Aku punya satu kejujuran yang paling
jujur: aku tidak jujur. Ini sebenarnya sederhana, tapi entah mengapa banyak orang merasa ini rumit.
Mungkin karena mereka lebih nyaman dengan kebohongan yang konsisten daripada
kejujuran yang berpotensi mengacaukan dunia. Dan, jujur saja—atau tidak jujur
saja—aku tidak bisa memutuskan yang mana yang sedang kulakukan saat ini.
Kalau aku mengatakan, “Aku tidak
jujur,” ada dua kemungkinan. Pertama, aku berkata benar. Tapi jika aku berkata
benar bahwa aku tidak jujur, berarti aku… sedang jujur. Dan jika aku jujur,
maka pernyataanku bahwa aku tidak jujur berubah menjadi kebohongan. Tapi kalau
itu bohong, berarti aku memang tidak jujur, yang berarti pernyataanku tentang
ketidakjujuranku sebenarnya benar.
Dan jika itu benar, lingkaran ini
berubah menjadi labirin yang kubangun tanpa denah, lalu aku masuk di situ dan
kemudian merasa tersesat di jalan yang benar. Atau malah, menemukan jalan yang
benar di tempat yang salah. Entahlah . . . . . .
Dan anehnya, semua ini terasa biasa
saja. Mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa hidup dalam ruang abu-abu—ruang
yang setiap dindingnya menempelkan tulisan: “Ini benar, tapi jangan percaya.”
Sebuah dekorasi interior yang sesuai untuk pikiran yang tidak lagi menganggap
lurus sebagai parameter moral, hanya sebagai arah kompas yang kebetulan ada.
Kau mungkin berpikir aku sedang
bermain kata. Dan itu benar—atau bohong. Terserah interpretasimu. Lagi pula,
kejujuran itu overrated. Orang-orang
selalu menuntutnya, padahal saat mereka mendapatkannya, mereka justru marah.
Lihat saja: ketika seseorang berkata apa adanya, dunia menyebutnya tidak sopan;
ketika seseorang menyembunyikan sedikit fakta, dunia menyebutnya manipulatif.
Maka aku memilih satu jalan yang paling aman sekaligus paling berbahaya: aku
jujur bahwa aku tidak jujur. Dengan begitu, orang bisa marah sekaligus
bingung. Sebuah kemenangan kecil dalam hidup yang terlalu sering membodohiku.
Ada ironi di sini. Orang yang
mengaku jujur biasanya tidak bisa dipercaya. Orang yang mengaku tidak jujur…
anehnya kadang lebih dipercaya. mungkin karena tak ada orang waras yang mau
mengakui kelemahannya kecuali dia benar-benar punya. Atau mungkin karena dunia
ini sudah terlalu kacau sehingga kejujuran dan kebohongan mulai tampak seperti
dua anak kembar yang selalu menukar nama demi iseng.
Dan aku berdiri di tengah-tengah
mereka. Tidak ingin memilih. Tidak perlu memilih. Mengapa harus memilih?
Mengakui tidak jujur sudah cukup membuatku jujur. Tapi menjadi jujur hanya
karena mengakui ketidakjujuranku membuatku… ya, tidak jujur lagi. Betapa
absurd. Betapa elegan. Betapa menyebalkan. Paradoks ini seperti bercermin di
ruangan yang penuh kaca: kau melihat dirimu berkali-kali, tapi tak ada satu pun
yang benar-benar kau percaya.
Sebagian orang mungkin ingin keluar
dari lingkaran logika yang saling memakan ini. Tapi bukan aku. Aku
menikmatinya. Karena di dunia yang memuja kepastian, paradoks adalah
satu-satunya bentuk kebebasan. Orang-orang sibuk mencari kebenaran yang stabil,
sementara aku menikmati ketidakpastian yang kukendarai seperti motor tua yang
bunyinya lebih keras daripada kecepatannya.
Jadi kalau kau bertanya siapa aku:
aku adalah seseorang yang mengatakan kebenaran yang menghantam balik dirinya sendiri.
Aku adalah pernyataan yang melawan pembuatnya, kalimat yang menikam dirinya di akhir tanda baca.
Dan jika setelah semua ini kau masih ingin percaya padaku… itu urusanmu. Aku sudah memberi peringatan sejak awal. Atau mungkin tidak. Siapa yang tahu? Aku tidak jujur. Katanya begitu. Atau setidaknya, begitu menurut kejujuranku.
------ next

0 Komentar