KETIKA DUA DIRI SALING MENATAP
Cahaya itu meledak, tapi
bukan dengan suara keras. Justru seperti hening yang dipaksa memekik—hening
yang terlalu kuat hingga membuat telinga Ravi berdenging.
Ardea menutup mata Ravi, tapi
terlambat.
Ravi sudah menatap sosok itu.
Arvun.
Bukan bayangan. Bukan ingatan. Bukan
mimpi masa lalu.
Sosok itu—tingginya sama seperti
manusia, namun gerakannya terlalu halus, terlalu ringan, seperti gravitasi
enggan menyentuhnya. Matanya menyala biru pucat, memantulkan pola yang sama
seperti garis cahaya di lantai ruangan.
Ia menatap Ravi seolah sudah menunggu
sejak ribuan tahun.
Ardea menggenggam Ravi lebih erat.
“Jangan dengarkan dia.”
Nadara mengarahkan pisaunya ke sosok
itu, meski tangannya jelas bergetar.
Arvun melirik keduanya—sekilas
saja—seakan mereka hanyalah gangguan kecil.
Kemudian ia kembali menatap Ravi.
“—Kau tidak harus takut kepadaku,”
katanya, suaranya bergema di dalam kepala, bukan di udara. “Karena tanpa aku,
kamu tidak pernah ada.”
Ravi menegang. “Aku bukan kamu.”
Arvun tersenyum samar, sebuah senyum
yang anehnya tidak hangat, tapi juga tidak jahat—lebih seperti… pengetahuan
yang terlalu besar untuk tubuh manusia.
“Tidak,” kata Arvun, “kamu bukan
aku. Tapi kamu adalah ruang kosong yang dibuat dari sisa-sisaku.”
Ardea berseru, “Berhenti
memanipulasi dia!”
Arvun menatap Ardea dengan dingin.
“Kau… penjaga yang gagal. Kau tidak punya hak menyebutkan hal ‘memanipulasi’.”
Ardea terdiam. Nadara menyentuh bahunya,
membuat Ardea tidak tersungkur oleh kata-kata itu.
Ravi mencoba berdiri, meski lututnya
lemas. “Kalau kau memerlukan aku… untuk apa? Mengambil tubuhku?”
Arvun tertawa sangat pelan.
“Tentu tidak. Tubuhmu terlalu
rapuh.”
Cahaya di sekitar Arvun meredup
sedikit, namun cukup untuk memperlihatkan bahwa ia tidak sepenuhnya ‘hadir’.
Kakinya tidak menyentuh lantai. Ujung jarinya sesekali berubah menjadi butiran
cahaya.
Nadara memicingkan mata. “Dia tidak
utuh.”
Ardea mengangguk pelan. “Dia hanya
resonansi. Bukan tubuh nyata.”
Arvun mendengar itu. “Benar. Tapi
resonansi pun bisa membangunkan yang tertidur.”
Sambil mengangkat tangan, Arvun
menyentuh udara. Garis cahaya di lantai ruangan menyala ke arahnya—bagaikan
jaring energi yang menunggu pemiliknya pulang.
Ravi menelan ludah. “Apa yang kau
mau dariku?”
Arvun menghentikan gerakan
tangannya. Ia menunduk sedikit, menatap Ravi seperti seorang orang tua melihat
anaknya—namun tanpa kehangatan keluarga.
“Aku ingin kamu mengingat,” kata
Arvun.
Ravi menggeleng keras. “Aku tidak
punya ingatanmu!”
“Belum,” jawab Arvun. “Tapi jejak di
dalammu tahu bagaimana caranya kembali.”
Ardea berdiri di depan Ravi. “Tidak
akan kami biarkan!”
Arvun menggerakkan jarinya sedikit.
Tanpa menyentuh, energi di ruangan bergeser—seperti udara berubah berat. Ardea
terdorong mundur dua langkah, wajahnya menegang kesakitan.
“ARDEA!” Ravi meraih tubuhnya
sebelum ia jatuh.
Arvun tampak tidak peduli. “Kau
bukan bagian dari siklus ini, Ardea. Kamu hanya penjaga yang diberi tugas
menjaga seseorang yang bahkan kamu tidak mengerti.”
Nadara maju. “Dan kamu bahkan tidak
punya tubuh. Jangan sok berkuasa.”
Arvun menatap Nadara sejenak… dan seolah
membaca sesuatu yang tersembunyi dalam dirinya. Mata Nadara melebar, ia
bergeser mundur spontan.
“Apa pun yang kamu sembunyikan,”
kata Arvun lirih, “tidak akan bertahan lama.”
Nadara memucat.
Ardea memaksa bangkit berdiri.
“Sudah cukup! Ravi, kita pergi!”
“Tunggu.” Ravi memandang Arvun.
“Jika aku pergi, kau akan mengejar kami?”
Arvun tersenyum tipis. “Aku tidak
perlu mengejar. Jejak itu yang akan membawamu kembali.”
Cahaya di cekungan tengah ruangan
mulai memudar. Sosok Arvun bergetar—seperti gambar hologram yang kehilangan
sumber energi.
“Waktu saya tidak banyak,” katanya
pelan. “Jadi dengarkan baik-baik…”
Ravi menahan napas.
Ardea meraih tangannya.
Nadara siap menyerbu, meski tahu itu
sia-sia.
Arvun menatap langsung ke mata Ravi.
“—Ada sesuatu yang menunggumu di
permukaan. Sesuatu yang lebih tua dari aku. Jangan percayai siapa pun yang
mengaku tahu asal-usulmu.”
Kemudian, dengan suara terakhir yang
terdengar seperti bisikan dari dasar ingatan manusia:
“Termasuk kedua orang di sampingmu.”
Cahaya padam.
Sosok Arvun lenyap.
Ruangan kembali gelap kecuali
garis-garis samar di lantai yang perlahan memudar.
Keheningan menyelimuti mereka
bertiga.
Ravi paling dulu memecahnya.
“Ardea… Nadara…” suaranya bergetar,
“dia bohong… kan?”
Ardea membuka mulut, tapi tidak ada
suara yang keluar.
Nadara menggenggam pisau lebih erat.
Dan untuk pertama kalinya, keduanya
tampak sama-sama ketakutan.
Bukan pada Arvun.
Tapi pada apa yang akan terjadi pada
Ravi setelah ini.

0 Komentar