PEREMPUAN DARI UTARA
Ravi mengikuti perempuan asing itu
menyusuri jalan tanah yang mengarah ke hutan pinus. Ia tidak tahu kenapa ia
menurut begitu saja. Mungkin karena sorot mata perempuan itu—penuh keyakinan
aneh, seolah kedatangannya sudah ditulis jauh sebelum Ravi lahir.
“Namamu siapa?” tanya Ravi akhirnya.
“Liora,” jawabnya tanpa menoleh.
“Aku dari Utara.”
“Utara mana?”
“Utara yang tidak ada di peta
desamu.”
Jawaban itu membuat Ravi menelan
ludah. Ia mempercepat langkah.
Liora berhenti di sebuah batu besar
yang ditumbuhi lumut. Ia meletakkan telapak tangannya di atas permukaan batu
itu, seolah menyapa sesuatu yang tertidur di dalamnya.
“Nenek moyang kami menyebutnya Batu
Ingatan,” katanya.
Ravi mengamati batu itu. Tak ada
yang istimewa—cuma batu besar yang sering dipakai anak-anak desa untuk duduk
sambil makan jambu. Tapi saat Liora menekan permukaannya, Ravi melihat sesuatu.
Sangat sekejap, seperti bayangan.
Seperti… kilatan biru.
Ravi mundur selangkah. “Apa itu?”
Liora memandangnya lama. “Ravi,
dengarkan baik-baik. Kamu mungkin merasa hidupmu biasa saja. Kamu mungkin pikir
kamu hanya anak desa tanpa masa lalu aneh. Tapi kamu salah. Ada sesuatu yang
diwariskan kepadamu. Sesuatu yang bahkan tidak diberikan kepada siapa pun
selama ratusan generasi.”
Ravi menegang. “Apa maksudmu?”
Liora mendekatinya, menatap matanya
dalam-dalam.
“Kamu adalah pewaris jejak. Jejak
yang hilang sejak banjir purba menenggelamkan dunia tua. Jejak itu… pernah
dibawa seseorang bernama Ravi juga.”
Ravi terdiam. Dadanya terasa sesak.
“Ravi…?” ulangnya perlahan. “Seperti
namaku?”
Liora mengangguk. “Ya. Namanya Ravi.
Dia hidup ribuan tahun lalu. Di sebuah dunia yang lain—Sundaland. Ia adalah
manusia pertama yang membawa cahaya dari para penjaga awal.”
Ravi tercekat. Mimpi-mimpinya… suara
perempuan yang memanggil… kilatan-kilatan biru… semuanya tiba-tiba seperti
menemukan tempat untuk pulang.
“Jadi,” suara Ravi bergetar, “kamu
bilang… aku adalah dia?”
“Tidak,” jawab Liora. “Kamu bukan
dirinya. Tapi kamu membawa sisa jejaknya. Dan itu cukup untuk membangunkan
sesuatu yang seharusnya tetap tertidur.”
Ravi menelan ludah. “Sesuatu apa?”
Sebelum Liora menjawab, tanah di
bawah kaki mereka bergetar halus—bukan gempa, tapi denyutan. Seperti detak
jantung bumi.
Batu Ingatan memancarkan cahaya biru
tipis.
Liora bergeser cepat, meraih lengan
Ravi. “Kita tidak punya banyak waktu. Jejakmu sudah ditemukan.”
“Ditemukan oleh siapa?”
Tepat saat itu, dari balik pepohonan
terdengar suara berat, menggelegar, tetapi bukan suara binatang. Lebih seperti…
napas seseorang yang sangat besar dan sangat tua.
Liora berbisik:
“Oleh mereka yang dulu menghancurkan
dunia pertama.”

0 Komentar