JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (4)

 

Es Es - Ikon Blog

CAHAYA YANG MASIH MENGIKUTI

Air masih menetes dari rambut Ravi ketika ia dan Liora berlari menjauh dari tepian sungai. Napas mereka berat, tubuh gemetar, namun ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada makhluk penjaga tadi:
penglihatan yang muncul saat Ravi menyentuh kilatan biru di dalam air itu.

Langkah Ravi terhenti tiba-tiba.

Liora menoleh. “Kenapa? Kita harus terus jalan—”

“Aku melihat… terlalu banyak,” Ravi mengusap wajahnya. “Bukan hanya bayangan. Aku melihat laut yang naik. Negeri yang tenggelam. Dan dia—pemuda itu—dia… aku.”

Liora menarik napas panjang, menatap Ravi dengan sesuatu yang campuran antara iba dan kekhawatiran.

“Aku tahu,” katanya pelan. “Itulah yang kutakutkan.”

Ravi menatapnya tajam. “Kamu tahu apa, Liora? Apa sebenarnya jejak ini? Dan mengapa semua mulai mengejarku seolah aku membuka kunci yang seharusnya terkunci selamanya?”

Liora mendekat, suara angin hutan menjadi latar yang samar.

“Ravi,” katanya perlahan, seolah memilih kata dengan sangat hati-hati, “kamu bukan melihat masa lalu orang lain.”

Ravi menahan napas.

“Kamu melihat masa lalu dirimu sendiri.”

Dunia Ravi terasa berhenti. Daun, angin, suara sungai—semua hilang untuk beberapa detik.

“Aku… hidup sebelum ini?” suaranya nyaris berbisik.

“Bukan hanya hidup,” Liora menunduk. “Kamu pernah menjadi bagian dari mereka yang menjaga dunia sebelum banjir besar memutus semuanya. Para Penjaga Cahaya. Arka Terakhir. Kamu salah satu dari mereka.”

Ravi menggeleng keras. “Tidak. Tidak masuk akal. Aku hanya manusia biasa.”

“Ya. Sekarang kamu manusia biasa.” Liora memandangnya lagi. “Tapi jejakmu tidak.”

Ravi ingin menyangkal, tetapi kilatan-kilatan tadi—bencana raksasa, langit patah, mata Ravi pertama yang menyala bagai fajar—semua terlalu hidup untuk sekadar ilusi.

“Apa yang terjadi dengan Ravi pertama?” tanyanya lirih.

“Dia…” Liora terdiam sesaat. “Dia mengunci cahaya besar sebelum dunia runtuh. Dia memilih menghilang bersama kekuatan itu agar tidak disalahgunakan. Dan setelah dunia berubah, jejaknya tidak pernah muncul lagi—sampai kamu menyentuh simbol itu.”

Ravi menelan ludah. Ada sesuatu yang mengganjal di dada, antara takut dan berat yang tak bisa ia jelaskan.

“Liora,” katanya, “kalau aku benar-benar pewaris jejak itu… apa yang harus kulakukan?”

Liora mendekat sedikit, suaranya melembut.

“Kita cari tempat aman dulu. Setelah itu, aku akan menunjukkan sesuatu yang ayahmu tinggalkan. Sesuatu yang hanya bisa dibuka olehmu.”

Ravi menatapnya. “Ayahku… tahu semua ini?”

“Tidak semuanya,” jawab Liora. “Tapi dia merasa jejakmu akan bangkit. Dan dia menyiapkan petunjuk. Untuk hari ini.”

Sebelum Ravi sempat bertanya, suara yang sangat pelan—seperti logam yang diseret—muncul dari balik pepohonan.

Liora menegang. “Itu bukan penjaga tadi. Ini berbeda.”

Ravi mundur selangkah. “Apa lagi?!”

“Ada lebih dari satu yang mengikuti jejak,” Liora menatap gelap hutan dengan sorot waspada. “Dan tidak semuanya hanya mengawasi. Ada yang ingin… menguasainya.”

Ravi merasakan udara tiba-tiba lebih dingin.

“Ke mana kita harus pergi?”

Liora menggenggam tangannya lagi, mantap.

“Ke sebuah tempat yang tidak bisa dimasuki makhluk dunia lama,” katanya. “Tempat yang ayahmu sebut sebagai Ruang Sunyi.

“Di mana itu?”

Liora menatap ke arah lembah di bawah—tempat kabut mulai berkumpul perlahan.

“Di bawah bukit tua itu,” jawabnya. “Di mana dunia lama dan dunia sekarang tidak saling melihat.”

Ravi menatap kabut itu. Ada sesuatu yang memanggil—samar, namun sangat akrab.

“Dan apa yang ayahku tinggalkan di sana?”

Liora menatapnya lama.

“Jawaban,” katanya akhirnya. “Dan permohonan maaf.”

Ravi menelan ludah. Permohonan maaf dari ayah yang sudah lama pergi… itu lebih menakutkan dari makhluk apa pun yang mengejarnya.

“Bersiaplah,” kata Liora. “Begitu kita masuk Ruang Sunyi… semuanya akan berubah.”

Tanah bergetar pelan—tanda bahwa sesuatu yang lain mulai mendekat.

Mereka berdua menuruni jalan menuju lembah tanpa menoleh lagi.
Sementara di belakang mereka, di balik pepohonan gelap, sepasang mata lain menyala—bukan hitam, bukan merah—tapi emas.

Seolah makhluk itu tidak mengejar Ravi… melainkan menyambut kepulangannya.

Lalu …..

“Liora, kamu di mana?”

Apa ini? Kompas? 

"Liora!"

Ruang sunyi? 

Sunyi. Hanya gemericik air sungai. 


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar