AKU BAIK KARENA AKU TIDAK SEBAIK ITU



Ada orang yang lahir dengan hati emas. Aku tidak termasuk. Hatiku lebih mirip logam murahan yang kalau kena panas sedikit langsung memuai dan membuatku menyesal membuat keputusan apa pun. Tapi anehnya, justru karena aku sadar kualitas hatiku tidak premium, aku berusaha jadi orang baik. Setidaknya… versi baik yang tidak membuatku malu saat bercermin.

Lucu ya? Orang yang benar-benar baik biasanya tidak repot-repot memikirkan bagaimana cara terlihat baik. Sementara aku? Aku baik karena aku tahu betul kalau dibiarkan begitu saja, aku bisa berubah jadi makhluk yang tidak ingin kuakui sebagai diriku sendiri. Kebaikanku bukan sifat, tapi rem darurat. Rem yang kupasang sendiri karena aku tahu betapa mudahnya aku terpeleset kalau tidak dijaga.

Misalnya, ketika seseorang datang minta bantuan. Ada bagian kecil dalam diriku yang ingin bilang, “Nanti saja, aku sedang sibuk berpura-pura menjadi manusia fungsional.” Tapi bagian lainnya—bagian yang ingin aku percaya sebagai sisi baikku—menghentikan pikiranku sebelum keluar dari mulut. Dan lihatlah: aku jadi baik. Bukan karena mulia, tapi karena aku takut melihat sisi diriku yang tidak mulia.

Kadang aku bertanya-tanya: apa yang lebih jujur? Menjadi baik karena sungguh peduli… atau menjadi baik karena takut terlihat buruk? Mana yang lebih tulus? Yang pertama terdengar indah, tapi yang kedua lebih realistis. Keduanya menghasilkan “perbuatan baik,” tapi satu lahir dari cinta, satunya lagi lahir dari rasa bersalah. Dan entah kenapa, versiku selalu jatuh ke kategori kedua.

Tapi mungkin tidak apa-apa. Kebaikan yang lahir dari ketidaksempurnaan kadang lebih konsisten daripada kebaikan yang lahir dari idealisme. Orang yang merasa dirinya suci bisa jadi teledor; mereka terlalu percaya diri. Sementara orang seperti aku—yang sadar dirinya bisa kacau kapan saja—cenderung lebih hati-hati. Kebaikanku mungkin tampak seperti tempelan, tapi tempelan ini setidaknya menahan retakan supaya tidak membesar.

Aku sering melihat orang-orang yang tampaknya “terlalu baik.” Mereka bicara lembut, tersenyum hangat, dan tampak tidak punya motif apa pun. Jujur, aku takut pada mereka. Orang yang terlalu yakin dirinya baik biasanya sedang menyembunyikan sesuatu entah untuk siapa. Sedangkan aku? Aku tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. Semua kekuranganku terpapar jelas, jadi satu-satunya cara agar aku tetap bisa hidup berdampingan dengan diriku sendiri adalah dengan membuat pilihan baik secara berkala. Anggap saja itu bentuk pemeliharaan moral.

Jadi ketika aku membantu orang, aku tidak berpikir panjang. Aku tidak meromantisasi niatku. Aku hanya tahu kalau aku biarkan naluri asliku mengambil alih, hidupku bisa jadi lebih berantakan daripada sekarang. Kebaikanku semacam penyangga agar aku tidak jatuh terlalu jauh. Semacam pagar kecil yang kubangun sendiri karena aku tidak percaya pada daya tahanku.

Orang mungkin melihatku dan berpikir aku orang baik. Silakan saja. Aku tidak akan membantah. Tapi aku juga tidak akan memperbaiki kesalahpahaman mereka. Kalau orang menganggapku baik karena perbuatanku, itu urusan mereka. Aku tahu asal-usul kebaikan itu, dan itu sudah cukup. Kadang kita tidak perlu terlalu jujur tentang alasan di balik pilihan kita—selama tidak ada yang terluka, biarkan saja hidup bekerja dengan caranya.

Dan ya, aku baik karena aku tidak sebaik itu. Kedengarannya konyol, tapi setidaknya jujur. Kebaikanku bukan cahaya suci yang turun dari langit; lebih seperti lampu emergency yang menyala karena listrik moral dalam diriku sering padam mendadak. Bisa redup, tapi tetap berguna.

Kalau ada yang kesal karena kebaikan model begini dianggap “tidak tulus”—silakan saja. Aku tidak sedang mengikuti lomba kesucian. Aku hanya ingin memastikan aku tidak menjadi versi terburuk dari diriku sendiri. Kalau itu membuatku tampak baik, ya bagus. Kalau tidak, setidaknya aku tidak bangun di pagi hari dengan rasa malu yang tidak perlu.

Begitulah. Aku baik bukan karena aku benar-benar baik. Tapi karena aku tahu apa yang terjadi kalau aku berhenti mencoba. Dan percayalah… itu bukan sesuatu yang ingin kulihat, apalagi kuhadiahkan pada orang lain. 


back ------- next 

Posting Komentar

0 Komentar