BAYANGAN YANG MENYEBUT NAMAMU
Angin malam menggulung di sela
pepohonan, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang… asing. Ravi mematung.
Suara itu jelas. Lembut, tapi sangat dekat.
“Ravi…”
Liora? Bukan.
Ia menelan ludah, jemari menggenggam
kompas tua yang terasa hangat, seolah benda itu hidup dan berdebar bersamanya.
Tidak ada jawaban. Hanya desir daun
yang bergesekan.
Ravi melangkah satu tapak; rumput
basah menahan pijakannya. Kompasnya berputar liar, jarumnya berkedip-kedip
dengan cahaya tipis seperti lampu kuno yang hampir padam. Lalu, jarum itu
berhenti mendadak—menunjuk lurus ke arah kegelapan.
Dalam sekejap, bayangan seseorang
muncul.
Bukan monster. Bukan makhluk asing.
Tapi seseorang.
Tingginya hampir sama seperti Ravi,
tubuhnya ramping, dan wajahnya tertutup oleh tudung hitam. Hanya bagian bawah
wajahnya terlihat—kulitnya pucat nyaris seperti kertas.
“Aku sudah mencarimu,” ucapnya
pelan.
Ravi mundur. “K-Kenapa? Kamu siapa
sebenarnya?”
Tudung itu sedikit terangkat oleh
angin, memperlihatkan sepasang mata—abu-abu redup, seperti langit sebelum
hujan.
“Namaku Ardea,” jawabnya. “Dan jika
aku tidak menemukanmu sekarang… mereka yang mengejarmu akan datang lagi.”
Ravi merasakan perutnya mengerut.
“Kamu yang panggil namaku tadi?”
Ardea tidak langsung menjawab. Ia
menatap kompas di tangan Ravi. Ekspresinya berubah—ada rasa terkejut, sekaligus
sesuatu yang mirip… lega.
“Jadi benar,” bisiknya. “Penanda itu
memilihmu.”
Ravi mengangkat alis. “Penanda?
Kompas ini?”
“Bukan kompas,” kata Ardea, nada
suaranya menegas. “Itu adalah salah satu Jejak. Jejak dari dunia yang
pernah ada sebelum dunia kita dibangun ulang.”
Ravi mengernyit. “Dunia sebelum…
kita?”
Tapi Liora di mana?
Ardea menutup jarak satu langkah dan
suara hening malam mendadak terasa sangat tipis. “Ravi, apa kamu kira semuanya
dimulai dari sejarah yang diajarkan di sekolah? Dari nenek moyang, dari
kerajaan pertama, dari peradaban kuno?”
Ravi terdiam.
“Tidak,” lanjut Ardea. “Ada dunia
sebelum semuanya. Dunia yang ditutupi, diputus dari ingatan manusia. Dan jejak
dari dunia itu tersebar—berbahaya jika salah tangan menemukannya.”
Ravi menatap kompas itu. Mendadak ia
merasa berat, seperti memegang rahasia yang tidak seharusnya dimiliki seorang
remaja sebagaimana dirinya.
“Kenapa aku?” Ravi bertanya lirih.
Ardea memandangnya lama. “Karena
hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat bayangan masa lalu. Orang-orang seperti
kamu.”
Ravi menelan ludah. “Aku? Aku cuma
anak yang—”
“Tinggal di desa kecil? Tidak punya
siapa-siapa? Lebih sering dianggap aneh? Itu sebabnya justru kamu bisa
melihat.”
Ravi terpaku. Kata-kata itu
menghantamnya seperti sesuatu yang sangat pribadi.
Ardea membuka telapak tangannya.
Sebuah serpih logam kecil, berbentuk setengah lingkaran, melayang di atasnya.
Benda itu berputar pelan, memancarkan cahaya biru redup.
“Ini juga Jejak,” ucap Ardea. “Dan
seseorang—atau sesuatu—sedang mencari semua Jejak itu. Termasuk punyamu.”
Ravi menelan ludah. “Jadi makhluk
yang mengejarku malam pertama itu…”
Ardea mengangguk. Ravi pucat.
“Tapi kalau begitu,” gumam Ravi,
“kenapa kamu menolongku?”
Ardea menahan napas. Kedua matanya
bergetar kecil.
“Karena aku pernah seperti kamu,”
katanya lirih. “Dan karena… aku tahu apa yang terjadi jika kita terlambat.”
Untuk pertama kalinya, suara Ardea
terdengar rapuh. Ravi merasakan sesuatu di dadanya—kasihan, atau rasa ingin
tahu yang lebih dalam dari itu.
“Kita harus pergi,” lanjut Ardea
cepat. “Jejakmu sudah aktif. Mereka sudah merasakan keberadaannya.”
Ravi menatap hutan di sekeliling.
Sunyi. Terlalu sunyi.
“Kalau aku ikut… apa yang akan
terjadi?” tanya Ravi.
Ravi meneguk ludah.
Lalu, perlahan, ia menggenggam
kompas yang hangat itu.
“Kalau aku menolak?”
Ardea menatap lurus ke matanya.
“Mereka akan menemukanmu.”
Keheningan menelan ruang. Ravi
memejamkan mata sejenak, mengingat malam-malam penuh ketakutan, ingatan kabur
saat ia masih kecil, dan suara-suara samar yang selalu ia dengar.
Ketika ia membuka mata kembali,
keputusan itu sudah ada.
“Aku ikut.”
Ardea menarik napas, seolah
lega—atau justru khawatir lebih dalam.
“Baik,” ujarnya pelan. “Mulai
sekarang, Ravi, dunia yang selama ini kamu kenal… hanyalah permukaan.”
Ardea memberi isyarat supaya Ravi
mengikutinya.
Tapi sebelum mereka melangkah, suara
ranting patah terdengar dari arah gelap.
Suara berat. Perlahan. Menyeret
sesuatu.
Ravi merinding. Ardea memutar tubuh,
wajahnya menegang.
“Mereka sudah dekat,” bisiknya.

0 Komentar