Yang
Seharusnya Salah, Tapi Tidak Juga
Minggu berikutnya, kamu kembali
datang ke Dapur Komunitas dengan langkah ringan—ringan karena kamu sudah
menyiapkan rencana baru untuk membuat dirimu dicurigai.
Hari ini, kamu akan ketahuan.
Kamu harus ketahuan.
Itu impianmu.
Sejak awal kegiatan dimulai, kamu
sengaja melakukan hal-hal kecil yang… seharusnya terkesan mencurigakan.
Kamu memotong sayur dengan cara yang
tidak konsisten—kadang terlalu tebal, kadang terlalu tipis.
Kamu berlama-lama menatap bumbu, seperti menghitung rencana licik.
Kamu berdiri terlalu dekat dengan panci utama, seolah menunggu kesempatan
menabur kesalahan.
Dan kamu merasa puas melihat Raka
yang terus memperhatikanmu tanpa berkedip.
Bagus.
Bagus.
Perhatiannya tepat sasaran.
Tak hanya itu—hari ini Raka membawa
dua temannya. Mereka berpura-pura membantu di area berbeda, tapi kamu tahu
mereka sedang memperhatikanmu. Tatapan mereka seperti nyamuk: kecil, tapi
terasa.
Kamu tetap melakukan hal-hal bodoh
dengan percaya diri.
Kamu menjatuhkan garam.
Kamu mengaduk panci terlalu cepat.
Kamu salah memotong daun bawang.
Kamu sengaja menumpahkan kecap ke meja.
Semua harus terlihat salah.
Kamu bahkan sempat menambahkan satu
sendok bumbu bawang goreng ke kuah sup tanpa ditanya.
Kesalahan fatal, menurutmu.
Dan kamu tersenyum kecil.
Ini pasti berhasil.
Tapi nyatanya—tidak.
Ketika waktu mencicip tiba, Ibu Sari
justru berseru,
“Loh! Supnya tambah harum minggu ini! Ada sentuhan bawangnya! Siapa yang buat?”
Semua melihatmu.
Dan sebelum kamu sempat membela diri
dengan kalimat terkutuk seperti “Saya salah masukin Bu”, para ibu-ibu berkata
hampir bersamaan:
“Pasti Dru!”
“Iya! Dia kan insting bumbunya bagus!”
“Luar biasa kamu ini!”
Kamu ingin teriak.
Kamu ingin banting panci.
Kamu ingin mencabut celemek dan pergi.
Tapi kamu hanya berdiri terpaku,
mematung seperti papan triplek yang ditinggal di tengah jalan.
Di sisi lain, Raka makin gelisah.
Kecurigaannya makin kuat, tapi… tidak ada bukti.
Benar-benar tidak ada.
Dan teman-temannya akhirnya
menyerangnya.
“Rak, kamu ini kenapa sih? Dia nggak
salah apa-apa!”
“Kamu iri ya sama dia?”
“Dia jago masak, kamu biasa aja, makanya nuduh!”
“Sudah, kamu tobat aja. Kasihan Dru.”
Tobat.
Mereka suruh Raka tobat.
Dan mereka menyuruhnya minta maaf
padamu.
Apakah ini mimpi buruk?
Atau komedi gelap?
Kamu tidak tahu.
Yang jelas, ketika Raka berdiri di
depanmu dengan mata meredup dan berkata,
“Maaf ya, Dru… aku salah sangka,”
kamu merasa seluruh rencanamu runtuh.
Selesai.
Gagal.
Lagi.
Seperti biasa, semesta menolak
memberi apa yang kamu inginkan.
Kamu tersenyum hambar, mengangguk,
lalu pergi ke belakang balai warga.
Di sana, kamu bersandar ke dinding, menutup wajah dengan kedua tangan.
Tekanan di dadamu seperti ditusuk
dari dalam.
Perutmu melilit hebat.
Kamu memaksakan napas—tapi justru itu membuatmu merasa ingin memuntahkan
seluruh isi tubuhmu.
Dan akhirnya—
Kamu muntah darah.
Kamu frustasi. “Kenapa… selalu begini?”
back ----------- next
0 Komentar