JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (14)

 

Es Es - Ikon Blog

 YANG MENUNGGU DI PERMUKAAN

Udara pertama yang menyambut mereka ketika keluar dari terowongan bukanlah udara segar.
Melainkan embusan angin dingin yang membawa bau tanah basah… dan sesuatu yang seperti logam terbakar.

Ravi tersungkur keluar lebih dulu, terengah-engah. Ardea menyusul, memegangi sisi kepala yang masih sakit akibat resonansi Arvun. Nadara muncul terakhir, berpaling cepat untuk memeriksa apakah terowongan itu ikut runtuh di belakang mereka.

Dari kejauhan, suara gemuruh terdengar—seolah sesuatu yang sangat besar sedang bergerak di bawah tanah, mengikuti mereka.

Nadara mendesis, “Apa pun itu… kita jangan sampai menunggu sampai dia keluar.”

Ardea mengangguk dan menarik Ravi berdiri.
Namun Ravi tidak menatap Ardea.

Ia menatap langit.

Langit yang seharusnya cerah kini diselimuti garis cahaya tipis, biru pucat, seperti retakan yang menyebar perlahan.

Dan suaranya—suara yang memanggil namanya di ruangan tadi—masih bergema samar di udara.

“Ravi… kembali…”

Ravi mundur setengah langkah, wajahnya pucat. “Itu bukan Arvun… bukan penjaga… siapa yang memanggilku?”

Ardea hendak menjawab, tapi sebelum ia sempat bicara, ranting di balik semak-semak bergerak.

Nadara langsung mengangkat pisaunya. Ardea merentangkan tangan ke depan Ravi.

Tapi Ravi mendengar sesuatu yang membuatnya membeku.

“Ravi…?”

Suara itu—serak, lemah, tapi sangat dikenalnya.

Ravi menoleh lebih cepat dari refleks manusia biasa.

“Liora?!”

Dari balik pepohonan, seorang gadis muncul sambil terhuyung—pakaian sobek, rambut basah oleh keringat dan tanah, wajahnya pucat namun matanya tetap sama: tajam, penuh tekad.

Liora nyaris jatuh sebelum Ravi menangkapnya.

“Aku cari kamu… dari sisi sungai… terus ke kaki bukit…” Liora terengah. “Penjaga itu—dia tidak menyerangku… dia mencari kamu…”

Ravi menegakkan tubuhnya, perasaan bersalah dan lega bercampur menjadi satu.
“Liora, aku kira kau—aku pikir kau—”

“Aku bukan semudah itu hilang,” Liora tersenyum lemah. “Aku cuma… sibuk mengalihkan sesuatu dari kamu.”

Ardea memicingkan mata. “Apa yang kau alihkan?”

Liora menatap Ardea, lalu Nadara, sedikit terkejut. lalu kembali ke Ravi.
Wajahnya berubah serius.

“Ada sesuatu yang bangun waktu kamu menyentuh jejak itu di sungai.”
Ia menelan ludah. “Aku mencoba menahannya… tapi itu bukan sesuatu yang bisa ditahan oleh manusia.”

Ravi menegang. Ardea juga.

Nadara perlahan menyarungkan pisaunya kembali, meski waspada.

“Apa yang kamu lihat, Liora?” tanya Ravi pelan.

Liora menggeleng pelan. “Bukan apa yang aku lihat.”
Ia menatap langit yang retaknya semakin jelas.
“Yang bangun… sekarang sedang melihat kamu.”

Seolah mengiyakan kata-katanya, tanah bergetar pendek—cukup untuk membuat daun-daun berguguran.

Ardea langsung menarik Ravi menjauh dari tepi bukit. Nadara bergerak melindungi sisi lain.

Namun Ravi tidak bisa melepaskan pandangannya dari Liora.

“Liora… bagaimana kamu tahu semua ini?”

Liora tersenyum muram. “Karena aku bukan cuma gadis yang kebetulan lewat hari itu.”

Ardea dan Nadara berhenti bergerak.

Ravi menelan ludah. “Maksudmu…?”

Liora menatapnya dengan mata yang kini tampak berbeda—bukan karena warnanya, tapi karena beban rahasia yang selama ini ia simpan sendirian.

“Ravi…”
Ia menarik napas.
“Aku adalah orang pertama yang menemukan tubuh lamamu.”

Semua hening.

Ardea terpaku. Nadara mengumpat pelan.
Ravi hampir merasa dunia membeku.

Liora melanjutkan dengan suara pelan namun tegas:

“Kau bukan hanya kembali.”
Matanya menatap langsung ke retakan biru di langit.
“Kau dibangunkan.”

Tanah bergetar lagi—lebih kuat.

Seolah sesuatu di bawah… atau di atas… sedang merespon kata-katanya.

Ravi mundur satu langkah, tubuhnya dingin.

“Liora…” suaranya pecah. “Apa maksudmu ‘tubuh lamaku’? Apa yang… yang sebenarnya aku ini?”

Liora membuka mulut.

Namun sebelum kata-kata itu keluar—

Suara dari dalam tanah, suara yang sama dari ruangan tadi, kembali terdengar.
Lebih jelas. Lebih dekat.

“Ravi… waktumu sudah habis…”

Ardea meraih pedangnya. Nadara bersiap.
Liora menggeser posisinya ke depan Ravi.

Dan langit—yang retaknya baru setipis rambut—meregang lebih lebar seolah sedang… membuka.


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar