PERCAYALAH, AKU JAHAT (10)


 

Masakan yang Tidak Seharusnya Enak

Pagi itu balai warga berubah jadi dapur besar yang ramai. Kompor baris lima, ember sayur menggunung, dan ibu-ibu berdatangan sambil tertawa. Kamu berdiri di sudut seperti bayangan panjang yang tidak diundang. Di tangan ada celemek bertuliskan “Bersih Itu Sehat!”—pemberian Ibu Sari—yang sengaja kau pakai terbalik sebagai bentuk perlawanan kecil.

Raka menyapa semua orang dengan semangat. “Hari pertama Dapur Umum Mingguan! Dapur komunitas kita. Paling perdana, kita mulai dengan sup sayur untuk tiga puluh keluarga!”

Semua bersorak. Semua kecuali kamu, yang hanya mengangguk lelah. Inilah waktunya. Kau bergerak di antara meja, berpura-pura memotong wortel, berpura-pura tersenyum, sambil menunggu momen yang tepat. Ketika perhatian orang beralih ke panci-panci besar, kamu mengambil bumbu garam super pekat—tiga kali lebih asin daripada garam biasa. Lalu mengintip kiri-kanan dan menuangkannya ke panci sup.

Satu sendok.
Dua sendok.
Tiga.

“Tunggu.”
Suara Raka muncul di belakangmu. Kamu pun menahan napas.

“Apa itu?” tanya Raka, alis menukik curiga.

Engkau dengan tenang mengangkat botol kecil itu. “Ehm… penyedap. Katanya supnya kurang kuat.”

Raka menatap panci, lalu menatapmu. Ada jeda singkat yang terasa seperti pisau menempel di tengkuk. Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, Ibu Sari berseru, “Cicip dulu! Sudah matang!”

Semua mendekat. Termasuk Raka, yang tetap memperhatikan tanganmu seperti sedang mengawasi tersangka.

Sendok pertama masuk ke mulut Ibu Sari. Semua menunggu.

Dan—
“Oh! Ini enak sekali!” serunya. “Rasanya… gurih! Baru! Berbeda!”

Orang-orang lain mencicipi. Mereka mengangguk-angguk puas, bahkan meminta resep. Anak-anak yang lewat meminta tambah. Beberapa bapak berseru bahwa sup hari ini adalah “sup paling mantap dalam sejarah balai warga”.

Kamu mematung.
Bagaimana mungkin? Itu garam super asin! Itu seharusnya membuat orang batuk!

Raka masih memandangimu, tapi kini ragu. “Kamu… tadi pakai bumbu apa, Dru?”

“B–biasa saja,” jawabmu, hampir putus asa. “Mungkin… saya salah lihat.”

Ibu Sari menepuk bahumu. “Wah, kamu punya insting rasa yang bagus! Besok kamu bagian bumbu ya!”

Sekeliling kini dipenuhi senyum, tawa, dan pujian. Kau hanya bisa tersenyum kaku, seolah wajahmu dipaksa meniru kebahagiaan yang tidak kamu punya.

Ketika kegiatan selesai dan semua pulang membawa sup, engkau berdiri di belakang balai warga, menatap langit sore yang seperti kain yang direndam teh pucat.

Kau membatin dengan getir:

Bagaimana mungkin?
Kau sudah menuangkan garam itu seperti penjahat kelas kakap yang sedang menyiapkan rencana pembantaian rasa. Harusnya lidah-lidah itu menjerit. Harusnya orang-orang berebut minum. Harusnya Raka menatapmu sebagai biang kekacauan.

Tapi tidak.
Sup itu menjadi pahlawan hari ini.
Bahkan lebih dari itu—sup itu disanjung, diagungkan, dan disebut sebagai warisan rasa yang wajib diteruskan generasi depan.

Kau menutup wajah dengan kedua tangan. Aroma sup masih menempel di kulitmu, seperti jejak kegagalan yang tidak mau hilang. Kau menghela napas panjang, berusaha menenangkan badai kecil yang bergemuruh di dadamu.

Kau melangkah keluar dari balai warga, menyusuri sisi bangunan yang mulai teduh. Suara tawa para ibu masih terdengar dari kejauhan. Anak-anak berlari sambil membawa mangkuk. Dan dari balik pintu, Raka masih memperhatikanmu—samar, waspada, seperti seseorang yang mencoba membaca teka-teki hidup.

Kau memalingkan wajah.
Bukan karena takut ketahuan, tapi karena kau malu pada dirimu sendiri.
Malu karena bahkan ketika berniat jahat, hasilnya tetap saja… kebaikan.

Di halaman belakang yang sepi itu, kau menatap langit sore yang pucat dan berkata lirih, hampir seperti gumaman orang yang kalah dalam permainan yang ia ciptakan sendiri:

“Kalau begini terus… aku harus menemukan cara yang lebih gila.”

Angin sore bergerak pelan, seakan menertawaimu.
Kau balas menatap langit, menegang, lalu mengucapkan kalimat yang bahkan membuatmu sendiri merinding oleh absurditasnya:

“Semesta boleh menang hari ini… tapi di putaran berikutnya, aku akan memastikan sup itu menjadi bencana.”

Kau berbalik. Melangkah pergi. Membawa tekad kuat untuk sebuah pembuktian: bahwa di balik setiap kebaikan yang mereka puja… ada dirimu, yang berusaha keras untuk menjadi keburukan.

Meskipun, ironisnya, kau selalu gagal.


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar