JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (6)

 

Es Es - Ikon Blog

BAYANGAN YANG MEMBURU

Suara itu—seretan berat yang ritmenya lambat dan pasti—membuat Ardea menegang seperti batu. Ia meraih lengan Ravi dan menundukkannya di balik batang pohon besar yang retak separuh.

“Diam,” bisiknya. “Mereka tidak mencari jejak suara. Mereka mencari jejak napas.”

Ravi menahan napas. Dada terasa panas.

Di balik pepohonan, dua sosok muncul—lebih kecil dari Penjaga Arka Kuno yang ia lihat pertama kali, tetapi tetap tidak bisa disebut manusia. Tubuh mereka seperti rangka yang diselubungi kabut hitam, berjalan tanpa benar-benar menginjak tanah. Mata mereka menyala merah redup, seperti bara yang hampir padam.

Ravi berbisik pada Ardea tanpa suara, hanya lewat gerak bibir:
“Siapa mereka?”

Ardea membalas tanpa menoleh:
“Pemburu Jejak. Penjaga tingkat kedua. Lebih cepat… dan lebih lapar.”

Langkah kedua makhluk itu berhenti. Salah satu dari mereka menoleh ke arah Ravi.

Ravi membeku.
Ardea meraih pundaknya kuat-kuat. “Jangan. Tarik. Napas.”

Tapi terlambat—sekilas saja Ravi menghela udara tanpa sadar…
Dan makhluk itu bereaksi.

Dalam sekejap, ia melesat—tidak berlari, tapi seperti meluncur di atas tanah. Ardea mendorong Ravi keras ke samping. Mereka berguling di tanah berpasir, sementara makhluk itu menabrak pohon di belakang mereka hingga batangnya pecah.

“LARI!” teriak Ardea.

Mereka berlari menuruni celah bukit. Angin malam terasa seperti pisau dingin yang mengiris kulit. Makhluk itu menyusul, gerakannya seperti bayangan pecah yang menyatu kembali setiap beberapa langkah.

Ardea mengambil sebuah batu dari pinggangnya—batu kecil berwarna merah gelap—lalu melemparkannya ke tanah. Batu itu pecah, dan cahaya merah menyembur, membentuk dinding tipis berpendar.

Pemburu Jejak berhenti mendadak, seolah terhalang oleh sesuatu yang tak terlihat. Mereka mendesis marah.

Ravi terpaku.
“Apa itu?!”

“Batas. Sementara.” Ardea menarik napas, wajahnya pucat. “Kita punya beberapa menit.”

Mereka berjalan cepat menyusuri celah berbatu. Ravi menoleh.

Liora, kamu di mana?

 “Temanmu tidak hilang,”  Ardea seolah tahu yang dpikirkan Ravi. “Dia ditarik.”

“Dit—tarik? Oleh siapa?!”

“Bukan siapa.” Ardea berhenti. Menatap Ravi dengan sorot yang membuat darah Ravi dingin.
“Tapi apa.”

Ravi menelan ludah. “Apa maksudmu?”

“Jejak yang ada dalam dirimu… menarik hal-hal tertentu. Menarik mata. Menarik penjaga. Dan menarik… sesuatu dari sungai itu.”

Ravi merasakan jantungnya berdebar lebih keras. “Liora dalam bahaya?”     

Ardea menutup mata sebentar. “Jika dia masih hidup, dia sedang berada di tempat yang tidak siap diterang oleh cahaya.”

Ravi mengambil langkah maju. “Baik. Aku cari dia.”

Ardea meraih lengannya. “Belum. Jika kamu pergi sekarang, kamu tidak menemukan Liora. Kamu menemukan kematian.”

Ravi menepisnya. “Aku tidak peduli!”

Tiba-tiba—

KRIIIK.
Suara ranting patah. Berat. Dekat.

Dua Pemburu Jejak tadi muncul kembali di belakang mereka—dinding cahaya merah sudah retak.

Ardea mengumpat dalam bahasa yang Ravi tak mengerti. “Mereka terlalu cepat.”

Ravi menoleh ke celah gelap di sisi kiri. Lorong sempit, remang, dan penuh semak kering.

“Ke sana!” Ravi menunjuk.

Ardea terkejut. “Itu bukan jalan. Itu kubangan sekali jalan.”

“Aku tidak tanya,” Ravi menggenggam lengan Ardea. “Kamu ikut atau tidak?”

Ardea menatap mata Ravi, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu… ia melihat kilatan tekad yang bukan milik manusia biasa.

Lalu ia mengangguk.

Mereka berdua menyelinap ke dalam lorong sempit itu, sementara Pemburu Jejak melesat masuk mengejar.

Namun suara desis Pemburu Jejak mendekat lagi—

Dan lorong itu mulai bergetar.
Ada sesuatu di ujungnya.

Bukan pemburu jejak. Bukan penjaga. Bukan siapa. Atau apa?

Sesuatu lain.
Yang seolah… menunggu mereka.


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar