Amal yang Terbalik
Sudah enam hari berlalu sejak muralmu berubah jadi kebanggaan warga. Dinding yang mestinya kau coreng sebagai tanda pemberontakan kini malah dihiasi bunga, warna lembut, dan pesan-pesan kebaikan yang tak pernah kau niatkan. Foto-fotonya berseliweran di media sosial, disertai tagar yang menggelikan: #TerimaKasihDru.
Semesta tampak benar-benar sedang bermain-main denganmu.
Kau duduk di teras rumah, menatap langit yang pucat. Di kepala, satu kalimat terus bergema: Aku harus berbuat jahat yang benar-benar jahat.
Tapi apa artinya “benar-benar jahat?"
Menipu? Sudah. Memukul orang? Gagal. Mengaku dosa palsu? Malah dikagumi.
Kau mulai merasa hidupmu seperti sandiwara tanpa naskah, di mana setiap kali mencoba menjadi peran antagonis, penonton justru bertepuk tangan karena mengira kau sedang berakting sebagai pahlawan.
Namun di suatu sore, ketika seekor kucing kurus menghampiri dan menjilat sisa air di bawah pot bunga, ide itu muncul begitu saja.
Ya. Amal terbalik.
Kau akan beramal dengan niat buruk. Memberi, tapi untuk alasan yang busuk. Menolong, tapi untuk menyakiti. Semesta pasti tak bisa memelintir niat seperti itu.
Rencanamu sederhana: kau akan berdonasi besar-besaran ke sebuah yayasan. Tapi bukan karena peduli — melainkan agar uangmu digunakan dengan sia-sia. Kau akan memilih yayasan yang tampak teduh di luar tapi busuk di dalam. Dengan begitu, niat baikmu palsu dan hasilnya pun kotor.
Ironi sempurna.
Kau mencari-cari lembaga yang mencurigakan. Brosur, pamflet, bahkan unggahan yang tampak terlalu manis untuk jujur. Akhirnya kau menemukan satu: Yayasan Pelita Cinta Anak Bangsa. Namanya begitu megah, tapi fotonya murahan, alamatnya samar, dan kontaknya menggunakan nomor ponsel biasa.
“Ini dia,” katamu. “Tempat yang tepat untuk membuang kebaikan.”
Malamnya, kau datang ke alamat yang tertera. Sebuah rumah tua di ujung gang, temboknya lembap, catnya mengelupas. Di teras, tampak seorang perempuan muda duduk dengan wajah lelah namun ramah.
“Kau mau mendaftar jadi relawan?” tanyanya.
“Tidak,” jawabmu cepat. “Aku ingin menyumbang uang. Banyak.”
Ia terkejut, lalu tersenyum ragu. “Serius?”
“Serius. Tapi jangan tanya kenapa.”
Kau menyerahkan amplop berisi sejumlah uang yang cukup untuk membeli motor bekas. Perempuan itu menerimanya dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Kak. Kami benar-benar butuh. Dua anak asuh kami baru saja jatuh sakit.”
Kau tak menjawab. Kau hanya mengangguk datar, lalu pergi. Dalam hati, kau berkata sinis: Gunakan uang itu seburuk mungkin. Buktikan bahwa niat jahat pun bisa menular.
Tapi semesta, seperti biasa, tak mau menuruti skenariomu.
Seminggu kemudian, namamu muncul di koran lokal. Bukan di kolom kriminal, melainkan di halaman utama:
“Donatur Misterius Selamatkan Dua Anak Asuh dari Gagal Ginjal.”
Yayasan Pelita Cinta Anak Bangsa berhasil menanggung biaya operasi berkat bantuan tanpa nama dari seseorang yang menolak disebut dermawan.
Kau membaca berita itu dengan mulut kaku dan jantung berdebar. Foto dua anak kecil tersenyum di ranjang rumah sakit terpampang besar di bawahnya. Ada tulisan tangan kecil dari mereka: “Terima kasih untuk orang baik yang tidak ingin disebutkan namanya.”
Kau menatap tulisan itu lama. Kepalamu berat, matamu panas.
Bagaimana mungkin uang yang kau niatkan untuk kejahatan malah jadi penyelamat nyawa?
Kau mencoba tertawa, tapi suara itu serak, seperti keluar dari tenggorokan yang kering. “Semesta, kau benar-benar gila.”
Sejak hari itu, kau menjadi legenda kecil. Orang-orang menyebutmu “dermawan misterius.” Warga yang dulu sekadar kagum, kini menaruh rasa hormat. Bahkan beberapa orang mulai menirumu, berdonasi secara anonim ke yayasan-yayasan kecil.
Kau ingin berteriak bahwa semuanya salah paham. Bahwa niatmu busuk. Tapi percuma. Mereka sudah lebih dulu menjadikannya kisah inspiratif baru.
Malam berikutnya, kau menulis di buku catatanmu:
Rencana keenam: berbuat baik agar berbuat jahat. Tapi semesta malah membaliknya lagi.
Kau menatap catatan itu lama. Ada rasa letih yang aneh, campuran antara pasrah dan penasaran.
Jika semesta terus menertawakanmu seperti ini, mungkin suatu hari nanti kau tak lagi mencoba berbuat. jahat — bukan karena sadar, tapi karena tak ada gunanya melawan arus.
Namun malam ini, belum.
Belum menyerah.
Kau menutup buku, menatap langit, dan berbisik pelan, “Aku akan temukan caranya. Suatu hari nanti, aku pasti bisa benar-benar jahat.”
Semesta diam.
Tapi di kejauhan, seolah-olah udara ikut tersenyum.
back ----------- next
0 Komentar