PERCAYALAH, AKU JAHAT (9)

 


Bumbu yang Tak Mau Takur

Pertemuan pertama dapur umum dimulai pada hari Minggu pagi, tepat ketika matahari belum memutuskan apakah hari ini akan panas atau hanya setengah serius. Balai RW sudah ramai: ibu-ibu membawa buku catatan, bapak-bapak menyeret meja lipat, dan anak-anak kecil berlarian sambil memainkan tutup panci. Suasananya seperti pesta kecil yang belum sadar bahwa seharusnya mereka sedang membicarakan rencana kerja.

Kau berjalan masuk dengan langkah yang dianggap penuh kepercayaan diri, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kau sedang sibuk memikirkan skenario kekacauan yang paling efektif. Bau awal kemenangan, menurutmu, selalu muncul dari ruangan yang terlihat teratur.

Raka langsung menyambutmu dengan anggukan. “Dru. Pas banget. Kita baru mau mulai.”

Ia menyodorkan map biru tebal berisi rancangan dapur umum — pembagian tugas, jadwal masak, daftar belanja, hingga estimasi anggaran. Kau menatap map itu dengan rasa geli. Begitu banyak hal yang bisa disabotase dari dalamnya.

Rapat dimulai.

Ibu Dewi dari PKK mengambil alih pembahasan peralatan masak. “Kita butuh kompor besar dua unit. Gas empat tabung. Dan bumbu dasar harus banyak, terutama bawang putih dan kemiri.”

Kau mengangkat tangan. “Bagaimana kalau bumbunya dikurangi? Hemat anggaran. Lagipula kan… yang penting kenyang.”

Kau berharap akan ada pertanyaan sinis, atau minimal kening berkerut. Tapi tidak.
Ibu-ibu justru saling pandang, lalu mengangguk puas.

“Betul juga ya, Mas Dru ini mikirnya jauh ke depan,” ujar Bu Rina.
“Kita harus hemat supaya kegiatan ini bisa terus jalan,” sambung yang lain.

Kau tercekat oleh pujian yang tidak kau pesan. Raka mencatat sesuatu di bukunya sambil melirik ke arahmu — lirikan penuh curiga, tetapi juga penuh kebingungan, seperti seseorang yang yakin ada kucing masuk dapur tapi tidak menemukan jejak kakinyanya.

Rapat berlanjut ke inventaris bahan baku.

Kau kembali mencoba membuat kekacauan.

“Saya siap bantu catat. Biar efisien,” katamu.

Raka mengangkat alis. “Kau yakin?”

“Tentu,” jawabmu dengan senyum yang kau harap terlihat licik, padahal malah tampak seperti orang yang berusaha melepas serpihan cabe dari gigi.

Kau mencatat semua bahan dengan sengaja salah urut, salah jumlah, salah kolom.
Garam 5 kg kau taruh di bagian "alat kebersihan".
Spons cuci piring kau tulis 12 kg.
Cabai merah kau pindahkan ke baris “perlengkapan dokumentasi.”

“Wah, rajinnya Mas Dru,” puji bendahara sambil mengambil buku catatan itu.
“Ini detail sekali! Saya nggak sangka ada yang mau bantu administrasi.”

Raka menatap buku itu lama — lebih lama dari yang seharusnya — sebelum menutupnya dengan mendesah pelan. Kau bisa membaca pikirannya: ada yang salah, tapi semuanya seperti benar.

Rapat semakin ramai. Beberapa orang mengusulkan menu sayur sop, yang lain ingin rawon, dan satu ibu bersikeras bahwa tempe bacem adalah makanan yang paling universal dan netral bagi semua usia.

Di tengah kegaduhan ceria itu, kau hanya duduk dengan kepala penuh rencana bengkok yang belum mendapatkan tempat.

Momen itu datang ketika rapat hampir selesai.

Raka berdiri dan menepuk meja. “Baik. Untuk hari pembukaan nanti, kita butuh satu orang yang bertanggung jawab di dapur. Seseorang yang bisa mengatur alur masak, pembagian tugas, dan memastikan semuanya berjalan lancar.”

Beberapa orang langsung menoleh ke arahmu.

Dan tanpa memberi kesempatan bernapas, Bu Dewi berkata,
“Mas Dru saja. Tadi idenya bagus-bagus semua.”

Raka menatapmu. Lama.
Terlalu lama.
Tatapan seseorang yang mencium bau api… tapi hanya melihat asap yang sopan.

“Setuju,” katanya akhirnya. “Dru jadi penanggung jawab hari pertama.”

Kau hampir tersenyum lebar.
Kesempatan emas.
Jabatan yang sempurna untuk menimbulkan celah-celah kecil yang bisa berubah jadi kekacauan besar.

Rapat ditutup dengan tepuk tangan.

Sementara para relawan mulai membereskan meja, kau berdiri di sudut ruangan, memandangi papan tulis penuh daftar tugas yang terlihat begitu rapi, begitu cerah, begitu siap dikerjakan dengan niat baik.

Kau menggenggam map biru itu erat-erat.
Merasakan denyut kecil di jari—denyut rencana yang mulai bergerak.

Satu langkah lagi sebelum dapur umum ini berubah menjadi ladang kesalahan.

Dan kau, tentunya, bertekad menjadi kesalahan pertama yang memicunya.

 

back ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar