekat oleh pujian yang tidak
kau pesan. Raka mencatat sesuatu di bukunya sambil melirik ke arahmu — lirikan
penuh curiga, tetapi juga penuh kebingungan, seperti seseorang yang yakin ada kucing
masuk dapur tapi tidak menemukan jejak kakinyanya.
Rapat berlanjut ke inventaris bahan
baku.
Kau kembali mencoba membuat
kekacauan.
“Saya siap bantu catat. Biar
efisien,” katamu.
Raka mengangkat alis. “Kau yakin?”
“Tentu,” jawabmu dengan senyum yang kau
harap terlihat licik, padahal malah tampak seperti orang yang berusaha melepas
serpihan cabe dari gigi.
Raka menatap buku itu lama — lebih
lama dari yang seharusnya — sebelum menutupnya dengan mendesah pelan. Kau bisa
membaca pikirannya: ada yang salah, tapi semuanya seperti benar.
Rapat semakin ramai. Beberapa orang
mengusulkan menu sayur sop, yang lain ingin rawon, dan satu ibu bersikeras
bahwa tempe bacem adalah makanan yang paling universal dan netral bagi semua
usia.
Di tengah kegaduhan ceria itu, kau
hanya duduk dengan kepala penuh rencana bengkok yang belum mendapatkan tempat.
Momen itu datang ketika rapat hampir
selesai.
Raka berdiri dan menepuk meja.
“Baik. Untuk hari pembukaan nanti, kita butuh satu orang yang bertanggung jawab
di dapur. Seseorang yang bisa mengatur alur masak, pembagian tugas, dan
memastikan semuanya berjalan lancar.”
Beberapa orang langsung menoleh ke
arahmu.
“Setuju,” katanya akhirnya. “Dru
jadi penanggung jawab hari pertama.”
Rapat ditutup dengan tepuk tangan.
Sementara para relawan mulai
membereskan meja, kau berdiri di sudut ruangan, memandangi papan tulis penuh
daftar tugas yang terlihat begitu rapi, begitu cerah, begitu siap dikerjakan
dengan niat baik.
Satu langkah lagi sebelum dapur umum
ini berubah menjadi ladang kesalahan.
Dan kau, tentunya, bertekad menjadi
kesalahan pertama yang memicunya.

0 Komentar