JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (1)

 

Es Es - Ikon Blog

LAKI-LAKI YANG TIDAK MENGENAL MIMPINYA

Ravi selalu merasa ada sesuatu yang “kurang” dalam hidupnya, meski ia tak pernah tahu apa. Usianya baru 19 tahun, tapi ia sering terbangun sebelum subuh dengan dada berdebar, seolah baru kembali dari perjalanan jauh yang tak pernah ia ingat. Yang tinggal hanya sensasi: dingin air yang menggulung, cahaya yang pecah seperti retakan kaca, dan suara perempuan yang memanggilnya dari balik kabut.

Tetapi setiap pagi, begitu matanya benar-benar terbuka, semuanya hilang.

Ravi tinggal di sebuah desa kecil di kaki gunung yang tidak pernah heboh oleh apa pun. Rumah-rumahnya sederhana, orang-orangnya ramah, dan hari-hari berjalan seperti halaman buku yang sudah hafal di luar kepala. Ia bekerja membantu pamannya merawat kebun kopi—pekerjaan ringan, rutin, dan mesti dilakukan tanpa banyak pertanyaan.

Tapi Ravi adalah anak muda yang justru penuh pertanyaan.

Siapa dirinya sebenarnya?
Mengapa ia selalu merasa seperti orang yang “dipanggil” dari kejauhan?
Dan kenapa sejak kecil ia melihat cahaya biru samar di atas danau tua saat semua orang menganggapnya hanya refleksi bulan?

Hari itu, sesuatu berubah.

Saat Ravi mengantar hasil panen ke gudang desa, ia melewati gapura kayu tua yang menjadi batas wilayah pemukiman. Di sana, berdiri seorang perempuan asing—usia sekitar 30-an, jaket hijau lusuh, ransel besar di punggung. Tatapannya tajam, seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu yang sudah lama hilang.

Begitu melihat Ravi, ia menahan napas.

“Namamu… Ravi?” tanyanya pelan, hampir berbisik, seperti takut mengganggu udara.

Ravi mengernyit. “Iya. Kita kenal?”

Perempuan itu tersenyum aneh—campuran lega dan ngeri.
“Tidak. Tapi aku sudah mencarimu sejak bertahun-tahun.”

Ravi tersentak. “Mencari… aku? Untuk apa?”

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia malah memerhatikan tangan Ravi, seperti mencari sesuatu yang tidak terlihat orang lain. Lalu ia berkata dengan suara yang hanya didengar angin:

“Kamu… membawa jejak itu.”

“Jejak apa?”

“Jejak dunia sebelum kita.”

Ravi menggigil tanpa mengerti mengapa.
Sejenak, kilatan cahaya biru menari di sudut pandang matanya—cahaya yang pernah ia lihat di mimpi-mimpi tanpa wujud.

Perempuan itu mendekat.

“Aku butuh bantuanmu, Ravi. Karena sesuatu dari masa yang sangat jauh… mulai bangun kembali.”

Dan Ravi, untuk pertama kalinya, merasa hidupnya benar-benar dimulai.

 

next

Posting Komentar

0 Komentar