JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (3)

 

Es Es - Ikon Blog

MEREKA YANG MENCIUM JEJAK

Suara itu—napas berat yang bergaung seperti logam tua—membuat bulu kuduk Ravi berdiri. Hutan pinus tiba-tiba terasa lebih gelap, seolah matahari meredup hanya di tempat mereka berdiri.

Liora meraih tangan Ravi dan berlari. “Jangan lihat ke belakang!”

Tapi Ravi, seperti manusia pada umumnya, justru menoleh.

Di antara pepohonan yang padat, ada sosok tinggi… terlalu tinggi untuk disebut manusia. Bayangannya memanjang, tubuhnya kurus tetapi berotot, dan kepalanya miring seperti sedang mengendus sesuatu. Mata hitamnya menyala redup.

Ia bukan manusia. Tapi ia juga bukan binatang.

Ravi terpaku. “Itu… siapa?”

Penjaga Arka Kuno,” jawab Liora cepat. “Makhluk yang tercipta untuk mengawasi jejak. Mereka tidak jahat, tapi mereka tidak mengenal belas kasihan. Tugas mereka hanya satu: memastikan tidak ada manusia yang membawa jejak lama.”

“Mengapa?”

“Karena jejak itu bisa membuka kembali sesuatu yang seharusnya tidak pernah bangun lagi.”

Mereka berlari menuruni lereng. Napas Ravi terenggah, tapi Liora bergerak cepat seperti seseorang yang sudah hafal jalur selama bertahun-tahun.

Dari belakang, suara langkah makhluk itu meretakkan ranting. Lambat. Stabil. Mengejar tanpa terburu-buru, seperti yakin bahwa tidak ada manusia yang bisa lolos.

“Liora,” Ravi teriak, “apa makhluk itu bisa membunuh kita?”

“Kalau kamu membawa jejak sekuat ini,” jawab Liora, “ya.”

Ravi ingin marah, ingin berteriak bahwa ia tidak pernah minta mewarisi apa pun—apalagi jejak misterius yang membuatnya diburu makhluk antik setinggi pohon.

Tapi tak ada waktu.

Mereka sampai di tepi sebuah tebing kecil—tak tinggi, tapi cukup curam. Di bawahnya mengalir sungai sempit dengan air dingin dan deras.

“Kita lompat!” kata Liora.

“APA?!”

Liora menggenggam tangannya. “Percaya aku!”

Ravi menggeleng keras. “Tidak! Kita mati!”

“Tidak lebih mati daripada ditangkap itu,” Liora menunjuk bayangan yang semakin dekat.

Makhluk itu kini terlihat jelas, langkahnya tenang, matanya membidik Ravi seperti mendeteksi cahaya yang tak kasatmata.

Ravi menatap Liora. “Kalau aku mati—”

“Aku ikut,” jawab Liora tanpa ragu.

Itu cukup.

Mereka melompat.

Air sungai membentur tubuh Ravi seperti batu dingin. Dunia berubah menjadi pusaran putih dan gelap. Ia terseret, terputar, ditelan derasnya arus, tak bisa membedakan mana atas mana bawah. Suara Liora hilang, tergulung air.

Ravi meraih udara, atau apa pun, tapi yang ia temukan justru sesuatu yang lain—sebuah kilatan biru menyala di dalam air, seperti matahari mini yang retak.

Jejaknya.

Dan saat jarinya tanpa sengaja menyentuhnya, dunia di sekelilingnya berubah.

Dalam sedetik yang terasa seperti seribu tahun, Ravi melihat kilasan-kilasan:
laut yang naik menenggelamkan negeri,
gunung yang runtuh,
seorang pemuda kuno—Ravi yang pertama—berdiri dengan mata penuh cahaya,
dan perempuan bersayap cahaya yang menangis melepasnya.

Semua itu… sekejap.

Sampai tangan Liora menariknya ke permukaan.

Mereka muncul di sisi lain sungai, terbatuk keras. Nafas Ravi terburu-buru, dada perih.

Liora mendekat. “Kamu melihat sesuatu?”

Ravi menatapnya dengan wajah pucat.

“Bukan ‘sesuatu’, Liora,” bisiknya. “Aku melihat… diriku.”

Liora menutup mata, seolah itu jawaban yang ia takutkan.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita benar-benar terlambat.”

Di kejauhan, suara napas berat itu kembali terdengar. Makhluk itu belum menyerah.

Dan jauh di langit, kilatan biru membelah awan.
Seperti sesuatu yang lama terkunci… kini mulai bangun lagi.


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar