YANG MENUNGGU DI PERMUKAAN
Ravi tersungkur keluar lebih dulu,
terengah-engah. Ardea menyusul, memegangi sisi kepala yang masih sakit akibat
resonansi Arvun. Nadara muncul terakhir, berpaling cepat untuk memeriksa apakah
terowongan itu ikut runtuh di belakang mereka.
Dari kejauhan, suara gemuruh
terdengar—seolah sesuatu yang sangat besar sedang bergerak di bawah tanah,
mengikuti mereka.
Nadara mendesis, “Apa pun itu… kita
jangan sampai menunggu sampai dia keluar.”
Ia menatap langit.
Langit yang seharusnya cerah kini
diselimuti garis cahaya tipis, biru pucat, seperti retakan yang menyebar
perlahan.
Dan suaranya—suara yang memanggil
namanya di ruangan tadi—masih bergema samar di udara.
“Ravi… kembali…”
Ravi mundur setengah langkah,
wajahnya pucat. “Itu bukan Arvun… bukan penjaga… siapa yang memanggilku?”
Ardea hendak menjawab, tapi sebelum
ia sempat bicara, ranting di balik semak-semak bergerak.
Nadara langsung mengangkat pisaunya.
Ardea merentangkan tangan ke depan Ravi.
Tapi Ravi mendengar sesuatu yang
membuatnya membeku.
“Ravi…?”
Suara itu—serak, lemah, tapi sangat
dikenalnya.
Ravi menoleh lebih cepat dari
refleks manusia biasa.
“Liora?!”
Dari balik pepohonan, seorang gadis
muncul sambil terhuyung—pakaian sobek, rambut basah oleh keringat dan tanah,
wajahnya pucat namun matanya tetap sama: tajam, penuh tekad.
Liora nyaris jatuh sebelum Ravi
menangkapnya.
“Aku cari kamu… dari sisi sungai…
terus ke kaki bukit…” Liora terengah. “Penjaga itu—dia tidak menyerangku… dia
mencari kamu…”
“Aku bukan semudah itu hilang,”
Liora tersenyum lemah. “Aku cuma… sibuk mengalihkan sesuatu dari kamu.”
Ardea memicingkan mata. “Apa yang
kau alihkan?”
Ravi menegang. Ardea juga.
Nadara perlahan menyarungkan
pisaunya kembali, meski waspada.
“Apa yang kamu lihat, Liora?” tanya
Ravi pelan.
Seolah mengiyakan kata-katanya,
tanah bergetar pendek—cukup untuk membuat daun-daun berguguran.
Ardea langsung menarik Ravi menjauh
dari tepi bukit. Nadara bergerak melindungi sisi lain.
Namun Ravi tidak bisa melepaskan pandangannya
dari Liora.
“Liora… bagaimana kamu tahu semua
ini?”
Liora tersenyum muram. “Karena aku
bukan cuma gadis yang kebetulan lewat hari itu.”
Ardea dan Nadara berhenti bergerak.
Ravi menelan ludah. “Maksudmu…?”
Liora menatapnya dengan mata yang
kini tampak berbeda—bukan karena warnanya, tapi karena beban rahasia yang
selama ini ia simpan sendirian.
Semua hening.
Liora melanjutkan dengan suara pelan
namun tegas:
Tanah bergetar lagi—lebih kuat.
Seolah sesuatu di bawah… atau di
atas… sedang merespon kata-katanya.
Ravi mundur satu langkah, tubuhnya
dingin.
“Liora…” suaranya pecah. “Apa
maksudmu ‘tubuh lamaku’? Apa yang… yang sebenarnya aku ini?”
Liora membuka mulut.
Namun sebelum kata-kata itu keluar—
“Ravi… waktumu sudah habis…”
Dan langit—yang retaknya baru
setipis rambut—meregang lebih lebar seolah sedang… membuka.

0 Komentar