MEREKA YANG MENCIUM JEJAK
Suara itu—napas berat yang bergaung
seperti logam tua—membuat bulu kuduk Ravi berdiri. Hutan pinus tiba-tiba terasa
lebih gelap, seolah matahari meredup hanya di tempat mereka berdiri.
Liora meraih tangan Ravi dan
berlari. “Jangan lihat ke belakang!”
Tapi Ravi, seperti manusia pada
umumnya, justru menoleh.
Di antara pepohonan yang padat, ada
sosok tinggi… terlalu tinggi untuk disebut manusia. Bayangannya memanjang,
tubuhnya kurus tetapi berotot, dan kepalanya miring seperti sedang mengendus
sesuatu. Mata hitamnya menyala redup.
Ia bukan manusia. Tapi ia juga bukan
binatang.
Ravi terpaku. “Itu… siapa?”
“Penjaga Arka Kuno,” jawab
Liora cepat. “Makhluk yang tercipta untuk mengawasi jejak. Mereka tidak jahat,
tapi mereka tidak mengenal belas kasihan. Tugas mereka hanya satu: memastikan
tidak ada manusia yang membawa jejak lama.”
“Mengapa?”
“Karena jejak itu bisa membuka
kembali sesuatu yang seharusnya tidak pernah bangun lagi.”
Mereka berlari menuruni lereng.
Napas Ravi terenggah, tapi Liora bergerak cepat seperti seseorang yang sudah
hafal jalur selama bertahun-tahun.
Dari belakang, suara langkah makhluk
itu meretakkan ranting. Lambat. Stabil. Mengejar tanpa terburu-buru, seperti
yakin bahwa tidak ada manusia yang bisa lolos.
“Liora,” Ravi teriak, “apa makhluk
itu bisa membunuh kita?”
“Kalau kamu membawa jejak sekuat
ini,” jawab Liora, “ya.”
Ravi ingin marah, ingin berteriak
bahwa ia tidak pernah minta mewarisi apa pun—apalagi jejak misterius yang
membuatnya diburu makhluk antik setinggi pohon.
Tapi tak ada waktu.
Mereka sampai di tepi sebuah tebing
kecil—tak tinggi, tapi cukup curam. Di bawahnya mengalir sungai sempit dengan
air dingin dan deras.
“Kita lompat!” kata Liora.
“APA?!”
Liora menggenggam tangannya.
“Percaya aku!”
Ravi menggeleng keras. “Tidak! Kita
mati!”
“Tidak lebih mati daripada ditangkap
itu,” Liora menunjuk bayangan yang semakin dekat.
Makhluk itu kini terlihat jelas,
langkahnya tenang, matanya membidik Ravi seperti mendeteksi cahaya yang tak
kasatmata.
Ravi menatap Liora. “Kalau aku
mati—”
“Aku ikut,” jawab Liora tanpa ragu.
Itu cukup.
Mereka melompat.
Air sungai membentur tubuh Ravi
seperti batu dingin. Dunia berubah menjadi pusaran putih dan gelap. Ia
terseret, terputar, ditelan derasnya arus, tak bisa membedakan mana atas mana
bawah. Suara Liora hilang, tergulung air.
Ravi meraih udara, atau apa pun,
tapi yang ia temukan justru sesuatu yang lain—sebuah kilatan biru menyala di
dalam air, seperti matahari mini yang retak.
Jejaknya.
Dan saat jarinya tanpa sengaja
menyentuhnya, dunia di sekelilingnya berubah.
Semua itu… sekejap.
Sampai tangan Liora menariknya ke
permukaan.
Mereka muncul di sisi lain sungai,
terbatuk keras. Nafas Ravi terburu-buru, dada perih.
Liora mendekat. “Kamu melihat
sesuatu?”
Ravi menatapnya dengan wajah pucat.
“Bukan ‘sesuatu’, Liora,” bisiknya.
“Aku melihat… diriku.”
Liora menutup mata, seolah itu
jawaban yang ia takutkan.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita
benar-benar terlambat.”
Di kejauhan, suara napas berat itu
kembali terdengar. Makhluk itu belum menyerah.

0 Komentar