Masakan yang Tidak
Seharusnya Enak
Pagi itu balai warga berubah jadi
dapur besar yang ramai. Kompor baris lima, ember sayur menggunung, dan ibu-ibu
berdatangan sambil tertawa. Kamu berdiri di sudut seperti bayangan panjang yang
tidak diundang. Di tangan ada celemek bertuliskan “Bersih Itu Sehat!”—pemberian
Ibu Sari—yang sengaja kau pakai terbalik sebagai bentuk perlawanan kecil.
Raka menyapa semua orang dengan
semangat. “Hari pertama Dapur Umum Mingguan! Dapur komunitas kita. Paling
perdana, kita mulai dengan sup sayur untuk tiga puluh keluarga!”
Semua bersorak. Semua kecuali kamu,
yang hanya mengangguk lelah. Inilah waktunya. Kau bergerak di antara
meja, berpura-pura memotong wortel, berpura-pura tersenyum, sambil menunggu
momen yang tepat. Ketika perhatian orang beralih ke panci-panci besar, kamu
mengambil bumbu garam super pekat—tiga kali lebih asin daripada garam
biasa. Lalu mengintip kiri-kanan dan menuangkannya ke panci sup.
“Apa itu?” tanya Raka, alis menukik
curiga.
Engkau dengan tenang mengangkat
botol kecil itu. “Ehm… penyedap. Katanya supnya kurang kuat.”
Raka menatap panci, lalu menatapmu.
Ada jeda singkat yang terasa seperti pisau menempel di tengkuk. Namun sebelum
sempat bertanya lebih jauh, Ibu Sari berseru, “Cicip dulu! Sudah matang!”
Semua mendekat. Termasuk Raka, yang
tetap memperhatikan tanganmu seperti sedang mengawasi tersangka.
Sendok pertama masuk ke mulut Ibu
Sari. Semua menunggu.
Orang-orang lain mencicipi. Mereka
mengangguk-angguk puas, bahkan meminta resep. Anak-anak yang lewat meminta
tambah. Beberapa bapak berseru bahwa sup hari ini adalah “sup paling mantap
dalam sejarah balai warga”.
Raka masih memandangimu, tapi kini
ragu. “Kamu… tadi pakai bumbu apa, Dru?”
“B–biasa saja,” jawabmu, hampir
putus asa. “Mungkin… saya salah lihat.”
Ibu Sari menepuk bahumu. “Wah, kamu
punya insting rasa yang bagus! Besok kamu bagian bumbu ya!”
Sekeliling kini dipenuhi senyum,
tawa, dan pujian. Kau hanya bisa tersenyum kaku, seolah wajahmu dipaksa meniru
kebahagiaan yang tidak kamu punya.
Ketika kegiatan selesai dan semua
pulang membawa sup, engkau berdiri di belakang balai warga, menatap langit sore
yang seperti kain yang direndam teh pucat.
Kau membatin dengan getir:
Kau menutup wajah dengan kedua tangan. Aroma sup masih menempel di kulitmu,
seperti jejak kegagalan yang tidak mau hilang. Kau menghela napas panjang,
berusaha menenangkan badai kecil yang bergemuruh di dadamu.
Kau melangkah keluar dari balai warga, menyusuri sisi bangunan yang mulai
teduh. Suara tawa para ibu masih terdengar dari kejauhan. Anak-anak berlari
sambil membawa mangkuk. Dan dari balik pintu, Raka masih memperhatikanmu—samar,
waspada, seperti seseorang yang mencoba membaca teka-teki hidup.
Di halaman belakang yang sepi itu, kau menatap langit sore yang pucat dan
berkata lirih, hampir seperti gumaman orang yang kalah dalam permainan yang ia
ciptakan sendiri:
“Kalau begini terus… aku harus menemukan cara yang lebih gila.”
“Semesta boleh menang hari ini… tapi di putaran berikutnya, aku akan
memastikan sup itu menjadi bencana.”
Kau berbalik. Melangkah pergi. Membawa tekad kuat untuk sebuah pembuktian: bahwa
di balik setiap kebaikan yang mereka puja… ada dirimu, yang berusaha keras
untuk menjadi keburukan.
Meskipun, ironisnya, kau selalu gagal.

0 Komentar