BAYANGAN YANG MEMBURU
Suara itu—seretan berat yang
ritmenya lambat dan pasti—membuat Ardea menegang seperti batu. Ia meraih lengan
Ravi dan menundukkannya di balik batang pohon besar yang retak separuh.
“Diam,” bisiknya. “Mereka tidak
mencari jejak suara. Mereka mencari jejak napas.”
Ravi menahan napas. Dada terasa
panas.
Di balik pepohonan, dua sosok
muncul—lebih kecil dari Penjaga Arka Kuno yang ia lihat pertama kali, tetapi
tetap tidak bisa disebut manusia. Tubuh mereka seperti rangka yang diselubungi
kabut hitam, berjalan tanpa benar-benar menginjak tanah. Mata mereka menyala
merah redup, seperti bara yang hampir padam.
Langkah kedua makhluk itu berhenti.
Salah satu dari mereka menoleh ke arah Ravi.
Dalam sekejap, ia melesat—tidak
berlari, tapi seperti meluncur di atas tanah. Ardea mendorong Ravi keras ke
samping. Mereka berguling di tanah berpasir, sementara makhluk itu menabrak
pohon di belakang mereka hingga batangnya pecah.
“LARI!” teriak Ardea.
Mereka berlari menuruni celah bukit.
Angin malam terasa seperti pisau dingin yang mengiris kulit. Makhluk itu
menyusul, gerakannya seperti bayangan pecah yang menyatu kembali setiap
beberapa langkah.
Ardea mengambil sebuah batu dari
pinggangnya—batu kecil berwarna merah gelap—lalu melemparkannya ke tanah. Batu
itu pecah, dan cahaya merah menyembur, membentuk dinding tipis berpendar.
Pemburu Jejak berhenti mendadak,
seolah terhalang oleh sesuatu yang tak terlihat. Mereka mendesis marah.
“Batas. Sementara.” Ardea menarik
napas, wajahnya pucat. “Kita punya beberapa menit.”
Mereka berjalan cepat menyusuri
celah berbatu. Ravi menoleh.
Liora, kamu di mana?
“Temanmu tidak hilang,” Ardea seolah tahu yang dpikirkan Ravi. “Dia
ditarik.”
“Dit—tarik? Oleh siapa?!”
Ravi menelan ludah. “Apa maksudmu?”
“Jejak yang ada dalam dirimu…
menarik hal-hal tertentu. Menarik mata. Menarik penjaga. Dan menarik… sesuatu
dari sungai itu.”
Ravi
merasakan jantungnya berdebar lebih keras. “Liora dalam bahaya?”
Ardea menutup mata sebentar. “Jika
dia masih hidup, dia sedang berada di tempat yang tidak siap diterang oleh
cahaya.”
Ravi mengambil langkah maju. “Baik.
Aku cari dia.”
Ardea meraih lengannya. “Belum. Jika
kamu pergi sekarang, kamu tidak menemukan Liora. Kamu menemukan kematian.”
Ravi menepisnya. “Aku tidak peduli!”
Tiba-tiba—
Dua Pemburu Jejak tadi muncul kembali
di belakang mereka—dinding cahaya merah sudah retak.
Ardea mengumpat dalam bahasa yang
Ravi tak mengerti. “Mereka terlalu cepat.”
Ravi menoleh ke celah gelap di sisi
kiri. Lorong sempit, remang, dan penuh semak kering.
“Ke sana!” Ravi menunjuk.
Ardea terkejut. “Itu bukan jalan.
Itu kubangan sekali jalan.”
“Aku tidak tanya,” Ravi menggenggam
lengan Ardea. “Kamu ikut atau tidak?”
Ardea menatap mata Ravi, dan untuk
pertama kalinya sejak mereka bertemu… ia melihat kilatan tekad yang bukan milik
manusia biasa.
Lalu ia mengangguk.
Mereka berdua menyelinap ke dalam
lorong sempit itu, sementara Pemburu Jejak melesat masuk mengejar.
Namun suara desis Pemburu Jejak
mendekat lagi—
Bukan pemburu jejak. Bukan penjaga.
Bukan siapa. Atau apa?

0 Komentar