LAKI-LAKI YANG TIDAK MENGENAL
MIMPINYA
Ravi selalu merasa ada sesuatu yang
“kurang” dalam hidupnya, meski ia tak pernah tahu apa. Usianya baru 19 tahun,
tapi ia sering terbangun sebelum subuh dengan dada berdebar, seolah baru
kembali dari perjalanan jauh yang tak pernah ia ingat. Yang tinggal hanya
sensasi: dingin air yang menggulung, cahaya yang pecah seperti retakan kaca,
dan suara perempuan yang memanggilnya dari balik kabut.
Tetapi setiap pagi, begitu matanya
benar-benar terbuka, semuanya hilang.
Ravi tinggal di sebuah desa kecil di
kaki gunung yang tidak pernah heboh oleh apa pun. Rumah-rumahnya sederhana,
orang-orangnya ramah, dan hari-hari berjalan seperti halaman buku yang sudah
hafal di luar kepala. Ia bekerja membantu pamannya merawat kebun kopi—pekerjaan
ringan, rutin, dan mesti dilakukan tanpa banyak pertanyaan.
Tapi Ravi adalah anak muda yang
justru penuh pertanyaan.
Hari itu, sesuatu berubah.
Saat Ravi mengantar hasil panen ke
gudang desa, ia melewati gapura kayu tua yang menjadi batas wilayah pemukiman.
Di sana, berdiri seorang perempuan asing—usia sekitar 30-an, jaket hijau lusuh,
ransel besar di punggung. Tatapannya tajam, seperti seseorang yang sedang
mencari sesuatu yang sudah lama hilang.
Begitu melihat Ravi, ia menahan
napas.
“Namamu… Ravi?” tanyanya pelan,
hampir berbisik, seperti takut mengganggu udara.
Ravi mengernyit. “Iya. Kita kenal?”
Ravi tersentak. “Mencari… aku? Untuk
apa?”
Perempuan itu tidak langsung
menjawab. Ia malah memerhatikan tangan Ravi, seperti mencari sesuatu yang tidak
terlihat orang lain. Lalu ia berkata dengan suara yang hanya didengar angin:
“Kamu… membawa jejak itu.”
“Jejak apa?”
“Jejak dunia sebelum kita.”
Perempuan itu mendekat.
“Aku butuh bantuanmu, Ravi. Karena
sesuatu dari masa yang sangat jauh… mulai bangun kembali.”
Dan Ravi, untuk pertama kalinya,
merasa hidupnya benar-benar dimulai.

0 Komentar