JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (16)

 

Es Es - Ikon Blog

GEMA YANG MEMBANGUNKAN

Dunia seperti terhenti ketika suara itu—suara yang memanggil Ravi—menggulung dari langit dan menekan bumi. Cahaya gelap turun seperti tirai. Ardea memekik memanggil Ravi, Nadara menariknya, tapi tubuh Ravi seperti ditahan oleh gravitasi yang bukan milik dunia ini.

Dan saat sosok itu hampir menyentuh Ravi—

Liora berteriak.

Bukan teriakan manusia.
Suara itu seperti dua lapisan: suara Liora… dan suara lain yang lebih tua, lebih dalam, seperti gema dari ribuan tahun lalu.

Seberkas cahaya emas meledak dari telapak tangannya.

Cahaya itu menghantam bayangan kosmis tersebut, membuatnya surut seperti kabut yang tersengat matahari. Sosok itu merenggang, wajahnya retak-retak seperti kaca yang pecah.

“Tidak mungkin…” suara itu menggeram. “Keturunan itu… masih hidup?”

Liora jatuh tersungkur setelah ledakan cahaya itu, tetapi cahaya emasnya membuat entitas itu menjauh, seolah cahaya itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia.

Sebelum lenyap, sosok itu melontarkan satu kalimat:

“Ini belum selesai, Ravi… kau akan kembali padaku.”

Ravi langsung pingsan.

Ardea menggendongnya, Nadara menarik Liora yang kehabisan tenaga, dan mereka semua bergegas pergi sebelum retakan langit itu muncul kembali. Mereka berjalan sepanjang malam menuju reruntuhan yang mereka tahu cukup jauh dari titik jatuh entitas itu.

Saat Ravi tersadar beberapa jam kemudian, matahari sudah hampir tenggelam, dan mereka berada di depan tempat yang Nadara kenali sebagai:

Menara Ranuqta.

Reruntuhan kuno yang konon menyimpan gema ingatan masa-masa sebelum dunia ini dibagi menjadi dunia atas dan dunia bawah.


Hening malam menyelimuti reruntuhan Menara Ranuqta tempat Liora terakhir kali merasakan getaran aneh itu. Embusan angin membawa suara seperti bisikan—bukan suara manusia, melainkan gema yang terasa seperti memori yang tersangkut di udara.

Ravi berjalan paling depan dengan obor kecil di tangan. Nadara mengikuti sambil mencatat setiap simbol yang mereka temukan, sementara Ardea waspada di bagian belakang dengan tombak ringan miliknya. Sedang pedangnya sudah kembali ke sarungnya.

Liora berhenti mendadak.
“Apa kalian mendengar itu?” bisiknya.

Ravi menggeleng. “Tidak. Tapi aku mempercayaimu. Jelaskan.”

“Suara… seperti seseorang menyebut namaku. Berkali-kali. Tapi samar.”

Nadara segera mendekat. “Itu berarti fragmen ingatan dalam tubuhmu mulai terhubung dengan sumbernya. Semacam resonansi.”

Ardea mengernyit. “Pertanyaan besarnya—resonansi dengan siapa?”

Liora memejamkan mata, dan saat ia membukanya lagi, matanya tidak hanya tampak gelap—melainkan berlapis cahaya emas tipis, seperti kilauan matahari yang menolak padam.

“Aku tidak tahu,” jawabnya dengan suara rendah. “Tapi yang memanggilku… itu bukan manusia.”

Ravi merasakan sesuatu menusuk belakang pikirannya. Getaran yang sangat halus—hampir tidak ada, tapi cukup untuk mengingatkannya pada suara kosmis yang memanggilnya di langit sebelumnya.

“Kalau suara itu terkait dengan makhluk tadi… kita dalam masalah besar,” gumam Ardea.

“Tidak,” Liora menggeleng. “Ini berbeda. Makhluk itu… gelap. Suara yang memanggilku… tidak sama. Itu… hangat. Tapi asing.”

Nadara menatap Ravi dan Liora bergantian.
“Kalian berdua… mulai terseret pada sesuatu yang sama. Sesuatu yang lebih besar dari Arka, lebih tua dari para penjaga. Aku tidak tahu apakah ini pertanda baik… atau awal kehancuran.”

Ravi menelan ludah. “Apa pun itu, kita harus tahu.”

Liora menatap jauh ke puncak Menara Ranuqta.

“Jawabannya ada di atas sana.”

Ardea menghela napas. “Kalau begitu… kita naik.”

Dan mereka memulai pendakian menuju puncak menara yang disebut-sebut sebagai tempat di mana memori-memori dunia pertama masih bergetar—menunggu untuk ditemukan, atau… menunggu untuk membangunkan sesuatu.


back  ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar