JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (12)

 

Es Es - Ikon Blog

KETIKA DUA DIRI SALING MENATAP

Cahaya itu meledak, tapi bukan dengan suara keras. Justru seperti hening yang dipaksa memekik—hening yang terlalu kuat hingga membuat telinga Ravi berdenging.

Ardea menutup mata Ravi, tapi terlambat.

Ravi sudah menatap sosok itu.

Arvun.

Bukan bayangan. Bukan ingatan. Bukan mimpi masa lalu.

Sosok itu—tingginya sama seperti manusia, namun gerakannya terlalu halus, terlalu ringan, seperti gravitasi enggan menyentuhnya. Matanya menyala biru pucat, memantulkan pola yang sama seperti garis cahaya di lantai ruangan.

Ia menatap Ravi seolah sudah menunggu sejak ribuan tahun.

Ardea menggenggam Ravi lebih erat. “Jangan dengarkan dia.”

Nadara mengarahkan pisaunya ke sosok itu, meski tangannya jelas bergetar.

Arvun melirik keduanya—sekilas saja—seakan mereka hanyalah gangguan kecil.

Kemudian ia kembali menatap Ravi.

“—Kau tidak harus takut kepadaku,” katanya, suaranya bergema di dalam kepala, bukan di udara. “Karena tanpa aku, kamu tidak pernah ada.”

Ravi menegang. “Aku bukan kamu.”

Arvun tersenyum samar, sebuah senyum yang anehnya tidak hangat, tapi juga tidak jahat—lebih seperti… pengetahuan yang terlalu besar untuk tubuh manusia.

“Tidak,” kata Arvun, “kamu bukan aku. Tapi kamu adalah ruang kosong yang dibuat dari sisa-sisaku.”

Ardea berseru, “Berhenti memanipulasi dia!”

Arvun menatap Ardea dengan dingin. “Kau… penjaga yang gagal. Kau tidak punya hak menyebutkan hal ‘memanipulasi’.”

Ardea terdiam. Nadara menyentuh bahunya, membuat Ardea tidak tersungkur oleh kata-kata itu.

Ravi mencoba berdiri, meski lututnya lemas. “Kalau kau memerlukan aku… untuk apa? Mengambil tubuhku?”

Arvun tertawa sangat pelan.

“Tentu tidak. Tubuhmu terlalu rapuh.”

Cahaya di sekitar Arvun meredup sedikit, namun cukup untuk memperlihatkan bahwa ia tidak sepenuhnya ‘hadir’. Kakinya tidak menyentuh lantai. Ujung jarinya sesekali berubah menjadi butiran cahaya.

Nadara memicingkan mata. “Dia tidak utuh.”

Ardea mengangguk pelan. “Dia hanya resonansi. Bukan tubuh nyata.”

Arvun mendengar itu. “Benar. Tapi resonansi pun bisa membangunkan yang tertidur.”

Sambil mengangkat tangan, Arvun menyentuh udara. Garis cahaya di lantai ruangan menyala ke arahnya—bagaikan jaring energi yang menunggu pemiliknya pulang.

Ravi menelan ludah. “Apa yang kau mau dariku?”

Arvun menghentikan gerakan tangannya. Ia menunduk sedikit, menatap Ravi seperti seorang orang tua melihat anaknya—namun tanpa kehangatan keluarga.

“Aku ingin kamu mengingat,” kata Arvun.

Ravi menggeleng keras. “Aku tidak punya ingatanmu!”

“Belum,” jawab Arvun. “Tapi jejak di dalammu tahu bagaimana caranya kembali.”

Ardea berdiri di depan Ravi. “Tidak akan kami biarkan!”

Arvun menggerakkan jarinya sedikit. Tanpa menyentuh, energi di ruangan bergeser—seperti udara berubah berat. Ardea terdorong mundur dua langkah, wajahnya menegang kesakitan.

“ARDEA!” Ravi meraih tubuhnya sebelum ia jatuh.

Arvun tampak tidak peduli. “Kau bukan bagian dari siklus ini, Ardea. Kamu hanya penjaga yang diberi tugas menjaga seseorang yang bahkan kamu tidak mengerti.”

Nadara maju. “Dan kamu bahkan tidak punya tubuh. Jangan sok berkuasa.”

Arvun menatap Nadara sejenak… dan seolah membaca sesuatu yang tersembunyi dalam dirinya. Mata Nadara melebar, ia bergeser mundur spontan.

“Apa pun yang kamu sembunyikan,” kata Arvun lirih, “tidak akan bertahan lama.”

Nadara memucat.

Ardea memaksa bangkit berdiri. “Sudah cukup! Ravi, kita pergi!”

“Tunggu.” Ravi memandang Arvun. “Jika aku pergi, kau akan mengejar kami?”

Arvun tersenyum tipis. “Aku tidak perlu mengejar. Jejak itu yang akan membawamu kembali.”

Cahaya di cekungan tengah ruangan mulai memudar. Sosok Arvun bergetar—seperti gambar hologram yang kehilangan sumber energi.

“Waktu saya tidak banyak,” katanya pelan. “Jadi dengarkan baik-baik…”

Ravi menahan napas.

Ardea meraih tangannya.

Nadara siap menyerbu, meski tahu itu sia-sia.

Arvun menatap langsung ke mata Ravi.

“—Ada sesuatu yang menunggumu di permukaan. Sesuatu yang lebih tua dari aku. Jangan percayai siapa pun yang mengaku tahu asal-usulmu.”

Kemudian, dengan suara terakhir yang terdengar seperti bisikan dari dasar ingatan manusia:

“Termasuk kedua orang di sampingmu.”

Cahaya padam.

Sosok Arvun lenyap.

Ruangan kembali gelap kecuali garis-garis samar di lantai yang perlahan memudar.

Keheningan menyelimuti mereka bertiga.

Ravi paling dulu memecahnya.

“Ardea… Nadara…” suaranya bergetar, “dia bohong… kan?”

Ardea membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.

Nadara menggenggam pisau lebih erat.

Dan untuk pertama kalinya, keduanya tampak sama-sama ketakutan.

Bukan pada Arvun.

Tapi pada apa yang akan terjadi pada Ravi setelah ini.


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar