CAHAYA YANG MASIH MENGIKUTI
Langkah Ravi terhenti tiba-tiba.
Liora menoleh. “Kenapa? Kita harus
terus jalan—”
“Aku melihat… terlalu banyak,” Ravi
mengusap wajahnya. “Bukan hanya bayangan. Aku melihat laut yang naik. Negeri
yang tenggelam. Dan dia—pemuda itu—dia… aku.”
Liora menarik napas panjang, menatap
Ravi dengan sesuatu yang campuran antara iba dan kekhawatiran.
“Aku tahu,” katanya pelan. “Itulah
yang kutakutkan.”
Ravi menatapnya tajam. “Kamu tahu
apa, Liora? Apa sebenarnya jejak ini? Dan mengapa semua mulai mengejarku seolah
aku membuka kunci yang seharusnya terkunci selamanya?”
Liora mendekat, suara angin hutan
menjadi latar yang samar.
“Ravi,” katanya perlahan, seolah
memilih kata dengan sangat hati-hati, “kamu bukan melihat masa lalu orang lain.”
Ravi menahan napas.
“Kamu melihat masa lalu dirimu
sendiri.”
Dunia Ravi terasa berhenti. Daun,
angin, suara sungai—semua hilang untuk beberapa detik.
“Aku… hidup sebelum ini?” suaranya
nyaris berbisik.
“Bukan hanya hidup,” Liora menunduk.
“Kamu pernah menjadi bagian dari mereka yang menjaga dunia sebelum banjir besar
memutus semuanya. Para Penjaga Cahaya. Arka Terakhir. Kamu salah satu dari
mereka.”
Ravi menggeleng keras. “Tidak. Tidak
masuk akal. Aku hanya manusia biasa.”
“Ya. Sekarang kamu manusia biasa.”
Liora memandangnya lagi. “Tapi jejakmu tidak.”
Ravi ingin menyangkal, tetapi
kilatan-kilatan tadi—bencana raksasa, langit patah, mata Ravi pertama yang
menyala bagai fajar—semua terlalu hidup untuk sekadar ilusi.
“Apa yang terjadi dengan Ravi pertama?”
tanyanya lirih.
“Dia…” Liora terdiam sesaat. “Dia
mengunci cahaya besar sebelum dunia runtuh. Dia memilih menghilang bersama
kekuatan itu agar tidak disalahgunakan. Dan setelah dunia berubah, jejaknya
tidak pernah muncul lagi—sampai kamu menyentuh simbol itu.”
Ravi menelan ludah. Ada sesuatu yang
mengganjal di dada, antara takut dan berat yang tak bisa ia jelaskan.
“Liora,” katanya, “kalau aku
benar-benar pewaris jejak itu… apa yang harus kulakukan?”
Liora mendekat sedikit, suaranya
melembut.
“Kita cari tempat aman dulu. Setelah
itu, aku akan menunjukkan sesuatu yang ayahmu tinggalkan. Sesuatu yang hanya
bisa dibuka olehmu.”
Ravi menatapnya. “Ayahku… tahu semua
ini?”
“Tidak semuanya,” jawab Liora. “Tapi
dia merasa jejakmu akan bangkit. Dan dia menyiapkan petunjuk. Untuk hari ini.”
Sebelum Ravi sempat bertanya, suara
yang sangat pelan—seperti logam yang diseret—muncul dari balik pepohonan.
Liora menegang. “Itu bukan penjaga
tadi. Ini berbeda.”
Ravi mundur selangkah. “Apa lagi?!”
“Ada lebih dari satu yang mengikuti
jejak,” Liora menatap gelap hutan dengan sorot waspada. “Dan tidak semuanya
hanya mengawasi. Ada yang ingin… menguasainya.”
Ravi merasakan udara tiba-tiba lebih
dingin.
“Ke mana kita harus pergi?”
Liora menggenggam tangannya lagi,
mantap.
“Ke sebuah tempat yang tidak bisa
dimasuki makhluk dunia lama,” katanya. “Tempat yang ayahmu sebut sebagai Ruang
Sunyi.”
“Di mana itu?”
Liora menatap ke arah lembah di
bawah—tempat kabut mulai berkumpul perlahan.
“Di bawah bukit tua itu,” jawabnya.
“Di mana dunia lama dan dunia sekarang tidak saling melihat.”
Ravi menatap kabut itu. Ada sesuatu
yang memanggil—samar, namun sangat akrab.
“Dan apa yang ayahku tinggalkan di
sana?”
Liora menatapnya lama.
“Jawaban,” katanya akhirnya. “Dan
permohonan maaf.”
Ravi menelan ludah. Permohonan maaf
dari ayah yang sudah lama pergi… itu lebih menakutkan dari makhluk apa pun yang
mengejarnya.
“Bersiaplah,” kata Liora. “Begitu
kita masuk Ruang Sunyi… semuanya akan berubah.”
Tanah bergetar pelan—tanda bahwa
sesuatu yang lain mulai mendekat.
Seolah makhluk itu tidak mengejar
Ravi… melainkan menyambut kepulangannya.
Lalu …..
“Liora, kamu di mana?”
Apa ini? Kompas?
"Liora!"
Ruang sunyi?
Sunyi. Hanya gemericik air sungai.

0 Komentar