PERCAYALAH, AKU JAHAT (7)


 

Pertunjukan yang Gagal

Sudah lama kau tak mencoba sesuatu yang benar-benar besar. Setelah “amal terbalik” yang malah jadi legenda lokal, semesta seperti menantangmu untuk berpikir di luar batas. Kau duduk berjam-jam di kursi rotan butut itu, memandangi tembok kosong seolah di sanalah seluruh rahasia dunia menunggu untuk disindir.

Kau ingin satu hal: dikenang bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai bencana.
Bukan lagi cerita manis di koran, tapi kabar buruk yang membuat orang menatap dengan jijik.
Maka kau mulai menyusun rencana yang lebih matang, lebih rumit, lebih teatrikal.

Rencanamu kali ini: pertunjukan palsu. Ini sebetulnya terinspirasi dari rencana gagalmu sebelumnya yang mengadakan kegiatan semacang lelang amal palsu di balai desa beberapa waktu yang lalu. Tapi kamu coba meyakini, rencanamu kali ini lebih detail dan rinci. Kau akan membuat sebuah acara amal besar, tapi semuanya tipuan. Tujuannya bukan untuk membantu siapa pun, melainkan untuk memperlihatkan betapa mudahnya orang-orang tertipu oleh kebaikan palsu.
Kau ingin memamerkan kepalsuan dunia, dan di situ kau akan berdiri di tengahnya — bukan sebagai korban, tapi dalang.

Kau menamai idemu itu “Panggung Cahaya.”
Nama yang manis, agar jebakanmu semakin dalam.

Rencana itu memakan waktu lebih lama. Kau menyewa gedung kecil di tepi kota, mencetak poster, bahkan mengirim undangan ke tokoh masyarakat. Kau katakan bahwa dana yang terkumpul akan disumbangkan untuk “anak-anak korban banjir di daerah seberang.”
Padahal tak ada anak-anak itu, tak ada banjir, bahkan tak ada rekening sumbangan sungguhan — semua akan kembali padamu, di akhir acara.

Kau menyiapkan segalanya dengan teliti. Daftar panitia palsu, laporan keuangan fiktif, sambutan pura-pura menyentuh. Setiap detail kau pastikan berfungsi sempurna.
Kau ingin menjadikan malam itu sebagai pembuktian: bahwa kebaikan hanyalah pertunjukan, dan manusia hanya suka tepuk tangan, bukan isi hati.

Hari itu pun tiba.

Gedung sederhana itu penuh oleh orang-orang yang datang membawa amplop dan niat baik. Musik lembut mengalun, lampu panggung bersinar hangat. Kau berdiri di belakang panggung, menatap bayanganmu sendiri di cermin kecil yang menggantung di tembok.
“Ini dia,” gumammu. “Kejahatan yang tak bisa diselamatkan oleh semesta.”

Acara berjalan lancar. Kata sambutan, pujian, doa bersama, semua mengalir seperti air tenang yang menipu. Kau bahkan ikut naik ke panggung, tersenyum, mengucapkan terima kasih dengan suara yang dibuat serak haru.
Dan ketika kotak sumbangan sudah penuh, kau tahu malam itu sempurna.

Tapi semesta memang makhluk yang licik. Ia menunggu sampai saat yang paling lembut untuk menjatuhkan kejutan.

Seorang anak perempuan kecil tiba-tiba berlari ke tengah panggung. Usianya sekitar delapan tahun, rambutnya kusut, bajunya basah dan kotor.
Ia menatapmu dengan mata lelah tapi jernih.
“Om Dru, makasih ya… sudah bantu kami waktu banjir kemarin.”

Ruangan seketika hening.

Kau terpaku.
Banjir? Anak ini dari mana?
Kau tidak ingat pernah menolong siapa pun dalam banjir. Tapi anak itu sudah berdiri di sampingmu, menggenggam tanganmu kuat-kuat.

“Rumah kami kebawa air, Om. Tapi kemarin ada orang ngasih selimut dan makanan. Katanya dari acara Om Dru.”
Suara kecil itu meluncur seperti pisau yang menusuk ke dalam kepala.

Kau melihat ke arah panitia palsu — tapi mereka bukan panitia palsu lagi. Mereka panitia sungguhan. Seseorang, entah siapa, telah menggandakan ide acara palsumu dan benar-benar menjadikannya nyata. Poster yang kau cetak untuk tipu-tipu ternyata disebar sungguhan oleh warga, dan dana yang masuk dialirkan ke tempat pengungsian di kota sebelah.

Kau berdiri di atas panggung, kehilangan kata. Orang-orang bertepuk tangan, beberapa menangis. Mereka mengira kau terlalu terharu untuk bicara.
Dan mungkin, di mata mereka, kau memang sedang menahan tangis — bukan karena haru, tapi karena rencanamu kembali dipermainkan semesta.

Ketika lampu padam dan acara usai, kau duduk di kursi paling belakang, menatap panggung kosong.
Di sana, suara semesta seperti berbisik:
“Kau berusaha menunjukkan bahwa kebaikan hanyalah sandiwara. Tapi justru sandiwaramulah yang menghidupkan kebaikan.”

Kau tidak menjawab. Kau hanya tersenyum getir, menarik napas panjang.
Satu aksi lagi gagal.
Tapi mungkin kali ini, kau tak terlalu kecewa. Ada sesuatu yang lain — semacam rasa ingin tahu yang tak mau padam.

Di luar gedung, lampu jalan temaram. Orang-orang pulang dengan wajah puas.
Kau berdiri sebentar, lalu menatap langit dan berkata lirih:
“Kalau semesta ingin bermain teater, baiklah. Aku akan menulis naskah berikutnya.”

Dan begitulah, rencana barumu lahir malam itu — tanpa niat baik, tanpa rasa kasihan, hanya sisa obsesi yang mulai menyerupai takdir.


back ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar