JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (2)

 

Es Es - Ikon Blog

PEREMPUAN DARI UTARA

Ravi mengikuti perempuan asing itu menyusuri jalan tanah yang mengarah ke hutan pinus. Ia tidak tahu kenapa ia menurut begitu saja. Mungkin karena sorot mata perempuan itu—penuh keyakinan aneh, seolah kedatangannya sudah ditulis jauh sebelum Ravi lahir.

“Namamu siapa?” tanya Ravi akhirnya.

“Liora,” jawabnya tanpa menoleh. “Aku dari Utara.”

“Utara mana?”

“Utara yang tidak ada di peta desamu.”

Jawaban itu membuat Ravi menelan ludah. Ia mempercepat langkah.

Liora berhenti di sebuah batu besar yang ditumbuhi lumut. Ia meletakkan telapak tangannya di atas permukaan batu itu, seolah menyapa sesuatu yang tertidur di dalamnya.

“Nenek moyang kami menyebutnya Batu Ingatan,” katanya.

Ravi mengamati batu itu. Tak ada yang istimewa—cuma batu besar yang sering dipakai anak-anak desa untuk duduk sambil makan jambu. Tapi saat Liora menekan permukaannya, Ravi melihat sesuatu. Sangat sekejap, seperti bayangan.

Seperti… kilatan biru.

Ravi mundur selangkah. “Apa itu?”

Liora memandangnya lama. “Ravi, dengarkan baik-baik. Kamu mungkin merasa hidupmu biasa saja. Kamu mungkin pikir kamu hanya anak desa tanpa masa lalu aneh. Tapi kamu salah. Ada sesuatu yang diwariskan kepadamu. Sesuatu yang bahkan tidak diberikan kepada siapa pun selama ratusan generasi.”

Ravi menegang. “Apa maksudmu?”

Liora mendekatinya, menatap matanya dalam-dalam.

“Kamu adalah pewaris jejak. Jejak yang hilang sejak banjir purba menenggelamkan dunia tua. Jejak itu… pernah dibawa seseorang bernama Ravi juga.”

Ravi terdiam. Dadanya terasa sesak.

“Ravi…?” ulangnya perlahan. “Seperti namaku?”

Liora mengangguk. “Ya. Namanya Ravi. Dia hidup ribuan tahun lalu. Di sebuah dunia yang lain—Sundaland. Ia adalah manusia pertama yang membawa cahaya dari para penjaga awal.”

Ravi tercekat. Mimpi-mimpinya… suara perempuan yang memanggil… kilatan-kilatan biru… semuanya tiba-tiba seperti menemukan tempat untuk pulang.

“Jadi,” suara Ravi bergetar, “kamu bilang… aku adalah dia?”

“Tidak,” jawab Liora. “Kamu bukan dirinya. Tapi kamu membawa sisa jejaknya. Dan itu cukup untuk membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur.”

Ravi menelan ludah. “Sesuatu apa?”

Sebelum Liora menjawab, tanah di bawah kaki mereka bergetar halus—bukan gempa, tapi denyutan. Seperti detak jantung bumi.

Batu Ingatan memancarkan cahaya biru tipis.

Liora bergeser cepat, meraih lengan Ravi. “Kita tidak punya banyak waktu. Jejakmu sudah ditemukan.”

“Ditemukan oleh siapa?”

Tepat saat itu, dari balik pepohonan terdengar suara berat, menggelegar, tetapi bukan suara binatang. Lebih seperti… napas seseorang yang sangat besar dan sangat tua.

Liora berbisik:

“Oleh mereka yang dulu menghancurkan dunia pertama.”


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar