GEMA YANG MEMBANGUNKAN
Dunia seperti terhenti ketika suara
itu—suara yang memanggil Ravi—menggulung dari langit dan
menekan bumi. Cahaya gelap turun seperti tirai. Ardea memekik memanggil Ravi,
Nadara menariknya, tapi tubuh Ravi seperti ditahan oleh gravitasi yang bukan
milik dunia ini.
Dan saat sosok itu hampir menyentuh
Ravi—
Liora berteriak.
Seberkas cahaya emas meledak dari
telapak tangannya.
Cahaya itu menghantam bayangan
kosmis tersebut, membuatnya surut seperti kabut yang tersengat matahari. Sosok
itu merenggang, wajahnya retak-retak seperti kaca yang pecah.
“Tidak mungkin…” suara itu
menggeram. “Keturunan itu… masih hidup?”
Liora jatuh tersungkur setelah
ledakan cahaya itu, tetapi cahaya emasnya membuat entitas itu menjauh, seolah
cahaya itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia.
Sebelum lenyap, sosok itu
melontarkan satu kalimat:
“Ini belum selesai, Ravi… kau akan
kembali padaku.”
Ravi langsung pingsan.
Ardea menggendongnya, Nadara menarik
Liora yang kehabisan tenaga, dan mereka semua bergegas pergi sebelum retakan
langit itu muncul kembali. Mereka berjalan sepanjang malam menuju reruntuhan
yang mereka tahu cukup jauh dari titik jatuh entitas itu.
Saat Ravi tersadar beberapa jam
kemudian, matahari sudah hampir tenggelam, dan mereka berada di depan tempat
yang Nadara kenali sebagai:
Menara Ranuqta.
Reruntuhan kuno yang konon menyimpan
gema ingatan masa-masa sebelum dunia ini dibagi menjadi dunia atas dan dunia
bawah.
Hening malam menyelimuti reruntuhan
Menara Ranuqta tempat Liora terakhir kali merasakan getaran aneh itu. Embusan
angin membawa suara seperti bisikan—bukan suara manusia, melainkan gema yang
terasa seperti memori yang tersangkut di udara.
Ravi berjalan paling depan dengan obor kecil di tangan. Nadara mengikuti sambil mencatat setiap simbol yang mereka temukan, sementara Ardea waspada di bagian belakang dengan tombak ringan miliknya. Sedang pedangnya sudah kembali ke sarungnya.
Ravi menggeleng. “Tidak. Tapi aku
mempercayaimu. Jelaskan.”
“Suara… seperti seseorang menyebut
namaku. Berkali-kali. Tapi samar.”
Nadara segera mendekat. “Itu berarti
fragmen ingatan dalam tubuhmu mulai terhubung dengan sumbernya. Semacam
resonansi.”
Ardea mengernyit. “Pertanyaan
besarnya—resonansi dengan siapa?”
Liora memejamkan mata, dan saat ia
membukanya lagi, matanya tidak hanya tampak gelap—melainkan berlapis cahaya
emas tipis, seperti kilauan matahari yang menolak padam.
“Aku tidak tahu,” jawabnya dengan
suara rendah. “Tapi yang memanggilku… itu bukan manusia.”
Ravi merasakan sesuatu menusuk belakang
pikirannya. Getaran yang sangat halus—hampir tidak ada, tapi cukup untuk
mengingatkannya pada suara kosmis yang memanggilnya di langit sebelumnya.
“Kalau suara itu terkait dengan
makhluk tadi… kita dalam masalah besar,” gumam Ardea.
“Tidak,” Liora menggeleng. “Ini
berbeda. Makhluk itu… gelap. Suara yang memanggilku… tidak sama. Itu… hangat.
Tapi asing.”
Ravi menelan ludah. “Apa pun itu,
kita harus tahu.”
Liora menatap jauh ke puncak Menara
Ranuqta.
“Jawabannya ada di atas sana.”
Ardea menghela napas. “Kalau begitu…
kita naik.”
Dan mereka memulai pendakian menuju
puncak menara yang disebut-sebut sebagai tempat di mana memori-memori dunia
pertama masih bergetar—menunggu untuk ditemukan, atau… menunggu untuk
membangunkan sesuatu.

0 Komentar